Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Prof. Dr. Wayan Adnyana bisa disebut membuat sejarah dalam dunia seni dan kebudayaan di Bali. Saat ini, ia yang biasa dipanggil Kun Adnyana itu masih menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Provinsi Bali, dan saat bersamaan terpilih jadi Rektor Insitut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Prof. Kun Adnyana terpilih sebagai Rektor ISI Denpasar periode 2021-2025 pada rapat Senat Pemilihan Rektor, Selasa (9/2) di ruang studio/lab media rekam kampus setempat.
Prof Kun meraih 27 suara, dari total 29 suara Senat dan Menteri Pendidikan Kebudayaan (Dikbud). Calon lain, Prof Nyoman Artayasa dan Dr Ketut Sariada sama-sama meraih 1 suara. Proses pemilihan Rektor berlangsung lancar dan sangat demokratis, dengan pemberlakuan protokol kesehatan, setiap anggota Senat menentukan pilihan melalui penjoblosan kertas suara di bilik tertutup.
Kuasa Menteri Dikbud, Kepala Biro Organisasi dan Tata Laksana Kemendikbud Dr Mustangimah, didampingi pejabat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendikbud Suwitno, menyatakan, bahwa seluruh proses pemilihan Rektor ISI Denpasar, dari penjaringan, penyaringan, rekam jejak, hingga pemilihan telah berjalan dengan baik, dan demokratis. “Siapa pun yang terpilih, itu merupakan kemenangan bersama. Kita dukung bersama, untuk dapat memajukan ISI Denpasar ke kancah nasional dan internasional,” kata Dr Imah.
Kun Adnyana menyampaikan terimakasih kepada Menteri Dikbud, Senat ISI Denpasar, juga seluruh Sivitas Akademika ISI Denpasar yang telah memberi amanah kepada dirinya sebagai Rektor ISI Denpasar periode 2021-2025.
“Terimakasih atas kepercayaan dan amanah ini. Tiang berkomitmen lahir dan batin untuk bekerja demi kemajuan Kampus Seni kebanggaan Bali ini. Bagaimana pun ISI merupakan aset Bangsa, untuk menjaga kepribadian dalam kebudayaan. Upaya pemajuan ISI ke depan, tentu membutuhkan kerjasama dan sinergi dengan berbagai pihak, terutama Pemerintah Provinsi Bali, Kabupaten/Kota se-Bali dan Pusat, juga dunia seni budaya nasional dan internasional,” kata Kun.
Rektor ISI Denpasar Prof Dr Gede Arya Sugiartha, menyambut baik terpilihnya Prof Kun sebagai Rektor ISI Denpasar periode 2021-2025. “Terpilihnya Kadisbud Bali ini sebagai rektor, membawa energi segar untuk kemajuan ISI Denpasar ke kancah nasional dan internasional. Ia memiliki rekam jejak yang baik, dan juga berpengalaman dalam birokrasi bidang kebudayaan, termasuk sangat diterima di kalangan dunia seni nasional,” kata Prof Arya. [T] [***]
___


“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...