Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Belakangan, saya sering mendengar seorang kawan kusu-kusu membicarakan Jegog. Kusu-kusu tak setuju terhadap pengkapitalisasian Jegog dengan dugaan-dugaan kabur, tentu. Hal itu karena ia tak punya struktur diagnosa yang kuat. Meski tak bertumpu pada analisis yang rinci, secara kasat mata memang demikian adanya.
Jegog hampir 90% dipanggungkan pada beranda hotel dan luar negeri. Jika hal itu dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan finansial pelakunya, saya pikir bukan begitu adanya. Banyak pelaku Jegog yang justru hidup dari bertani dan bekerja sebagai buruh bangunan.
Geliduh (yang konon pencipta Jegog), agaknya masih cukup kuat digunakan sebagai tumpuan untuk memandang Jegog masa kini. Kekuatan kapitalis dewasa ini memang masih menjadi kontrol perkembangan kesenian (saya kira telah merambah kesenian apa pun di Bali, tak hanya Jegog). Apabila hal ini disalahkan publik, agaknya keliru. Karena mereka melupakan pemegang kekuasaan sebenarnya adalah si pelaku.
Tapi, apakah berarti yang bersalah mutlak adalah si pelaku? Saya kira tidak juga. Banyak faktor memengaruhi Jegog itu sendiri yang (terpaksa) berkembang dalam artian dikuasai permintaan kapitalis, sehingga segala perangkatnya harus berubah. Bukan juga karena pemikiran yang memandang kesenian adalah persaingan antar kesenian dalam perebutan panggung, akan tetapi juga hal lain di luar itu masih bisa berhubungan.
Perubahan Jegog baik dari segi penonton dan panggung tak sejalan dengan ikatan kolektif yang dititipkan Geliduh, sehingga membuat perubahan zaman dengan leluasa menekan dan mengubah pakem Jegog yang telah ditetapkan secara kebiasaan. Atau, barangkali zaman telah mengubah pola pikir, bahwa lebih gampang mengikuti arus?
Kesimpulan-kesimpulan macam itu memang kedengaran agak ganjil dibanding kesimpulan kebudayaan hasil formulasi berbagai macam pendapat penelitian para budayawan. Budayawan kadangkala memang dianggap memegang otoritas atas kebudayaan itu sendiri. Tapi tidak pada Jegog. Kesulitan pemahaman akan struktur kehadiran kesenian Jegog itu sendiri tak terdefinisikan, sehingga membuat beberapa budayawan yang mencoba mendekat, perlahan dipukul mundur oleh kekacauan pemaknaannya sendiri.
Oleh sebab itu, kiranya para pegiat dan seluruh yang bisa disangkutpautkan harus menumbuhkan keberanian, bukan saja keberanian menolak perlakuan kapitalis, tapi juga keberanian untuk meragukan moderinisasi dan berani mengatakan bahwa kebutuhan Jegog yang sebenarnya adalah pencarian nilai dan kolektivitas. [T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...