SELAMA berkuliah di Program Studi Sastra Jawa Kuno, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, saya dan kawan-kawan telah banyak dibekali pengetahuan. Pengetahuan yang diberikan oleh para dosen beragam. Mulai dari selayang pandang karya sastra Jawa Kuno, teori penelitian sastra dan apresiasi terhadap karya sastra Jawa Kuno.
Mengenai kakawin dari semester awal kami dibekali cara menembangkannya (apresiasi) dalam mata kuliah apresiasi kakawin. Mencoba untuk menelaah kakawin di mata kuliah menyimak kakawin. Serta di penghujung semester ini, kami dibekali mengenai bahasa Jawa Kuno Kakawin.
Pengampu mata kuliah ini adalah Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suarka, M.Hum dan Dewa Ayu Carma Miradayanti, S.S.,M.Hum. Ini adalah pertemuan kedua kami. Sebagai pengantar kuliah ibu Mira (panggilan akrab kami kepada beliau) memberikan penjelasan mengenai pemahaman mendasar terhadap kakawin.
Pada dunia sastra modern kakawin dipadankan dengan puisi. Sebab ketika seseorang mengarang kakawin ia diikat oleh aturan konvensi yang melekat pada kakawin. Seperti larik, matra, rima, dan bait. Aturan tersebut cukup dekat dengan puisi sebagai karya sastra yang telah lumrah. Namun yang termasuk puisi pada karya sastra Jawa Kuno tidak hanya kakawin. Selain itu terdapat sastra kidung, yang notabena dikatakan sebagai karya sastra murni nusantara.
Kakawin sebaga karya sastra yang menempati posisi tertinggi dalam kancah Jawa Kuno, bukan tanpa alasan. Sebab kakawin merupakan karya sastra tertua yang mendokumentasikan bahasa Jawa Kuno. Hal tersebut dibuktikan dengan Kakawin Ramayana yang ditemukan pada abad ke-9. Kepengarangan kakawin di Jawa Tengah kemudian berpindah ke daerah Jawa Timur, dan bertahan hingga abad ke-15 pada periode terakhir Majapahit.
Pembahasan dilanjutkan pada pembentukan kata kakawin. Kakawin diambil dari bahasa sanskerta ‘kavya’ yang telah diserap ke dalam bahasa Jawa Kuno menjadi ‘Kawi’. Kawi berarti ‘penyair’. Kemudian kata tersebut mendapatkan prefiks (awalan) ‘ka’ dan akhiran ‘en’ sehingga menjadi ‘kakawi-en’. Karena suatu proses persandian (meleburnya dua vokal yang bertemu) kata ‘kakawi-en’ menjadi ‘kakawin’. Karena perubahan bentuk tersebut kakawin pun memiliki makna yang berbeda yakni merujuk pada karya sastra puisi yang lahir pada jaman Jawa Kuno, dan terinspirasi dari kaidah metrum india.
Walaupun kaidah metrum india mekelat pada kakawin, terdapat beberapa metrum yang tidak ada pada kaidah metrum india. Sehingga sebagai karya sastra Nusantara ia dapat membedakan dirinya dengan ‘kavya’ tradisi india.
Situasi proses pembelajaran di kelas. Sumber: Penulis
Di sela pemaparan, Ibu Carma mengajak kami untuk berdiskusi tentang apa saja ciri-ciri bahasa Jawa Kuno Kakawin. Seluruh mahasiswa mulai mempersiapkan jawabannya, dan menulis jawaban tersebut di papan yang telah tersedia. Dari hasil diskusi tersebut maka terdapat sembilan ciri-ciri bahasa Jawa Kuno Kakawin. Yakni: dalam satu bait kakawin terdiri dari empat baris.
Baris pertama disebut pangawit, baris kedua bernama mingsalah, baris ketiga bernama pangumbang, dan baris keempat adalah pamada. Terdapat satu jenis bait kakawin yang terdiri dari tiga baris disebut dengan raitiga. Diikat oleh konvensi yang terdiri dari guru-lagu, wretta, candha, gana. Umumnya menceritakan kisah kepahlawanan (wiracarita). Dapat berbentuk naratif atau deskriptif. Dapat dilantunkan atau ditembangkan. Banyak menggunakan bahasa kias, dan lain sebagainya.
Dari ciri-ciri tersebut, yang paling menonjol adalah sastra kakawin memiliki nilai estetika dan memiliki aturan dalam mengarangnya. Nilai estetis tersebut tercermin dari penggunaan figur of speech atau gaya bahasa. Ibu Mira kemudian menerangkan mengenai berbagai bentuk gaya bahasa secara umum. Gaya bahasa dalam dunia kakawin disebut dengan alangkara. Pada dunia kakawin sendiri terdapat dua jenis gaya bahasa, yakni sabda alangkara (permainan bunyi)dan artha alangkara (majas). Pada pemaparan kali ini, gaya bahasa yang dijelaskan adalah artha alangkara yakni permainan arti kata atau majas.
Penjabaran tersebut kemudian diikuti dengan contoh pada beberapa kutipan bait kakawin. Seperti pada Kakawin Sumanasantaka, terdapat metafora yang membandingkan bibir dengan tunas katirah (amrang bang ing katirah arja hane latinta) yang berarti merahnya tunas katirah yang indah tertera di bibirmu. Selain itu majas jenis simile juga terdapat pada kakawin Sumanasãntaka, seperti (asri warna nirararas kadi saroja kinelabaken ing ryak ing banyu) yang berarti, dia cantik, dan semenawan bunga seroja yang terombang-ambing air beriak. Selain dua contoh sebelumnya, masih terdapat berbagai jenis majas pada Kakawin Sumanasataka.
Di akhr pembelajaran untuk menguji pemahaman dari para mahasiswa, kami diberikan tugas rumah. Tugas tersebut berupa kutipan baris kakawin berjumlah sepuluh soal. Semua mahasiswa tertawa, sangat bahagia dengan tugas kesekiannya. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...