Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
“Dalam timbunan sampah masih kau berucap
bahwa hidup perlu dimaknai
tidak cukupkah dengan sebuah pengakuan
bahwa sejatinya dirimu adalah dirimu,”
orang-orang di pinggir hati itu menggerutu
sambil menghirup kenikmatan semu.
Ia telah jalani mencari jalan
yang ujungnya di belahan jantung
tak ada kata hanya sunyi
mencari nama diri
“Namamu terukir dengan kata cinta
namamu kuucap dengan kata bisu
namamu terasa tanpa rasa
namamu tersenyum tanpa kumaknai”
orang-orang di pinggir hati itu
menghitung denyut jantungnya
dengan hitungan tanpa angka
Ia berlari sambil memegang harapannya
entah kapan sunyi akan menjemputnya?
ia tersenyum mencari-cari dirinya
yang mengental dalam lipatan-lipatan
yang membisu karena menanti itu
bukankah jalannya.
Semarapura, 2021
lukisan hitam putih yang kupesan
terpasung di dinding hati
ia pancarkan irama tanpa alur
kupajang sepanjang ini
kunikmati serasa melati
memutih mewangi
apakah akan abadi?
entah kenapa angin menggoyangkan
“Lihat! Aku semakin usang
kau lupa mencerahkan
hingga buram tanpa terbaca”
Aku tersenyum
“Akan kuberi warna baru
yang tak sewarna lagi denganmu
biarkan saja seperti itu
karena kau sudah berlalu”
“Tidak!Tidak! Beri aku warna
yang berwarna
yang menerangi kanvasnya
hingga aku lebur padamu
hingga aku selalu merindu
merindu hati yang menyendiri.”
Semarapura, 2021
“sitangsu janganlah berduka
kalau kecantikanmu kunikmati malam ini
sumpahku yang mengikatnya
sumpah itu suci mesti kutepati
kala yang merundukkanmu.
“sitangsu beragam purnama kulewati
tuk cumbui indah wajahmu,
tapi kau selalu berkata
bahwa aku bukan pilihanmu
aku cemburu sitangsu
kau bercengkerama dengan wisnu, surya,
tapi denganku kau palingkan muka.
hari ini milikku, sitangsu
kunikmati indahmu dalam temaran
tak usah bersedih karena sedih itu
tak mengubah jalanmu”
kalarau terus berguman
ia kaget saat percumbuannya
mesti berakhir tanpa akhir.
“Ah, ketungan itu, membangunkan
keterikatan mengikatku.”
Purnama Sadha, 2021
____
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...