Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Kisah-kisah di sebuah desa tani atau desa agraris, nyata atau imajiner, selalu menarik untuk dibaca dan didengar. Tokoh-tokohnya seakan datang dari masa lalu, meski misalnya ia hidup di zaman modern ini. Tokoh-tokoh yang diciptakan seperti fosil hidup, atau seperti mumi petani yang hidup kembali di tengah kebun dan sawah.
Latar ceritanya juga seperti itu. Alam, tumbuhan, gunung, rumah di tengah sawah, parit, dan pohon besar, seakan-akan hanya ada di masa lalu, padahal di sejumlah desa agraris di Tabanan, terutama di lereng-lereng Gunung Batukaru, semua benda itu masih utuh hingga kini. Entahlah nanti-nanti.
Cerita-cerita dari desa agraris semacam itulah yang ada dalam buku kumpulan cerpen berbahasa Bali yang berjudul “Punyan Kayu Ane Masaput Poleng di Tegal Pekak Dompu” karya I Gusti Bagus Weda Sanjaya.
Buku ini adalah pemenang dari Lomba Gerip Maurip 2021 yang digelar Penerbit Pustaka Ekspresi, Bali. Terdapat 13 cerpen yang beberapa di antaranya telah dibuat tahun 2010-an.
“Seluruh cerpen itu berlatar Desa Kawiswara, sebuah desa kecil di kaki Gunung Batukaru. Merupakan penggambaran imajiner desa saya sendiri di lereng selatan Gunung Batukaru di Tabanan,” kata Weda Sanjaya tentang buku cerpennya itu.
Weda Sanjaya, atau biasa ditulis dengan nama IGB Weda Sanjaya, memang berasal dari desa yang masih asri di Tabanan. Di desa itu sawah masih memanjang dan melebar seakan-akan tembus di Gunung Batukaru. Kehidupan warga di desa itu tetap memiliki tipikal kehidupan masyarakat agraris, meski sebagian warga sudah merantau ke kota, tidak bekerja lagi jadi petani, dan hanya sesekali pulang kampung.
“Sebagian besar ide cerita adalah kejadian-kejadian di desa,” lanjut Weda Sanjaya.
Weda Sanjaya pun sebenarnya tak bisa lagi dikatakan sebagai lelaki desa. Ia menjadi guru di SMAN Bali Mandara, Singaraja, dan tinggal di Singaraja. Pergaulannya sangat luas, meski tipikal sebagai warga desa tak bisa ia tinggalkan. Desa sepertinya sangat melekat dalam dirinya, sehingga cerita-cerita yang diciptakan pun tak bisa lepas dari tema desa. Apalagi dibuat dalam bahasa Bali, sungguh, si pembaca seperti sedang berada di sebuah pondok di tengah sawah dengan angin gunung yang merayap di pipi.
Cerpen yang judulnya digunakan sebagai judul buku, yakni “Punyan Kayu Masaput Poleng di Tegal Pekak Dompu” sangat mewakili apa yang hendak disampaikan Weda Sanjaya. Punyan kayu (pohon besar), saput poleng (kain belang hitam-putih), tegalan (kebun), dan nama tokoh Pekak Dompu, dipastikan menyeret pembaca ke sebuah desa masa lalu, meski belum membaca cerpen itu.
Nah, imaji-imaji tentang masa lalu itulah yang kemudian dibenturkan dengan kondisi zaman masa kini, di mana investasi adalah segalanya. Punyan kayu digesek mesin senso dan rebah, saput poleng bisa digantikan spanduk promosi vila, dan kebun berubah petak-petak rumah.
Kata Weda, khusus cerpen Pekak Dompu itu ditulis dalam rangka lomba cerpen Bulan Bahasa Bali 2020. Karena temanya "Ngertiang Natah miwah Tanah Bali", ia mencoba mengangkat isu alih fungsi lahan di Bali. “Semakin banyak berdiri perumahan-perumahan, dan bagaimana gejolak masyarakat Bali di desa menghadapi masuknya investor?” kata Weda.
Cerpen lain juga ada yang bicara soal fenomena yang tak lekang dari zaman dulu hingga zaman kini, yakni perselingkuhan. Misalnya dalam cerpen “Memen Tiange Demen Memitra” (Ibu Saya Suka Selingkuh).
“Saya paling suka cerpen itu,” kata Weda Sanjaya.
Cerpen itu ditulis, kata Weda, karena ia ingin mengantarkan pesan bahwa dalam kasus perselingkuhan, tidak selalu lelaki adalah pelaku dan wanita adalah korban.
Cerpen itu bercerita tentang tokoh anak lelaki yang dari kecil telah mengetahui ibunya sering memitra alias selingkuh. Selingkuhannya dari berbagai profesi, dari tukang sapu di SD, supir bemo, teman kerja buruh bangunan, hingga sosok-sosok dari profesi lain.
Tapi setelah lama akhirnya tak pernah ada info tentang selingkuhan ibunya dan ibunya mulai mendalami kegiatan-kegiatan kerohanian. Namun suatu ketika saat ulang tahun ibunya yang ke-60, dia mendapati ibunya punya selingkuhan lagi.
Akhirnya diberanikan dirinya untuk menanyai ibunya, namun ia tak menemukan alasan yang tepat kenapa ibunya selingkuh. Lelaki itu berbicara pada ayahnya, ternyata ayahnya telah mengetahui sejak lama perselingkuhan itu, dan memilih untuk diam karena mencintai ibunya.
Lelaki itu menjadi galau, tak mungkin bercerita aib ibunya kepada istri dan anaknya. Karena tidak dapat menahan sendiri, akhirnya dia bercerita pada Mang Yulia, selingkuhannya.
Itu akhir cerpen yang benar-benar tak terduga.
Menurut Weda Sanjaya, setelah selesai menulis, ada keraguan untuk menerbitkannya karena takut kelemahan pembaca adalah menganggap cerita sebagai curhatan pengalaman dan kemudian menganggap itu adalah kejadian nyata di keluarga. “Tapi karena sangat senang dengan alur ceritanya, saya bulatkan tekad untuk menerbitkannya,” tuturnya.
Weda Sanjaya menulis sastra pertama kali tahun 2009, saat mendapat kuliah dari Wayan Artika. Sampai semester 6 kuliah di jurusan Bahasa Bali ia belum memiliki pandangan pada bahasa dan sastra Bali. Untuk itulah, akhirnya ia mulai menulis puisi Bali dan dimuat di Bali Post tahun 2009.
Cerpen bahasa Bali pertama kali dimuat 2010. Kemudian 2011 mulai vakum menulis, dan 2016 kembali menulis karena ada media Suara Saking Bali asuhan Putu Supartika.
“Sebagian besar cerpen saya mengangkat tema sosial, sebagai media kritik terhadap kejadian-kejadian di masyarakat,” kata Weda Sanjaya.
Terus berkarya, Gus! [T]
Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...