Anak SD dan Motor “Keren”-nya
MOTOR, siapa sih yang tidak tahu apa itu motor? Lah, motor digunakan untuk sarana transportasi untuk mencapai tujuan. Lalu bagaimana kaitan sepeda motor dengan anak Sekolah Dasar (...
Śāstra berasal dari dua kata yakni ‘Śās’ dan ‘tra’. ‘Śās’ yang berati alat, dan ‘tra’ yang berati ukur. Jadi Śāstra adalah alat ukur yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana Śāstra ini bagaikan cahaya dalam melakukan suatu aktivitas keseharian.
Di Bali banyak karya śāstra yang dapat dijadikan cerminan kehidupan. Dan śāstra juga bisa dijadikan pondasi. Dengan kita mengetahui serta memahami berbagai jenis karya śāstra dan mampu menemukan nila-nilai yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan. Maka kita dapat memperkokoh pondasi diri kita dan kita mampu berbagi dengan orang lain.
Sejatinya kita belajar śāstra bisa dengan guru dan belajar śāstra yang banyak agar pondasi diri kita tetap kuat dan kokoh. Sebagai mana yang tersirat di dalam Geguritan Sucita II pada pupuh Ginanti yang berbunyi:
Maguru masih pang liyu śāstrané sahi wacénin, mlahang nyaringin ring manah, pang bakat sarinnya sami, né ncén jelé dadi tinggal, sané tuhu anggén margi. (Jlantik, 2006:77)
[Bergurulah supaya banyak śāstra yang sering kita baca, hati-hati menimbang [menyaring] pada diri sendiri, supaya kita mendapatkan semua sarinya [inti], yang mana tidak baik bisa kita tinggalkan, yang baik dan kita ketahui dapat dipakai sebagai jalan]
Saya rasa kutipan tersebut sangat jelas menguraikan tentang śāstra yang notabena sebagai jalan atau sebagai cerminan dalam kehidupan. Dan kita dapat membaca dan memahami berbagi jenis karya śāstra namun itu, perlu kita saring karena ada beberapa karya śāstra yang sangat pingit. Kendati pun itu dibaca harus di dampingi oleh guru atau tutor yang berpengalaman dibidangnya. Tujuan dari kita membaca atau memahami berbagai karya śāstra tiada lain adalah untuk mendapatkan sari atau inti dari sastra tersebut.
Setiap śāstra yang ada di Bali pasti memiliki inti sari dan makna yang terkandung di dalamnya. Dalam pencarian inti dan makna diperlukan suatu metode sebagai pengantar untuk menemukan sebuah makna yang tersirat dalam karya śāstra. Metode yang mudah diterapkan adalah dengan cara membaca sebuah teks atau karya śāstra.
Dengan membaca kita akan menemukan sebuah esensi baru dan tantangan yang baru untuk menemukan sebuah inti dan sebuah makna. Ketika kita membaca karya śāstra dan sudah menemukan sebuah makna yang terkandung di dalamnya. Sedikit tidaknya kita memahami apa inti sari yang ada di dalam sebuah karya śāstra. Ketimbang kita tidak pernah membaca sebuah karya śāstra, kita bisa dikatakan sebagai orang tuna/bodoh. Sebagai mana yang diungkapkan dalam gaguritan sucita pada pupuh ginanti yang berbunyi:
Paplajahan dahat liyu, adwa tuhu tan kauningin, tuna śāstra ngardi iwang, babandingan twara polih, enggal ngugu né tan saja, tatwa jati tan demenin. (jlantik, 2006:77)
[Pelajaran itu sangat banyak, pelajaran itu bagaikan cahaya yang tidak diketahui, dengan kita tidak mengetahui śāstra dapat menyebabkan kita salah [bodoh], jika dibandingkan kita tidak akan mendapatkan apa-apa, dan cepat percaya terhadap hal-hal yang tidak benar, selain pelajaran śāstra, tatwa yang sejati pun tidak disukai.]
