Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Timezone merupakan sebuah pameran kolektif berseries yang hadir di berbagai lokasi yang sebelumnya sudah terselenggarakan di Amora Ubud di kedua kali ini Timezone dengan subtema #puzzle hadir diselenggarakan oleh Luwak Ubud Villa - sebuah villa yang ada di Ubud, Bali.
Beradaptasi dengan masa pandemi dan memberikan celah kreatif bagi para seniman untuk merespon ruang-ruang yang tidak wajar dan dapat dijadikan sebuah kegiatan seni, Yudhi Putrawan seorang organizer event sekaligus artis yang ikut berpartisipasi dalam pameran ini mengundang 9 seniman dan komunitas seni untuk membangkitkan semangat berkarya perupa dan kegiatan salaing berapresiasi kesenian di Bali.
Adapun perupa yang tergabung tidak hanya dari satu linier studi seni namun dari berbagai disiplin ilmu seperti Yudhi Putrawan dan Manntra bekerja di bidang pariwisata tidak menghambat hobinya ikut berkesenian dan bermain dengan medium kolase. Gus Arta, Lodra Suantara, Penawati perupa yang menghadirkan pengalaman sehari-hari dalam karyanya dari berbagai sudut pandang, seperti Gus Arta yang prihatin terhadap perburuan anjing di desanya, Lodra Suantara yang tiap harinya disibukkan dengan kegiatan adat selalu melihat proses pembuatan canang, lamak, jaje goreng, kiping, hingga sampian ceki (kartu ceki) tersusun menjadi pattern penghias dalam lukisannya.
Penawati memiliki peran ganda dalam pameran ini ia hadir sebagai perupa dan penulis narasi dalam karyanya ia melihat dari kondisi Bumi yang sedang tidak baik- baik saja karena seluruh bagian besarnya terindikasi wabah, sehingga dalam karyanya ingin mengajak audiens untuk bercermin untuk mengecek diri, baik itu kondisi fisik penampilan – emosional – hingga batin.
Sukarya hadir dalam pameran dengan karya khasnya menatah kulit sapi, memvisualkan bagaimana asiknya bermain bola adil. Eka Sutha perupa yang mengeksplore tokoh lakon lelucon di Bali seperti bondres dengan warna- warni khasnya. Wahyu Simbrana mahasiswa yang ikut bergabung menyampaikan kekaryaanya dengan khas warna gelap ia menggambarkan kehidupan ini bagaikan panggung dapat diubah kearah lelucon ataupun menegangkan.
Gung Arik menciptaan visual mapping yang menggambarkan bagaimana ia bermain dengan musik dan cahaya sekaligus direspon juga oleh komunitas Manubada dengan penampilan performance art.
Berlatarkan pada refleksi kondisi ditahun 2021 yang masih dalam tahap pemulihan pademi tema ini menjadi wujud proses pemurnian dari beban, kebangkitan dari jiwa yang lelah, pemulihan diri dari rasa penat yang sebelumnya telah menguasai. Dimana dalam kondisi ini hiburan menjadi penting sebagai penjaga keseimbangan jiwa dan raga. Timezone adalah tempat hiburan yang menghadirkan berbagai macam permainan.
Dalam hal ini nama Timezone dipinjam sebagai dimensi ruang untuk menerjemahkan ungkapan waktu bermain atau bersenang- senang. TIMEZONE #Puzzle sebagai bagian dari jenis permainan dalam dunia game. Menebak gambar dan menyusunnya menjadi satu adalah proses yang termaknai sebagai puzzle.
Proses bermain kali ini dimulai dengan menebak, ide - inspirasi yang bebas hingga takterduga datang dari berbagai sudut pandang dan kondisi lingkungan masing- masing. Menyusun termaknai sebagai proses realisasi ide. Kata satukan menjadi tahap menuju klimaksnya permainan yang menyatukan berbagai multi tafsir awal terproses hingga membentuk ruang baru.
Pameran kedua kali ini, terdapat upaya meluaskan upaya pemurnian, pemulihan, dan penyegaran terhadap respon lingkungan, agar tetap menjaga keharmonisan jiwa dan raga. Mempengaruhi, merangkul, dan kini hadir dari berbagai multidisiplin ilmu yang tergabung dalam satu ruang dimensi nyata di Luwak Ubud Villa. [T][R][Penawati]
Informasi lebih lanjut
TIMEZONE #Puzzle berlangsung 4 Maret – 19 Maret 2021
di Luwak Ubud Villa
Jl. Sri Wedari Br. Tegal Lantang No. 9 Ubud, Kec. Gianyar Kabupaten Gianyar, Bali 80571
Telepon (0361) 9000551
(Menerapkan protokol kesehatan COVID19)
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...