17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Singaraja Dikepung Banjir. Begitu judul sebuah berita koran Jumat (9/4/2021). Dan seperti biasa, berita lantas menyampaikan rumah-rumah terendam, air setinggi satu atau dua meter, motor mogok di jalan, tembok jebol dan sampah berserakan di jalan.
Ya, Akibat hujan deras, Kamis (8/4/2021) sore hingga malam, kota Singaraja memang dikepung banjir. Dan itu bukan hanya terjadi tahun ini saja. Kejadian itu sudah berulang-ulang terjadi.
Karena sudah merupakan musibah rutin yang terjadi setiap tahun, maka mengatasi banjir seakan menjadi agenda rutin baik masyarakat maupun pemerintah daerah. Itu sebabnya dalam APBD selalu ada mata anggaran untuk mengatasi banjir, minimal anggaran untuk perbaikan drainase.
Perkembangan pesat perkotaan umumnya ditandai dengan semakin banyaknya bangunan permanen, baik rumah penduduk, komplek perumahan, perkantoran dan gedung-gedung. Tingginya pertambahan penduduk di daerah yang cendrung pesat perkembangannya membutuhkan ketersediaan lahan.
Selain ketersediaan lahan untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut, karakteristik bangunan di kawasan perkotaan umumnya adalah bangunan dengan ciri khas beton. Hal itu menyebabkan daya resap tanah terhadap air semakin kecil.
Semakin sempitnya lahan menyebabkan permukaan tanah semakin sedikit. Lahan terbuka yang semakin sedikit itu daya serapnya terhadap air hujan juga sedikit karena tertutup beton dan semen. Karena itu kalau hujan tiba, air tak terserap ke dalam tanah. Tetapi mengalir ke drainase, tetapi kalau tanpa diimbangi dengan penataan dan penyiapan drainase yang memadai maka genangan bahkan banjir tidak dapat dielakkan.
Hari-hari belakangan inilah potensi banjir di sejumlah kota termasuk Singaraja di Buleleng menjadi ancaman nyata. Hujan yang terus-menerus menyebabkan banjir di beberapa lokasi di Buleleng.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dan mengatasi banjir. Dari pembenahan drainase, penanganan sampah, pembuatan tanggul hingga normalisasi kali sebagaimana cara-cara yang dianjurkan para akademisi. Tetapi yang masih jarang dilakukan adalah pembuatan lubang-lubang resapan biopori.
Cara ini sudah lama diketahui publik, tetapi belum banyak yang melakukannya. Padahal cara ini dinilai paling mudah dan murah, entah mengapa belum dilakukan secara maksimal. Lubang biopori adalah sebuah metode untuk meningkatkan daya resap pada tanah. Lubang ini berbentuk silidris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah.
Metode resapan air ini ditunjukkan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Lubang biopori memiliki ukuran tertentu yang telah ditentukan, misalnya kedalaman 70 cm hingga satu meter dengan diameter 10 atau 16 cm.
Pembuatan biopori menggunakan alat khusus yang diciptakan oleh pakar IPB. Biopori nantinya ditutup dengan sampah organik yang berfungsi sebagai penyerap air ke tanah dan membuat kompos alami. Sebagian orang menganggap bahwa lubang resapan ini sama dengan sumur resapan. Padahal ahli-ahli yang berkompeten menyatakan lubang biopori beda dengan sumur resapan, meski sama-sama diarahkan untuk mengurangi potensi banjir atau genangan.
Dari beragam penjelasan mengenai kedua resapan dapat diperoleh gambaran bahwa dari segi lebar dan kedalaman ada perbedaan cukup mencolok. Lubang resapan atau biopori umumnya bergaris tengah (diameter ) 10 hingga 16 cm dengan kedalaman maksimal 100 cm. Sedangkan sumur resapan memiliki kediameteran 100 cm, kedalamannya juga lebih dari 100.cm dengan ditambah komposisi kerikil, ijuk, jerami, pasir, batu bata merah dan batok kelapa.
Lubang biopori dan sumur resapan itu berfungsi menampung air hujan kemudian menyerap ke tanah. Dengan menyerapkan air di musim hujan maka genangan akan berkurang.
Pakar ekologi tanah IPB dan penemu teknologi biopori Dr Ir Kamir R Brata MSc pernah mengemukakan, kapasitas beban resapan lubang biopori (volume air yang masuk dibagi luas permukaan dinding) sekitar 25 liter per meter persegi, jauh lebih kecil dibandingkan sumur resapan yang kapasitas bebannya 250 liter per m2.
Kapasitas daya serap itu lumayan untuk mengurangi potensi genangan saat musim hujan karena itu mengurangi potensi banjir dengan pembuatan biopori tampaknya sedang di gencarkan di Buleleng. Menciutnya kawasan hutan dan kawasan terbuka hijau di Buleleng untuk perluasan lahan pertanian, permukiman, perkantoran, pertokoan, dan prasarana jalan mengakibatkan berkurangnya resapan air ke tanah. Ini perlu kembali dipertegas aturan tentang kesadaran lingkungan. [T]
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...