Tak Terasa Hari Raya di Kota Denpasar
PAGERWESI, 10 September 2025 hari ini, yang semestinya dirayakan dengan penuh semangat, berubah menjadi air mata duka. Bencana banjir, untuk kesekian kalinya, merendam sebagian wi...
Kegiatan berkesenian tak pernah padam, meski terganjal situasi yang tak menentu akibat pandemi Covid-19. Lihat saja. Perupa Ketut Sugantika Lekung menggelar pameran tunggal secara virtual. Kali ini, Lekung lebih merespon physiological.
Pameran digelar 8 - 19 -Agustus 2021 dan bisa dilihat di laman facebook Sugantika Lekung setiap hari. Author pameran Luh Budiaprilliana, M.Sn., dengan opened by Yoka Sara (art & architechture).

Penulis pameran Luh Budiaprilliana, staf Dosen ISI Denpasar, menyebutkan Lekung sebagai salah satu saksi dan pelakon yang melebur pada tradisi, menyatu melalui budaya lisan, budaya tindakan, bahkan hingga tinggalan-tinggalan kesenian yang berdampingan dalam hidupnya.
Bukan sekadar lagi di panggung untuk bercerita dengan banyak mendefinisi. Sedikit cerita yang dilisankan, namun banyak yang menjadi bentukan dari cerminan diri lewat perjalanan kehidupan itu sendiri.
“Apa yang disampaikan terkesan HANYA ITU/THAT’S IT tanpa persoalan apa-apa yang pada masa kini sering kita sebut UDAH, GITU AJA seakan begitu ringan, remeh, sepele dan tidak banyak ambil pusing namun justru sebuah kalimat jitu dengan simpulan maksud bahwa telah melampaui berbagai seluk beluk cerita dan remah-remahnya,“ ujar Luh Budiaprilliana.
Tidak repot menampilkan objek-objek yang cerewet, kata Luh Budiaprilliana, seperti sedang membuat pernyataan besar “UDAH, GITU AJA”. Sekilas tidak bicara banyak justru bermakna besar seperti ukuran objek yang dibuat memenuhi ruang karya. Banyak cerita yang bebas juga untuk diterka oleh audience, pun ruang luas untuk mengenang masing- masing cerita baik bagi audience maupun si seniman itu sendiri.

Pameran ini mempertegas bahwa “UDAH, GITU AJA” yang dinyatakan sesungguhnya hanya cara Lekung menyampaikan capaian eksplorasinya secara sederhana tanpa banyak kompromi.
Ketut Sugantiuka Lekung menjelaskan satu pukulan pertanda bahwa lewat kesederhanaan visualisasi karya yang minimalis, kesan THAT’S IT pada pameran ini mengandung kompleksitas tentang perjalanan hidup yang dilakoni. “Sederhananya dalam era kini pun, apa yang melebur lewat pengalaman hidup bukan lagi perkara untuk sibuk hanya sekedar dibahas dan dikupas lewat pisau-pisau ilmiah mumpuni,“ kata Lekung.
Sementara Yoka Sara penggiat Seni dan Arsitektur melihat kehadiran penjelajahan Lekung terkesan selalu “Woowww”. Kali ini di luar dari biasa, dimana pada satu titik tertentu dia berani untuk berhenti dan mengambil sari dari penjelajahannya yang tanpa batas, kemudian menyederhanakannya dari semua chaos dalam pikirannya, rasanya seperti pembebasan dari segala pengekangan yang dia abaikan, kemudian disimpulkan secara positif dan playfull, seolah setiap masalah itu bukan masalah.
“Tapi tentunya masing-masing dari kita pastinya akan memperoleh pengalaman dan perspektif yang berbeda bila kita bisa luangkan sejenak waktu kita untuk berada di hadapan karya-karya ini, dimana kita dibebaskan untuk jujur dan seluasnya menafsirkan, “ ujarnya.

PAGERWESI, 10 September 2025 hari ini, yang semestinya dirayakan dengan penuh semangat, berubah menjadi air mata duka. Bencana banjir, untuk kesekian kalinya, merendam sebagian wi...
LUH Mas Sri Diana Wati, perempuan asal Kaliasem, Buleleng, itu, banyak menorehkan medali emas di Cabang olahraga Muaythai. Prestasinya tak hanya di dalam negeri, tetapi juga luar...
People do not make revolution eagerly any more than they do war. … A revolution takes place only when there is no other way out. … The masses advance and retreat several times bef...
BALI Bike Festival tahun 2025 menjadi festival yang berbeda, karena memadukan olahraga, seni, kuliner, hingga musik dalam satu perayaan penuh energi. Festival ini menghadirkan rat...
Orang asing tidak boleh punya tanah dengan status Hak Milik di Indonesia, kenapa? Apa bedanya dengan orang Indonesia? Teruss, kalau mau punya rumah bagimana? Pertanyaan-pertany...
SELAMA berkuliah di Program Studi Sastra Jawa Kuno, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, saya dan kawan-kawan telah banyak dibekali pengetahuan. Pengetahuan yang diberikan o...
MENYUSURI tiga puluh dua karya yang dipajang dalam pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (30 Agustus-04 September) ini akan membawa kita pada pengalama...
DI kalangan mahasiswa, ada benda yang hampir tak pernah sekalipun absen dari keseharian, apa lagi jika bukan tas. Entah disampirkan di bahu atau digendong di punggung, tas menjadi...
MUNGKIN agak spekulatif, tapi ini bukan lelucon. Di tahun 2024, Tim Coulson dalam sesi wawancara dengan media London, The European, mengatakan bahwa gurita adalah kandidat yang le...
DI sebuah panggung berhias cahaya obor, jemari seorang penari legong bergetar lincah, setiap lirik matanya seolah menebar mantra yang membuat penonton terpesona. Di sudut lain pul...