Buleleng Terkaya di Bali, Sesungguhnyalah Tak Perlu Investor
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
Jika dalam dunia partai politik ada istilah KLB (Kongres Luar Biasa) maka dalam dunia kesehatan pun ada KLB, namun kalau yang ini kepanjangannya adalah Kejadian Luar Biasa atau dalam bahasa Inggris disebut outbreak . Meskipun merupakan dua peristiwa yang berbeda, namun saat ini tampaknya ada kesamaan di antara keduanya, yaitu sama-sama sakit, hahaha!
Sebagai seorang dokter, dalam pekan terakhir ini, telinga saya memang sangat gatal karena setiap hari mendengar berita tentang KLB dari satu partai politik yang sedang mengalami kekisruhan. Bukan saja karena istilah KLB juga merupakan istilah yang sangat populer dalam dunia kesehatan, dunia saya. Namun karena, seperti yang kita ketahui bersama, kebetulan memang sedang terjadi kejadian luar biasa yang sungguh luar biasa, wabah virus Corona di seluruh jagat yang membabi buta mendera lebih dari 100 juta orang dan telah melalap dua juta nyawa darinya.
Boleh diucap, kita semua sudah hampir putus asa menghadapi wabah ini, hingga program vaksinasi lalu memberi secercah harapan. KLB partai politik yang sedang heboh ini, jelas bukan merupakan secercah harapan bagi dunia demokrasi tanah air, apalagi bagi dunia kesehatan yang saat ini melarang orang berkumpul, dampak KLB ini memang mendekati sejawatnya, kejadian luar biasa dalam dunia medis.
Politik, menurut teori klasik Aristoteles adalah upaya yang dilakukan warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Demikian baik dan indah harapan yang telah direncanakan oleh sebuah gerakan yang bernama politik, namun saat ini di sebagaian besar peradaban manusia modern ia memiliki wajah busuk tersembunyi dalam topeng kepalsuan. Tentu saja saat ini politik bukan lagi alat untuk mewujudkan kebaikan bersama melainkan kekuasaan dan kepentingan segelintir kelompok, bahkan untuk sebuah dinasti keluarga, meski harus mencederai atau merampas yang lain.
Pada kenyataanya, manusialah yang menyematkan stigma buruk pada politik. Ia menjelma menjadi Judas pengkhianat di mana-mana. Bukan mustahil pula menjalar bagai rumput liar ke dalam jiwa para penguasa. Politik yang seharusnya senantiasa menjadi bandul keseimbangn, sering kali diseret menjadi martil kekuasaan. Maka oposisi yang cukup kuat akan selalu diperlukan, sebab memang betul ungkapan berikut, tabiat dan perangai seseorang pada akhirnya akan ditentukan saat tangannya menggenggam martil kekuasaan.
Lalu apa itu kejadian luar biasa yang juga disingkat KLB? Ada beberapa situasi kesehatan masyarakat yang terkait dengan istilah ini. Pertama adalah kasus penyakit yang jumlahnya meningkat bermakna jika dibandingkan dengan insiden kasus dalam keadaan rata-rata. Misalnya yang paling sering adalah KLB kasus demam berdarah yang pada setiap pergantian musim kejadiannya meningkat secara drastis.
KLB dapat juga merujuk pada keadaan terjadinya komplikasi kematian pada penyakit yang secara epidemiologi jarang terjadi, meski jumlah kasusnya terbatas. Misalnya, terjadinya satu kematian pada sekelompok anak sekolah yang bersama-sama tertular virus hepatitis A misalnya. Atau KLB juga disematkan pada keadaan saat satu penyakit menular yang sudah lama hilang tiba-tiba muncul kembali, misalnya kasus rabies yang sudah lama tak terdengar, tempo hari merebak lagi kasusnya.
KLB tak hanya disebabkan oleh penyakit menular, namun dapat juga akibat keracunan masal, misalnya kasus keracunan yang menimpa hampir seluruh siswa dan guru-guru di sebuah sekolah akibat mengkonsumsi nasi bungkus bersama saat perayaan ulang tahun sekolahnya.