Melihat kutipan di atas, bahwa ketika kita tidak suka dengan śāstra, tatwa dan belajar yang sungguh-sungguh maka kita akan bodoh. Dan kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Dan lebih parah lagi jika kita tidak mengetahui śāstra maka kita dengan mudahnya orang untuk menipu kita. Karena kita akan mudah percaya terhadap hal-hal yang kebenarannya belum dapat diuji atau belum dapat dibuktikan dengan yang nyata. Artinya kebenarannya masih mengambang. Sejatinya śāstra, dan tatwa dapat menguatkan pondasi diri kita. Karena dengan memahami śāstra, dan tatwa kita mampu untuk mempertahankan dan mengokohkan pondasi yang sudah kita bangun dengan cara belajar.
Dan sering kita dengan sebuah celontengan yang berbunyi: ulah aluh elah alih, gangsaran tindak kirangan wiweka. Jika dalam arti dari kata tersebut bahwa kita dituntut untuk berpikir serta menggunakan segala taktik dan pola pikir kita untuk melakukan sesuatu hal. Karena dengan kita berpikir serta mempertimbangkan berbagai resiko. Dengan kita menggunakan pikiran maka sedikit tidaknya resiko itu dapat kita netralkan. Dan kita menjadi gampang dalam melakukan sebuah aktifitas, dan kita disuruh untuk tetap berpatokan kepada śāstra maupun tatwa.
Karena dalam śāstra maupun tatwa sudah diberikan sebuah petuah yang patut diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sampai kapankah śāstra, maupun tatwa bisa membangun sebuah pondasi yang fundamental di kalangan generasi muda? [T]
Refrensi
MOTOR, siapa sih yang tidak tahu apa itu motor? Lah, motor digunakan untuk sarana transportasi untuk mencapai tujuan. Lalu bagaimana kaitan sepeda motor dengan anak Sekolah Dasar (...
KASAR itu kebebasan yang indah dan menghibur. Tak percaya? Dengarlah ungkapan-ungkapan kasar tak terduga dari karakter-karakter Bondres Dwi Mekar, Buleleng, (terkenal juga dengan n...
“Kenapa kita di sini?” SEBUAH pertanyaan klasik yang telah tergerus zaman dan tak dihiraukan lagi. Sebagian besar orang akan menertawakan pertanyaan itu. Tapi tak akan ada yang bi...
BRAD PIT dan Angelina Jolie mungkin bisa berpisah. Naruto dan Sasuke juga masih bisa berpisah, namun yang namanya mahasiswa itu tidak bisa dipisahkan dengan tugas kuliah. Akan sela...
Diriku Adalah Sekarung Kata-Kata Kau suka warna biru karena warna biru adalah alas bagi puisi-puisi yang kau tulis setiap pagi. Katamu sudah lama kau tidak membuka pintu...
WANGSA, trah, soroh, atau apa pun namanya, adalah identitas yang meringkas individu ke dalam rumusan-rumusan yang berdimensi genetis, latar sejarah, profesi, kadang wilayah geograf...
JANGANKAN sebagai budak, jadi babu pun sesungguhnya tak seorang pun sudi. Tetapi, Bali punya sejarah perbudakan yang sangat mengenaskan, ketika manusia diperdagangkan, dipertukarka...
BEBERAPA hari ke belakang situasi politik Indonesia menghangat. Ditambah lagi media yang memberitakannya setiap hari. Kemarin, Saya mencoba untuk mengikuti isu ini lebih dalam. Mom...
OKTOBER sudah lewat. Oktober yang katanya Bulan Bahasa. Ya. Bulan yang baik untuk berbicara dengan serius perihal literasi, bulan yang seharusnya menjadi perayaan yang besar bagi p...
HEBAT betul saya, karena baru-baru ini menolak tawaran untuk mengelola media kampanye pendukung Ahok. Dari banyak hal yang terlewat dalam hidup saya, mungkin penolakan itulah satu-...