Cerpen: Ayu Sugiharti Pratiwi
___
“Bli De, Bli De…”
Sudah sejak bangun
tidur Gek Istri menyebut-nyebut nama suaminya sambil memetik daun bambu dari
pohon yang menyelinap ke jendela kamarnya. Sudah hampir dua hari Made Arya tak
pulang ke rumah dan sejak saat itu Gek Istri hanya melihat keluar dari jendela
kamarnya, memandangi awan yang berarak membentuk berbagai macam bayangan
seperti benda-benda yang dikenalnya.
Kemarin gumpalan awan
membentuk bebek yang berenang, kepala kuda, kuping gajah dan banyak lagi! Gek Istri
bertepuk tangan riang, ia bagaikan anak kecil tumben pergi ke kebun binatang
saja.
Dan hari ini awan
membentuk wajah Komang, wajah Gek Istri takjub lalu berseri-seri
“Mang, Komang!”
Komang yang lucu,
berkulit eksotis, manis sekali. Gek Istri membelai rambut hitamnya. Sudah lama
ia tak mengecup ubun-ubun Komang. Dulu hampir setiap pagi Gek Istri akan
mengelus Komang dahulu bahkan sebelum membangunkan suaminya untuk berangkat bekerja.
Komang itu adiknya Made
Arya, baru dikenalkan setelah mereka memadu kasih selama 3 bulan. Gek Istri
sempat kaget sekali ketika pertama kali bertemu dengan Komang, karena Bli Made
sangat berbeda dengan Komang yang mungil dan pemalu. Bli Made perawakannya
kekar dan wajahnya tegas, sedangkan Komang manis sekali dan sayu seakan-akan
ingin tertidur sepanjang hari.
Made sangat menyayangi
Komang, kemana-mana ia selalu diajak. Made memperkenalkan Komang pada banyak
wanita tapi tak ada satu pun yang benar-benar memikat hatinya sampai ia bertemu
dengan Gek Istri, hingga Komang menyetujui pernikahan Bli-nya dengan gadis menak
itu.
Ketika pertama kali
melihat Gek Istri di Pasar Kalibukbuk, Komang-lah yang memberi tahu Made Arya
tentang keberadaan gadis berkulit kuning itu. Komang tak mampu menahan diri
betapa ia terpesona ketika gadis itu membelai rambut panjangnya sambil sesekali
menyentuh-nyentuh timun di depannya dan menawar harga dengan pedagang.
Komang menarik-narik Made
bagai anak kecil yang ingin dibelikan permen oleh bapaknya. Permen itu kali ini
cantik sekali, sepertinya kalau digigit, manis tubuhnya akan lumer di lidahnya.
Komang tak pernah menginginkan permen manapun tapi ia berpikir jika gadis ini
adalah permen yang diinginkan kakaknya, si Made Arya.
Made Arya perlahan
turun dari sepeda motornya, melepaskan helm dan mengambil kunci motornya dengan
mata yang masih melekat pada Gek Istri. Matanya bertualang dari rambut hitam
Gek Istri sampai berlalu lalang di seputaran bibirnya yang merekah bagai delima
masak. Made Arya berjalan lurus ke arah di mana Gek Istri sedang berbelanja.
Saking lurusnya, Made berkali-kali tak sengaja menambrak rombong bakso dan dadong-dadong penjaja buah.
“Aduhh, ampura, Bu! Ampura!”
Walau sambil minta maaf
tapi mata Arya masih tak ingin kehilangan sosok ranum Gek Istri yang sedang
berpindah ke penjual daging ayam. Langkah dramatis Made Arya yang mendekati Gek
Istri membuat Komang tegang. Ia ingin bersembunyi tapi ia tak sabar ingin
mengintip pula apa yang akan terjadi. Komang sangat tidak tahan dengan
adegan-adegan semacam ini, tubuhnya menjadi keras menegang karena gugup.
Pada malam Purnama sasih ke dasa, ketika seluruh keluarga
besar Puri Agung bersembahyang di merajan, Made Arya melarikan Gek Istri.
Selendang perada Gek Istri terjatuh
di hadapan Ratu Betara Dewa Banaspati,
seakan-akan beliau tak sanggup menahan Gek Istri, tak sanggup memisahkan tuan
putrinya dari laki-laki titisan Arjuna itu. Pada malam itu juga, ketika penyeroan Gek Istri sudah tak mampu
menemukannya di sekitaran Puri, dengan sambil menangis Dadong Taman bersimpuh menghadap Ratu Gung Biang hingga setelah
mengungkapkan sebaris kalimat Ratu Biang pingsan seketika.
Setelah menikah selama
dua tahun tanpa restu kedua orang tua Gek Istri, hubungan suami istri mereka
tak lagi harmonis, apalagi romantis. Made belum bisa menghilangkan kebiasaannya
yang bercinta dengan banyak gadis. Mencicip sana sini.
Dua hari yang lalu ketika
malam tanpa bintang, Gek Istri menatap suaminya yang menghadap ke cermin yang
cukup besar untuk memuat seluruh bayangnya di sana. Gek Istri mencoba acuh
sambil melipat selimut.
“Mau ke mana, Bli?”
Laki-laki itu tak menjawab terus bersiul-siul
pelan sambil menyisir rambutnya yang pekat. Ia mendesah pelan, lalu duduk
dengan selimut masih di dekapannya.
“Mau menemui siapa, Bli?”