Kedua KLB di atas memang sama-sama merepotkan dan membuat gaduh. KLB politik meski dijamin oleh demokrasi namun dalam praktek sehari-harinya lebih sering mempertontonkan syahwat politik secara vulgar. Fenomena semacam ini dijamin takkan pernah berakhir, seperti halnya pandemi tiada usai mencabik-cabik kita dalam setahun ini, jika politik masih menjadi lumbung bagi para politisi untuk mendapatkan padinya.
Dapat dimaklumi lama-kelamaan mereka akan menjadi tikus, yang tak segan menggerogoti lumbung hingga tandas. Seharusnya, seseorang yang terjun ke dunia politik adalah mereka yang telah selesai dengan dirinya, sudah melewati hidupnya, bukan sebaliknya untuk memulai hidup atau menyambung hidup. Meski ini masih mimpi, semoga saja suatu saat menjadi kenyataan saat kita terjaga dari tidur yang dipenuhi mimpi buruk.
Kejadian luar biasa atau outbreak, begitu juga, meminta kita semua untuk selalu meningkatkan kesadaran pada aspek kesehatan lingkungan dan pencegahan penyakit. Namun, kenyataannya alih-alih menerapkan protokol yang sudah ditekankan, kita lebih memilih untuk gaduh berdebat dan saling menyalahkan satu dengan yang lain. Mental buruk dari dunia politik sepertinya telah merasuki aspek-aspek kehidupan yang lain.
Jika kita semua tak segera menyalakan alarm peringatan dan sirene tanda gawat darurat, maka “KLB-KLB” dapat saja terjadi kemudian dalam dunia pendidikan, ekonomi, bahkan keamanan. KLB boleh saja terjadi dan kita akan nikmati jika itu adalah kopi, lontong dan bibir eh bubur Manado! [T]
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
INI adalah komentar seorang teman pebisnis sukses, orang Bali yang tinggal di Amerika “Orang Bali harusnya ajarkan anak-anaknya berbisnis bukan hanya sembahyang”. Dan comment yang...
WABAH Pokémon Go sepertinya sudah masuk ke ceruk kehidupan orang Bali. Di Pulau Seribu Pura ini, tentu bukan hal aneh jika sarang Pokémon banyak terdapat di Pura. Di Pura besar ata...
Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Purnama pasah, tiga anak bajang berjalan melenggang ke arah barat tempat di mana, rusuk seorang ibu tersesat jalan pulang. Mereka kembara, membawa...
BUNGA KECOMBRANG (1 ) Pada kelopak mudaku kau temukan rasa yang enggan pergi dari tiap ujung papila Kau terbakar rasa larut dalam liur kuntum kuntumku membuat...
SALAH satu cara mengatasi kerumitan pilihan hidup dalam dunia, --- yang mana orang-orangnya kian jauh dari kesempatan untuk berbeda adalah mengikuti ke mana arah pemikiran pergi,...
"Itulah pekerjaan, saya profesional, keluarga tahu saya bekerja sebagai penari joged, tidak jual diri," KERUMUNAN tampak dari kejauhan. Iringan suara gamelan rindik berpadu dengan...
HARI sekolah tiba. Orang tua harap-harap cemas. Apakah si anak bisa berprestasi di sekolah. Jika iya tentunya membanggakan. Namun, hilangkan harapan itu. Baiknya, jangan paksa anak...
Judul: Magening # Pengarang: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Kakilangit Kencana # Tahun: April 2015 # Tebal: vi, 164 halaman # ISBN: 978-602-8556-53-8 899.221 3 NOVEL Magening...
PADA suatu masa, tak terlalu lama, di negeri ini pernah ada penggemar cicak dan ada penggemar buaya, ada juga yang suka melihat ribut-ribut antara keduanya. Tapi saya sendiri lebih...