Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
I’m not homeless; I’m just houseless
Kalimat itu diucapkan Frances McDormand dengan mimik wajahnya yang khas. Antara upaya untuk bertahan, sekaligus kesulitan untuk mengingkari sesuatu. Lalu terjadilah, sepanjang film, kita melihatnya bergerak dengan mobil van miliknya dari satu tempat ke tempat lain. Hidup seperti para pengembara. Nomaden.
Bila boleh memilih, diantara The Father, Judas and the Black Messiah, Mank, Minari, Nomadland, Promising Young Woman, Sound of Metal, dan The Trial of the Chicago 7, secara pribadi, saya menyukai Nomadland.
Bila tahun lalu ada Parasite, dengan humor gelapnya yang kental, tahun ini ada Nomadland. Gaya berceritanya yang asyik, dengan konflik yang sejatinya sederhana, tanpa pretensi untuk menjelas-jelaskan, dan mengalir dengan sendirinya mengingatkan pada cerpen-cerpen Hemingway. Ah, tak ada hubungannya memang dengan Hemingway. Hanya memudahkan untuk identifikasi saja dan kebetulan penulis menyukainya.
Dan tidak ada yang lebih menarik menampilkan sosok memendam luka selain Frances McDormand. Wajahnya yang sendu, matanya yang kadang memeram pedih, mimiknya yang tertahan, dengan kerutan khas di kedua pipi dekat bibir, senyumnya yang sesekali dipaksakan, cara memandangnya yang mencoba lapang dan luas tapi terbatas, tatapannya kadang menyala sekaligus redup, lengkap sudah.
Lalu luka macam apakah yang dia pendam?
Sama seperti cerita berbasis tulisan, barangkali ada dua pilihan yang bisa ditempuh untuk menampilkan problematika itu. Antara membiarkan diri penulis terlihat menggerakkan cerita secara sengaja, lengkap dengan motif konflik yang diperkenalkan sedari awal, ataukah seolah membiarkan cerita itu bergerak dengan sendirinya dan mengalir menampilkan konfliknya (meski pilihan kedua ini sejatinya juga terencana, dan itu sebabnya saya menyinggung Hemingway).
Pilihan gaya kedua seperti di atas sepertinya juga disukai senias Indonesia belakangan. Sebut saja Love for Sale, hingga Mudik, dimana tokoh muncul seperti tanpa hubungan di awal untuk kemudian memiliki keterkaitan satu sama lain. Tampilan di visual barangkali lebih mudah menerapkan pilihan ini ketimbang penulis cerita berbasis teks. Dan lagi-lagi itu kenapa penulis menyukai Hemingway, meski sesekali ada yang mengatakannya juga sebagai cerpenis suasana.
Kembali ke Nomadland, barangkali tanpa Frances McDormand, film ini tidak akan menjadi seperti apa yang diinginkannya. Sebagai Fern, janda berusia 60an, dialah yang menggerakkan keseluruhan cerita. Jadi teringat penampilannya terdahulu di Three Billboards Outside Ebbing Missouri, juga tentang perempuan yang memendam luka sekaligus dendam.
Tapi Nomadland sama sekali bukan cerita tentang dendam, atau orang miskin yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena tidak memiliki rumah secara fisik. Pergerakannya, perpindahannya, juga pertemuan-pertemuannya, semacam meditasi yang sublim. Sebuah upaya pembebasan, yang dari awal kita diajak untuk tidak terburu-buru menebak-nebak, berprasangka, atau menghakimi.
Dengan mobil van yang sudah dikreasikan sedemikian rupa, yang disebutnya sebagai “rumah”, dia meninggalkan tempat lamanya (setelah perusahaan tempatnya bekerja tutup), bertemu dengan sesama pengembara jalanan, sesekali berkumpul dengan pekerja lain dalam sebuah pabrik, lalu terlibat lagi dalam pertemuan-pertemuan lain, guyub dengan sesama “manusia jalanan”, ada kalanya terasing, sengaja menahan diri dari kebersamaan, dan tidak ada penjelasan entah dari tokoh lain atau dari dirinya sendiri tentang sebab musabab semua tindakannya.
Dia hanya bergerak dan bergerak. Tidak jelas yang dituju dan tidak pula dia sepenuhnya berlari atau mengingkari sesuatu. Lalu apa yang dia cari sesungguhnya? Adakah yang ingin dia temukan? Penebusan? Pencarian jawaban dari sebuah kehilangan?
Sempat bertanya-tanya juga dari awal, bagaimanakah luka dan sesuatu yang terpendam itu akan diungkap? Lewat siapakah? Dengan cara apakah? Akankah ada teknik lain agar cerita ini terus saja bergerak dan mengalir dengan sendirinya seolah tanpa campur tangan atau usaha untuk menjelaskannya dengan tanpa meminjam mulut tokoh lain misalnya? Akankah perkembangan tokohnya juga tak berakhir dengan dicapainya titik dimana dia bisa mengungkapkan sendiri sebab musabab pergerakannya?
Pada akhirnya, memang tetap diperlukan piranti dan teknik untuk mengungkapkannya. Entah atas nama pembabakan atau perkembangan tokoh. Sedikit longgar di akhir memang, tapi biarlah, film ini tetap saja menarik. [T]
Banyuning, 2021
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...