Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Jika dalam dunia partai politik ada istilah KLB (Kongres Luar Biasa) maka dalam dunia kesehatan pun ada KLB, namun kalau yang ini kepanjangannya adalah Kejadian Luar Biasa atau dalam bahasa Inggris disebut outbreak . Meskipun merupakan dua peristiwa yang berbeda, namun saat ini tampaknya ada kesamaan di antara keduanya, yaitu sama-sama sakit, hahaha!
Sebagai seorang dokter, dalam pekan terakhir ini, telinga saya memang sangat gatal karena setiap hari mendengar berita tentang KLB dari satu partai politik yang sedang mengalami kekisruhan. Bukan saja karena istilah KLB juga merupakan istilah yang sangat populer dalam dunia kesehatan, dunia saya. Namun karena, seperti yang kita ketahui bersama, kebetulan memang sedang terjadi kejadian luar biasa yang sungguh luar biasa, wabah virus Corona di seluruh jagat yang membabi buta mendera lebih dari 100 juta orang dan telah melalap dua juta nyawa darinya.
Boleh diucap, kita semua sudah hampir putus asa menghadapi wabah ini, hingga program vaksinasi lalu memberi secercah harapan. KLB partai politik yang sedang heboh ini, jelas bukan merupakan secercah harapan bagi dunia demokrasi tanah air, apalagi bagi dunia kesehatan yang saat ini melarang orang berkumpul, dampak KLB ini memang mendekati sejawatnya, kejadian luar biasa dalam dunia medis.
Politik, menurut teori klasik Aristoteles adalah upaya yang dilakukan warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Demikian baik dan indah harapan yang telah direncanakan oleh sebuah gerakan yang bernama politik, namun saat ini di sebagaian besar peradaban manusia modern ia memiliki wajah busuk tersembunyi dalam topeng kepalsuan. Tentu saja saat ini politik bukan lagi alat untuk mewujudkan kebaikan bersama melainkan kekuasaan dan kepentingan segelintir kelompok, bahkan untuk sebuah dinasti keluarga, meski harus mencederai atau merampas yang lain.
Pada kenyataanya, manusialah yang menyematkan stigma buruk pada politik. Ia menjelma menjadi Judas pengkhianat di mana-mana. Bukan mustahil pula menjalar bagai rumput liar ke dalam jiwa para penguasa. Politik yang seharusnya senantiasa menjadi bandul keseimbangn, sering kali diseret menjadi martil kekuasaan. Maka oposisi yang cukup kuat akan selalu diperlukan, sebab memang betul ungkapan berikut, tabiat dan perangai seseorang pada akhirnya akan ditentukan saat tangannya menggenggam martil kekuasaan.
Lalu apa itu kejadian luar biasa yang juga disingkat KLB? Ada beberapa situasi kesehatan masyarakat yang terkait dengan istilah ini. Pertama adalah kasus penyakit yang jumlahnya meningkat bermakna jika dibandingkan dengan insiden kasus dalam keadaan rata-rata. Misalnya yang paling sering adalah KLB kasus demam berdarah yang pada setiap pergantian musim kejadiannya meningkat secara drastis.
KLB dapat juga merujuk pada keadaan terjadinya komplikasi kematian pada penyakit yang secara epidemiologi jarang terjadi, meski jumlah kasusnya terbatas. Misalnya, terjadinya satu kematian pada sekelompok anak sekolah yang bersama-sama tertular virus hepatitis A misalnya. Atau KLB juga disematkan pada keadaan saat satu penyakit menular yang sudah lama hilang tiba-tiba muncul kembali, misalnya kasus rabies yang sudah lama tak terdengar, tempo hari merebak lagi kasusnya.
KLB tak hanya disebabkan oleh penyakit menular, namun dapat juga akibat keracunan masal, misalnya kasus keracunan yang menimpa hampir seluruh siswa dan guru-guru di sebuah sekolah akibat mengkonsumsi nasi bungkus bersama saat perayaan ulang tahun sekolahnya.
Kedua KLB di atas memang sama-sama merepotkan dan membuat gaduh. KLB politik meski dijamin oleh demokrasi namun dalam praktek sehari-harinya lebih sering mempertontonkan syahwat politik secara vulgar. Fenomena semacam ini dijamin takkan pernah berakhir, seperti halnya pandemi tiada usai mencabik-cabik kita dalam setahun ini, jika politik masih menjadi lumbung bagi para politisi untuk mendapatkan padinya.
Dapat dimaklumi lama-kelamaan mereka akan menjadi tikus, yang tak segan menggerogoti lumbung hingga tandas. Seharusnya, seseorang yang terjun ke dunia politik adalah mereka yang telah selesai dengan dirinya, sudah melewati hidupnya, bukan sebaliknya untuk memulai hidup atau menyambung hidup. Meski ini masih mimpi, semoga saja suatu saat menjadi kenyataan saat kita terjaga dari tidur yang dipenuhi mimpi buruk.
Kejadian luar biasa atau outbreak, begitu juga, meminta kita semua untuk selalu meningkatkan kesadaran pada aspek kesehatan lingkungan dan pencegahan penyakit. Namun, kenyataannya alih-alih menerapkan protokol yang sudah ditekankan, kita lebih memilih untuk gaduh berdebat dan saling menyalahkan satu dengan yang lain. Mental buruk dari dunia politik sepertinya telah merasuki aspek-aspek kehidupan yang lain.
Jika kita semua tak segera menyalakan alarm peringatan dan sirene tanda gawat darurat, maka “KLB-KLB” dapat saja terjadi kemudian dalam dunia pendidikan, ekonomi, bahkan keamanan. KLB boleh saja terjadi dan kita akan nikmati jika itu adalah kopi, lontong dan bibir eh bubur Manado! [T]
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...