Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
“Itu adalah hari pertama Ana Maria menyadari arti kehadiran penjajahan Portugis di tanah leluhurnya”
Kalimat pembuka yang dipilih oleh Maria Matildis Banda berhasil menyentak kesadaran dan menyeret memori ingatan saya pada saat Indonesia dipaksa menelan pil pahit penjajahan kolonialisme. Sekiranya, itulah yang saya rasakan. Novel setebal v + 64 halaman, dengan dimensi 12 x 19 cm ini berhasil mengkoyak-koyak emosi saya.
Membaca Doben merupakan upaya pembaca menelusuri rasa sakit, terinjak, hingga kehilangan segala hal dari jarak yang begitu dekat. Doben sendiri merupakan novel yang direkomendasikan oleh salah satu sahabat saya di komunitas Narmada Bali. Salah satu novel yang habis dalam sekali duduk, namun mengungkap banyak persoalan di dalamnya.
Setidak-tidaknya terdapat 13 tokoh di dalamnya, dan berkonsentrasi pada dinamika kehidupan keluarga Martinyo dan Ana Maria. Mereka memiliki 3 orang anak—Antonio, Arnaldo, dan Susana. Penulis nampak mengambil seting tempat di Timor Portuguesa (Timor Leste sekarang), spesifiknya adalah Desa Lauhata Bazartete, Kecamatan Liquica, Kabupaten Dili. Sudut pandang orang ketiga menjadi pilihan utama penulis dalam proses kreatifnya. Saya rasa sudut pandang orang ketiga memang pilihan tepat, mengingat sudut pandang cerita yang disajikan begitu kaya, dan itu disampaikan melalui para tokoh-tokohnya.
Novel ini menggunakan alur maju mundur. Hal tersebut bisa dilihat dari satu narasi di halaman 5 yang berbunyi “Gumpalan awan menari-nari bersamanya, menggantung di atas desa yang sudah bergitu lama menyimpan duka Ana.”
Kalau dilihat dari kalimat di atas, bisa kita lihat bahwa penulis menggunakan pendekatan lewat indra penglihatan dan menjadikan alam sebagai media transisi waktu menuju masa lalu. Tidak hanya di bagian itu, beberapa kali penulis juga menggunakan pendekatan yang sama dalam melakukan transisi waktu, seperti di halaman 13 yang berbunyi “Tiba di sana dia duduk, sendirian di pondok di tengah kebun. Dalam kesunyian kebun dia dapat merasakan kembali hari-hari penuh tawa bersama aman, inan, kakak, dan adiknya.”
Hasrat Memiliki, Mendapat Penghargaan, dan Aktualisasi Diri
Penulis dalam ceritanya, secara terang menyampaikan konflik cerita melalui para tokohnya. Hasrat memiliki seseorang, harta, jabatan, hingga keinginan diakui oleh masyarakat menjadi titik-titik yang berhasil menghidupkan jalan cerita dan menimbulkan begitu banyak emosi dari para pembacanya. Dalam teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, dijelaskan lima hierarki kebutuhan yakni, kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Berangkat dari hal tersebut, berbagai kebutuhan tersebut menjadi sumber konflik dalam novel ini.
Seperti yang disajikan penulis pada halaman 6 “Pada mulanya hanya kepada Imelda dia pergi berkunjung dan membawa jagung dan kopi. Lama-kelamaan dia tidak hanya berkunjung tetapi juga berdagang. Imelda membantu menjual jagung dan kopi ke biara atau membawanya ke Atambua.” Kalimat tersebut menjadi titik awal konflik di mana Martinyo menjadi kambing hitam atas aktivitasnya yang sering melewati perbatasan—artinya kebutuhan fisiologis yang meliputi pangan, sandang, papan menjadi titik awal konflik cerita.
Selanjutnya, bisa kita lihat pada halaman 16 “Letnan Rudolf datang dari Dili. Hari itu pengakuan Martinyo harus ditandatangani untuk dikirim ke Portugal. Keberhasilannya membongkar kasus pembangkangan rakyat di Provinsi Seberang Lautan, apalagi berhasil menangkap tokoh di baliknya, akan memuluskan jalannya ke jenjang kepangkatan yang lebih tinggi. Dia dapat segera pulang ke Lisboa, tanah Eropa yang dapat menyuguhkan segala kenikmatan dunia ini dengan lebih mudah. Tidak terbelenggu di Timor Leste.”
Paragraf tersebut bisa kita terjemahkan bahwa seorang Letnan Rudolf mengejar rasa aman dan nyaman dengan kembali ke tanah kelahirannya, mengingat kondisi politik di Timor Leste yang terus bergejolak. Tidak hanya itu, ia juga mengejar penghargaan untuk dirinya—kenaikan pangkat adalah sebuah penghargaan yang ia kejar dengan mengorbankan Martinyo sebagai kambing hitam. Dalam paragraf tersebut pun bisa kita cerna bahwa di masa penjajahan, tidak ada ruang dan waktu yang aman untuk pihak terjajah.
Teori hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow juga bisa kita simak di halaman 19 “Satu hal lagi. Dulu, berkali-kali kau minta kepada Aman untuk merestui keputusanmu untuk berhenti kerja disini. Akan tetapi, Aman keras kepala, selalu ingin melihat kau kerja jadi pegawai pemerintahan, mengangkat derajat keluarga kita, disegani, dan ditakuti.”
Apa yang disampaikan Martinyo pada Arnaldo, anaknya di dalam ruang penyekapan mengindikasikan bahwa keinginan orang tua untuk disegani oleh masyarakat sekitar yang bisa diwujudkan oleh anaknya—kebutuhan sosial pun menjadi awal mula konflik, setidaknya konflik yang berkecamuk dalam diri Arnaldo yang sesungguhnya enggan untuk bekerja di ruang lingkup pemerintahan.
Tidak Selamanya Rumah Adalah Tempat Paling Aman
Berbagai konflik yang dihadirkan oleh tokoh-tokoh sentral dalam novel Doben ini sekiranya berhasil menyuguhkan satu pandangan baru bahwa rumah yang notabene adalah tempat yang seharusnya aman dan nyaman untuk pulang, nyatanya di beberapa kasus berlaku sebaliknya. Pengkhianatan untuk memuluskan hasrat maupun ego individu akhirnya memecah keutuhan keluarga.
Besarnya hasrat Antonio memiliki seorang Putri Penguasa Timor menggiringnya untuk bekerja sama dengan Letnan Rudolf. Kegagalannya menyelamatkan Aman, dan kenekatannya menjual adiknya sendiri adalah bentuk ambisinya untuk memiliki Putri Penguasa Timor tersebut. Drama pun terjadi, berbohong pada Ana Maria (ibunya) juga ia lakukan yang pada akhirnya menyebabkan kondisi rumah tidak lagi nyaman layaknya masa silam, yang sempat disuguhkan oleh penulis pada halaman 13.
Tidak hanya pengkhianatan. Pengorbanan juga sarat ditampilkan dalam novel ini. Martino, Arnaldo, dan Susana adalah tokoh-tokoh yang mengambil peran tersebut. Pengorbanan yang diperuntukkan untuk mewujudkan rasa aman keluarganya yang sedang berada di bawah ancaman penjajah. Khusus untuk Doben, seekor kuda yang begitu setia dengan majikannya, telah membuka mata kita bahwa sejatinya rasa kemanusiaan tidak hanya dimiliki oleh manusia, tetapi juga seekor kuda. [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...