Made Arya membenarkan
kerah kemejanya kemudian berpaling ke meja sambil mengemasi dompet dan
mengenakan jam tangannya.
“Aku tak pulang malam ini,
jangan tunggu aku,” ujar Made hambar tak menatap Gek Istri.
“Bli akan menemui
wanita itu lagi?” suara Gek Istri meninggi,
Made menolehnya tapi tak
bergeming
“Oh maaf, maksudku
wanita-wanita itu!” ralat Gek Istri sambil tersenyum sarkastik
“Bukan urusanmu, dan
pelankan suaramu,” Made mencari-cari jaketnya di lemari sambil mengumpat
“Kenapa bukan urusanku?
Aku istrimu, Bli!” Gek Istri mengikuti langkah Made, kemudian suaminya berbalik
menghadapnya
“Kamu sudah tahu kan
aku akan ke mana, pelankan suaramu sebelum orang tuaku terbangun,” kata Made
geram. Orang tua Made Arya, Pan Merta dan Men Merta tinggal bersama mereka di
rumah mungil ini.
“Baiklah, tapi jangan
ajak Komang,” suara Gek Istri memelan
“Kamu sudah gila? Aku
tak bisa tinggalkan Komang hanya berduaan denganmu!”
“Mengapa begitu? Aku
takkan membiarkan Komang menemui wanita-wanita sundal itu!”
“Kamu gila!” Made mengancingkan jaketnya dengan
kesal lalu menuju pintu.
“Bli De, tinggalkan
Komang bersamaku!”
“Tidak akan!” Made
menepis tangan Gek Istri dan menghempaskannya ke kursi.
“Bli De!! Tinggalkan
Komang di sini!” teriak Gek Istri histeris.
Tiba-tiba petir
menggelegar lalu hujan lebat berjatuhan, Gek Istri dengan berlinang air mata
masih memeluk kursi menoleh ke jendela.
“Oh… jadi aku tak usah
menangis ya,” kata Gek Istri sambil menyeringai perlahan.
Tuhan memang seniman
yang sangat luar biasa, pelukis ulung. Langit adalah kanvasnya, awan menjadi
catnya dan kuasnya adalah angin. Setelah puas melihat-lihat galeri lukisan-Nya,
Gek Istri menggelung rambut panjangnya sambil menatap suaminya di atas tempat
tidur. Rambut hitam Gek Istri yang tipis dan berkilau itu adalah warisan Ratunini Oma.
Dulu rambutnya sering
diminyaki dengan akar tumbuhan yang digoreng untuk diambil minyaknya. Wangi
rambutnya istimewa, ketika mencium harumnya maka kau bagaikan berada di hutan
yang penuh dengan kayu-kayu besar. Rambut itu adalah satu-satunya warisan yang ia
dapat dari keluarganya yang kaya raya, penguasa gumi Utara.
Pada pagi yang masih buta
Made Arya datang dengan kepala sempoyongan dan bergumam yang tidak-tidak. Ia
langsung berbaring di tempat tidur dan terlelap hanya dengan hitungan detik.
Gek Istri pelan-pelan mengemasi kain-kain dan selendangnya, ia sudah hendak
pergi lalu berbalik lagi.
“Ah, hampir aku
melupakan Komang..” bisik Gek Istri.
Dengan berjingkat,
dengan kaki-kakinya yang membisu, ia menggenggam Komang, tak ingin
membangunkannya.
Made Arya terbangun
dengan keadaan pening dan lemas, rasanya seluruh tubuhnya habis terkoyak badai.
Tak seletih ketika ia pulang tadi pagi. Ada bagian yang perih. Ia merintih
sambil mencoba bangkit dari tidurnya
“Aduh..duh…!”
Sudah dua hari dua
malam Made Arya berpesta dengan teman-teman wanitanya. Mabuk-mabukan semalam
suntuk dan bercinta sampai larut. Pantas saja ia merasa badannya sangat lelah
dan pedih. Made Arya perlahan membuka matanya dan berusaha bertumpu pada
sikunya, sementara tangan kanannya mencoba memegang apa saja di dekatnya.
Sambil mengumpat pelan,
Made berhasil meraih meja di samping tempat tidurnya. Ia mencoba turun dari
tempat tidur tapi tak sanggup menggerakkan kakinya. Setelah menggeser
pinggulnya, hampir saja Made terjatuh. Matanya meloncat. Ia melihat darah segar
yang sempat mengalir ke ujung kakinya mulai mengering.
Ia merasa telah
kehilangan sesuatu yang selama ini begitu perkasa di pangkal pahanya. Made
meraba-raba dengan kasar dan kontan saja berteriak. Benda tumpulnya yang
berharga telah direnggut oleh benda tajam.
“Arghhh! Komaannggg…!”
Pan Merta dan istrinya
berhamburan ke kamar Made.
“Ada apa De? Ada apa?”
Wajah Meme-nya pucat pasi ketika melihat darah
di tempat tidurnya.
“Darah siapa itu?” Meme bertanya dengan histeris.
“Komang hilang, Me!
Tadi dia ada di sini!” Made berteriak menjadi-jadi dan hampir menangis.
“Siapa Komang?” Bapa tak mengerti tapi mencoba
melepaskan sprai tempat tidur untuk membungkus Made yang berdarah.
“Adikku!”
“Tapi kamu tidak punya adik, De!”
Mei-Juni 2014