Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
Bila seorang saja yang melihat saya tidur ke arah selatan, saya akan segera ditegur: semestinya kepala berada di arah utara (hulu) dan kaki di selatan (hilir); dari rumah saya, utara adalah arah gunung Batur, dan ketika Jero Penyarikan Duuran Batur, atau Jero Eriadi, atau IK Eriadi, dengan murah hati menawarkan saya untuk mengulas bukunya—yang saya tahu membahas Batur, saya mengiyakan tanpa berpikir panjang: inilah jalan mengenal hulu atau arah kepala saya.
“Ekologisme Batur” ini membuat saya masuk ke dalam bentangan zaman; di mana penulisnya menghadirkan diri dengan cara pikir hari ini untuk membaca masa lalu. Cara pandang inilah yang menjadi pemandu atau jembatan untuk masuk dalam kisah atau pengantar untuk memetik pesan dari zaman yang telah baur.
Membaca esai-esainya membuat kita paham, Jero Eriadi, yang statusnya kini menjadi Jero Penyarikan Duuran Batur, adalah seorang nakal yang bermain-main dengan makna. Sebelumnya, saya memiliki bayangan yang lugu; membayangkan seorang yang tumbuh di lingkungan dengan upacara dan ritual yang berlimpah akan memandang mitos secara ortodoks.
Mitos adalah kebenaran akhir. Tapi, berhubung Eriadi dalam esai yang berjudul “Mayadenawa dan Narasi Air dari Hulu ke Hilir” menyebut, “Apa pun sikap dan sifat Mayadenawa yang dikonstruksi di “permukaan” oleh teks-teks tradisi yang menarasikannya perlu ditunda memaknainya.” dan “…tiada kebenaran yang absolut” membuat saya berpikir ulang dan berkata dalam hati, “sebaiknya anggapan awal itu saya tangguhkan dulu.”
Saya membayangkan bahwa Jero Eriadi sebagai seseorang yang cemas akan dirinya; saya mengandaikan Jero Eriadi menganggap rumah adalah Batur dan Batur adalah dirinya. Ia berusaha mengenali batur sebagaimana seorang anak yang ingin mengenali kumisnya yang mulai tumbuh, jenggot mulai memanjang, dan segala tanda kedewasaan asing ada dalam dirinya dan mulai cerewet dengan berbagai pertanyaan, “dari mana asal segala ini?”
Caranya memajang hasil temuan atas pertanyaan itu mengingatkan saya pada struktur pantun yang disyaratkan memiliki isi dan sampiran, dalam esai Eriadi, struktur pantun itu berevolusi: data dan tafsiran. Struktur ini tidak banyak diterapkan dalam esai-esainya; dominan pada bagian awal—kemudian Jero Eriadi mulai menemukan formulasi yang lebih praktis, yaitu membaurkan temuannya sekaligus data-data.
Akhirnya, “Ekologisme Batur” mengingatkan saya bahwa mitos begitu kental di Batur, bahkan daerah lain di Bali—mungkin seluruh belahan dunia pun demikian. Mitos membentuk pola keseharian dan keseharian membentuk mitos.
Eriadi percaya dengan eksistensi leluhur, dewa-dewa, mitos-mitos, namun ia menjabarkan teks-teks yang membicarakan hal itu untuk mencapai langkah selanjutnya. Ia tidak berhenti, melangkah lebih jauh, tidak mau menjadi seorang naif: dan ia jatuh pada kenaifan kedua. “Kenaifan” yang sesungguhnya tidak naif lagi: memercayai mitos untuk memahaminya secara logis .[T]
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...