Kelak Apakah Jokowi Tak Berkenan Dikenang Sebagai Penyair?
Fakta, tak berselang lama setelah Presiden Jokowi meluncurkan “kabinet kerja”nya pada akhir Oktober 2014 lalu, saya juga mengumumkan peluncuran buku puisi saya yang kedua, Mencari...
“Dalam timbunan sampah masih kau berucap
bahwa hidup perlu dimaknai
tidak cukupkah dengan sebuah pengakuan
bahwa sejatinya dirimu adalah dirimu,”
orang-orang di pinggir hati itu menggerutu
sambil menghirup kenikmatan semu.
Ia telah jalani mencari jalan
yang ujungnya di belahan jantung
tak ada kata hanya sunyi
mencari nama diri
“Namamu terukir dengan kata cinta
namamu kuucap dengan kata bisu
namamu terasa tanpa rasa
namamu tersenyum tanpa kumaknai”
orang-orang di pinggir hati itu
menghitung denyut jantungnya
dengan hitungan tanpa angka
Ia berlari sambil memegang harapannya
entah kapan sunyi akan menjemputnya?
ia tersenyum mencari-cari dirinya
yang mengental dalam lipatan-lipatan
yang membisu karena menanti itu
bukankah jalannya.
Semarapura, 2021
lukisan hitam putih yang kupesan
terpasung di dinding hati
ia pancarkan irama tanpa alur
kupajang sepanjang ini
kunikmati serasa melati
memutih mewangi
apakah akan abadi?
entah kenapa angin menggoyangkan
“Lihat! Aku semakin usang
kau lupa mencerahkan
hingga buram tanpa terbaca”
Aku tersenyum
“Akan kuberi warna baru
yang tak sewarna lagi denganmu
biarkan saja seperti itu
karena kau sudah berlalu”
“Tidak!Tidak! Beri aku warna
yang berwarna
yang menerangi kanvasnya
hingga aku lebur padamu
hingga aku selalu merindu
merindu hati yang menyendiri.”
Semarapura, 2021
“sitangsu janganlah berduka
kalau kecantikanmu kunikmati malam ini
sumpahku yang mengikatnya
sumpah itu suci mesti kutepati
kala yang merundukkanmu.
“sitangsu beragam purnama kulewati
tuk cumbui indah wajahmu,
tapi kau selalu berkata
bahwa aku bukan pilihanmu
aku cemburu sitangsu
kau bercengkerama dengan wisnu, surya,
tapi denganku kau palingkan muka.
hari ini milikku, sitangsu
kunikmati indahmu dalam temaran
tak usah bersedih karena sedih itu
tak mengubah jalanmu”
kalarau terus berguman
ia kaget saat percumbuannya
mesti berakhir tanpa akhir.
“Ah, ketungan itu, membangunkan
keterikatan mengikatku.”
Purnama Sadha, 2021
____
Fakta, tak berselang lama setelah Presiden Jokowi meluncurkan “kabinet kerja”nya pada akhir Oktober 2014 lalu, saya juga mengumumkan peluncuran buku puisi saya yang kedua, Mencari...
Ketika cara dominasi melalui ototarian telah usang, hegemoni menjadi cara yang paling ampuh untuk menguasai kaum marginal. Apa dominasi, apa hegemoni? Dominasi identik dengan keker...
Selain DKI Jakarta, sebenarnya banyak daerah bersiap menggelar Pilkada serentak, Februari 2017, termasuk Buleleng, Bali, daerah kelahiran saya. Namun perhatian orang di Indonesia i...