Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Akademisi Program Studi Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Udayana menawarkan alat pengering cabai berbahan bakar gas LPG. Alat yang dirancang para dosen ini ditawarkan dan diperkenalkan kepada petani di Banjar Sekartaji, Desa Sesandan, Tabanan, Selasa (28/9/2021).
Pengering cabai berbahan bakar gas LPG ini diharapkan dapat membantu petani memproduksi cabai kering, sehingga tidak ada cabai busuk karena saat musim panen produksi cenderung melimpah.
“Kelompok tani Sekarning Jati yang ada di desa tersebut, 80% di antaranya memilih membudidayakan tanaman cabai. Pada kondisi normal, hasil panen cabai petani berlimpah. Namun, di sisi lain, seringkali harga cabai biasanya cenderung turun” kata Ketua Tim Pengabdi Program Studi Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Udayana, Dr. I Gde Antha Kasmawan, S.Si., M.Si.
Menurut Antha, secara prinsip teknik pengeringan merupakan upaya untuk mengurangi kadar air cabai sehingga dapat memperlama daya simpan cabai dan dapat meningkatkan keawetannya. Upaya ini diharapkan dapat membuat harga cabai menjadi lebih stabil di pasaran sehingga baik konsumen maupun petani cabai tidak merasa dirugikan.
Antha mengungkapkan berdasarkan uji coba alat, cabai rawit matang dan cabai rawit mentah mengalami penyusutan rata-rata masing-masing sebesar 80% dan 90%. Perbedaan warna produk cabai sangat kontas, produk cabai rawit merah berwarna cerah sedangkan produk cabai rawit hijau berwarna kusam.
Selama proses pengeringan cabai tersebut, banyaknya gas LPG yang dihabiskan rata-rata sebanyak 0,55 kg atau kalau diuangkan menghabiskan biaya sekitar Rp 3.300. Dengan asumsi bahwa gas LPG sebanyak 3 kg dihargai Rp 18.000.
“Biaya sebesar ini lebih murah jika dibandingkan dengan biaya pengeringan cabai secara konvensional dan juga lebih efisien karena waktu yang diperlukan lebih singkat sekitar 6 jam, dibandingan cara konvensional yang menghabiskan waktu selama 7-10 hari” papar Antha.
Alat pengering cabai yang dirancang oleh Dr. I Gde Antha Kasmawan, S.Si., M.Si bersama Dr. Ngurah Sutapa, S.Si., M.Si, I Made Yuliara, S.Si., M.T, Dra. Ni Nyoman Ratini, M.Si, Ir. Winardi Tjahjo Baskoro, M.T, dan Ni Luh Putu Trisnawati, S.Si., M.Si memiliki ukuran alas 80 cm x 50 cm dan tinggi 120 cm. Menggunakan kombinasi 90% bahan logam dan 10% kayu.
Pada bagian dalam alat tersebut berisi enam slot tempat nampan diletakkan. Kapasitas daya tampung alat adalah sekitar 6-8 kg cabai mentah. Sebagai sumber panas, alat tersebut menggunakan satu sumbu kompor gas yang terhubung langsung dengan sebuah tabung gas LPG melalui selang gas yang dilengkapi dengan regulator. [T][*/mul]
BACA JUGA:

Kelompok Petani Muda “Boom Sakalaka”, Menjadikan Lele Sebagai Tuan Rumah di Bali



Selamat Pagi Burung Hantu di Banjar Pagi, Selalulah jadi Sahabat Petani…
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...