“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Singaraja Dikepung Banjir. Begitu judul sebuah berita koran Jumat (9/4/2021). Dan seperti biasa, berita lantas menyampaikan rumah-rumah terendam, air setinggi satu atau dua meter, motor mogok di jalan, tembok jebol dan sampah berserakan di jalan.
Ya, Akibat hujan deras, Kamis (8/4/2021) sore hingga malam, kota Singaraja memang dikepung banjir. Dan itu bukan hanya terjadi tahun ini saja. Kejadian itu sudah berulang-ulang terjadi.
Karena sudah merupakan musibah rutin yang terjadi setiap tahun, maka mengatasi banjir seakan menjadi agenda rutin baik masyarakat maupun pemerintah daerah. Itu sebabnya dalam APBD selalu ada mata anggaran untuk mengatasi banjir, minimal anggaran untuk perbaikan drainase.
Perkembangan pesat perkotaan umumnya ditandai dengan semakin banyaknya bangunan permanen, baik rumah penduduk, komplek perumahan, perkantoran dan gedung-gedung. Tingginya pertambahan penduduk di daerah yang cendrung pesat perkembangannya membutuhkan ketersediaan lahan.
Selain ketersediaan lahan untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut, karakteristik bangunan di kawasan perkotaan umumnya adalah bangunan dengan ciri khas beton. Hal itu menyebabkan daya resap tanah terhadap air semakin kecil.
Semakin sempitnya lahan menyebabkan permukaan tanah semakin sedikit. Lahan terbuka yang semakin sedikit itu daya serapnya terhadap air hujan juga sedikit karena tertutup beton dan semen. Karena itu kalau hujan tiba, air tak terserap ke dalam tanah. Tetapi mengalir ke drainase, tetapi kalau tanpa diimbangi dengan penataan dan penyiapan drainase yang memadai maka genangan bahkan banjir tidak dapat dielakkan.
Hari-hari belakangan inilah potensi banjir di sejumlah kota termasuk Singaraja di Buleleng menjadi ancaman nyata. Hujan yang terus-menerus menyebabkan banjir di beberapa lokasi di Buleleng.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dan mengatasi banjir. Dari pembenahan drainase, penanganan sampah, pembuatan tanggul hingga normalisasi kali sebagaimana cara-cara yang dianjurkan para akademisi. Tetapi yang masih jarang dilakukan adalah pembuatan lubang-lubang resapan biopori.
Cara ini sudah lama diketahui publik, tetapi belum banyak yang melakukannya. Padahal cara ini dinilai paling mudah dan murah, entah mengapa belum dilakukan secara maksimal. Lubang biopori adalah sebuah metode untuk meningkatkan daya resap pada tanah. Lubang ini berbentuk silidris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah.
Metode resapan air ini ditunjukkan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Lubang biopori memiliki ukuran tertentu yang telah ditentukan, misalnya kedalaman 70 cm hingga satu meter dengan diameter 10 atau 16 cm.
Pembuatan biopori menggunakan alat khusus yang diciptakan oleh pakar IPB. Biopori nantinya ditutup dengan sampah organik yang berfungsi sebagai penyerap air ke tanah dan membuat kompos alami. Sebagian orang menganggap bahwa lubang resapan ini sama dengan sumur resapan. Padahal ahli-ahli yang berkompeten menyatakan lubang biopori beda dengan sumur resapan, meski sama-sama diarahkan untuk mengurangi potensi banjir atau genangan.
Dari beragam penjelasan mengenai kedua resapan dapat diperoleh gambaran bahwa dari segi lebar dan kedalaman ada perbedaan cukup mencolok. Lubang resapan atau biopori umumnya bergaris tengah (diameter ) 10 hingga 16 cm dengan kedalaman maksimal 100 cm. Sedangkan sumur resapan memiliki kediameteran 100 cm, kedalamannya juga lebih dari 100.cm dengan ditambah komposisi kerikil, ijuk, jerami, pasir, batu bata merah dan batok kelapa.
Lubang biopori dan sumur resapan itu berfungsi menampung air hujan kemudian menyerap ke tanah. Dengan menyerapkan air di musim hujan maka genangan akan berkurang.
Pakar ekologi tanah IPB dan penemu teknologi biopori Dr Ir Kamir R Brata MSc pernah mengemukakan, kapasitas beban resapan lubang biopori (volume air yang masuk dibagi luas permukaan dinding) sekitar 25 liter per meter persegi, jauh lebih kecil dibandingkan sumur resapan yang kapasitas bebannya 250 liter per m2.
Kapasitas daya serap itu lumayan untuk mengurangi potensi genangan saat musim hujan karena itu mengurangi potensi banjir dengan pembuatan biopori tampaknya sedang di gencarkan di Buleleng. Menciutnya kawasan hutan dan kawasan terbuka hijau di Buleleng untuk perluasan lahan pertanian, permukiman, perkantoran, pertokoan, dan prasarana jalan mengakibatkan berkurangnya resapan air ke tanah. Ini perlu kembali dipertegas aturan tentang kesadaran lingkungan. [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...