Yang Baru dan Yang Hilang di Pesta Kesenian Bali 2019
Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019 ini menampilkan sejumlah fakta-fakta baru yang membuat PKB tahun ini terkesan agak-agak berubah. Ada yang baru, ada juga yang hilang. Ap...
April 2012, Payung Teduh yang beranggotakan Is pada gitar dan vokal, Ivan pada guitarlele dan terompet, Cito pada drum dan Comi pada contra-bass merilis album studio keduanya bertajuk "Dunia Batas", sebagai lanjutan dari album pertamanya yang dirilis pada tahun 2010.
Sejalan dengan nama bandnya, Payung Teduh (dalam album ini) menyuguhkan musik yang benar-benar adem, lirik-liriknya yang begitu romantik berhasil membuat saya terkagum-kagum dibuatnya serta aksen dari guitarlele dan terompetnya Ivan yang nyaris membuat saya benar-benar berara di dunia lain— magis.
Lagu pertama yang saya kenal pada album ini tak lain tak bukan berjudul "Untuk Perempuan yang sedang dalam Pelukan", dari judulnya saja sudah begitu puitis! Yang kadang-kadang membawa pikiran ini kembali ke cinta di masa putih abu dahulu, sangat nostalgis.
"hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau, sedang cantik-cantiknya"
Mari kita sejenak mengapresiasi betapa eloknya larik ini, pasti para perempuan pasti akan sangat terpukau jika lelaki mengungkap ini; bahkan bintang-bintangpun sembunyi malu karena ia merasa kalah cantik oleh salah satu penghuni bumi yang jauh di sana.
Dengan petikan yang bagai angin sepoi di sore hari, berhasil membuat saya jatuh cinta dengan Payung Teduh, menuju perjalanan lain menelusuri seluruh lagu di album ini.
Tema tentang kehidupan keseharian, percintaan, alam hingga kematian tergambar di album ini. Jikalau kalian sedang kasmaran, album ini mestinya wajib ada di daftar putar ulang kalian.
Selanjutnya ada 'Berdua Saja', lagu yang terkesan 'sepi' ini membuat saya sebagai pendengarnya terhipnotis selama empat menit. Dibuka dengan melodi yang adem, lagu yang dibalut dengan kata-kata yang sederhana tapi 'menusuk' ini berhasil membuat saya ingin cepat-cepat menyatakan cinta kepada seseorang— sebelum semua berujung tragis seperti 'Resah'
"Malam jadi saksinya Kita berdua di antara kata Yang tak terucap
Mungkinkah kita ada kesempatan Ucapkan janji Takkan berpisah selamanya?"
Tak hanya tentang cinta, Payung Teduh secara mengejutkan juga memasukan lagu tentang kematian yang tragis di dalam album ini. Diberi judul 'Resah', lagu ini diawali dengan humming 'parara', jujur lagu ini yang membuat saya merinding, apalagi saat menonton konsernya secara langsung, memberikan pebgalaman yang sangat menakjubkan dalam hidup saya.
"Aku ingin berdua denganmu Di antara daun gugur Aku ingin berdua denganmu Tapi aku hanya melihat keresahanmu"
Lagu berikut ini menurut saya merupakan lagu yang sangat adem, nuansanya seperti sedang tidur terlentang dengan tangan terlipat di belakang kepala, di dataran tinggi daerah Bandung Utara, dengan sedikit teh tawar hangat menemani. Judulnya adalah 'Rahasia' yang juga menjadi lagu terpanjang dalam album ini.
"Untuk itu semua aku mencarimu Berikan tanganmu jabat jemariku Yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu"
Tak hanya lagu-lagu yang membuat pendengarnya kenikmatan hingga terkantuk-kantuk, Dunia Batas ini juga menyajikan lagu-lagu yang asik untuk menemani pinggul yang sedikit ingin bergoyang, seperti 'Angin Pujaan Hujan' dan 'Menuju Senja' yang keduanya dibalut irama keroncong dengan guitarlele dan terompetnya.
Kemudian yang terakhir ada 'Di Ujung Malam' dan 'Biarlkan' yang kumplit membuat Album ini sebagai album folk favorit penulis. Nuansa magis ditawarkan melalui musik hingga liriknya, seperti benar-benar berada di Dunia Batas— di alam imaji para personil Payung Teduh ini.
Sebagaimana interpretasi, album ini menurut saya adalah fragmen-framen di bentangan memori luas; tentang tempat, tentang sosok, tentang pengalaman, tentang segala sesuatu yang pernah menancap di dalam kepala ini, yang mungkin tidak pernah saya lupakan karena ia melekat pada nada dan alunan gitar di album Dunia Batas, terima kasih Payung Teduh.
“Tak ada sore dan udara menjadi segar
Tak ada gelap lalu mata enggan menatap
Tak ada bintang mati butiran pasir terbang ke langit
Tak ada fajar hanya remang malam
Semua tlah hilang terserah matahari”
- Payung Teduh - Rahasia
Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019 ini menampilkan sejumlah fakta-fakta baru yang membuat PKB tahun ini terkesan agak-agak berubah. Ada yang baru, ada juga yang hilang. Ap...
Kopi adalah salah satu minuman favorit bagi orang banyak. Tapi tidak bagi saya. Meskipun saya ini anak dari seorang buruh kopi (buruh ya, bukan pengusaha), sedikitpun saya tidak t...
“Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat” Bagaimana bisa? Bukankah raga dan pikiran satu kesatuan? Keduanya telah membangun jiwa kita atau akan mengakhirinya pula. Raga yang...
Ngunda Bayu adalah sebuah teknik rahasia dalam tari Bali dan juga diyakini harus dikuasai oleh seorang penari Bali. Ngunda Bayu ialah pengaturan nafas untuk mengendalika...
Para seniman rakyat dari kepulauan Nusa Penida yang mewakili Kabupaten Klungkung memberi warna lain pada pawai Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 di sekitaran Lapangan Bajr...
Kebiasaanku jalan kaki rata-rata 10.000 langkah sehari, main tenis dua kali seminggu, menyapu halaman rumah dan jalan di depan rumah, serta beraktifitas dengan anjing peliharaan d...
Cerpen: Ayu Sugiharti Pratiwi ___ “Bli De, Bli De…” Sudah sejak bangun tidur Gek Istri menyebut-nyebut nama suaminya sambil memetik daun bambu dari pohon yang menyelinap...
ASYIK bercakap dengan Prof. Timbul Haryono (arkeolog UGM), Prof F.X. Mudji Sutrisno (filsuf dan romo), Prof Sumarsam (maestro gambelan, guru besar Wesleyan University), di lobby T...
BENTENG Mayat yang tertidur itu kaku. Tak terkubur tak berumur. Ia telah mengenal kekalahan dengan nafsi, dan tahu pasti, ia akan segera dihukum mati Tetapi ia t...
Dunia medis identik dengan keseriusan. Kalau anda meragukannya, mungkin anda akan dibilang kurang waras. Bahkan kalau anda menanyakannya langsung pada mereka, barangkali jaw...