Malam Minggu bagi “Darah Muda”: Tak Sekadar Pacaran
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
Śāstra berasal dari dua kata yakni ‘Śās’ dan ‘tra’. ‘Śās’ yang berati alat, dan ‘tra’ yang berati ukur. Jadi Śāstra adalah alat ukur yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana Śāstra ini bagaikan cahaya dalam melakukan suatu aktivitas keseharian.
Di Bali banyak karya śāstra yang dapat dijadikan cerminan kehidupan. Dan śāstra juga bisa dijadikan pondasi. Dengan kita mengetahui serta memahami berbagai jenis karya śāstra dan mampu menemukan nila-nilai yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan. Maka kita dapat memperkokoh pondasi diri kita dan kita mampu berbagi dengan orang lain.
Sejatinya kita belajar śāstra bisa dengan guru dan belajar śāstra yang banyak agar pondasi diri kita tetap kuat dan kokoh. Sebagai mana yang tersirat di dalam Geguritan Sucita II pada pupuh Ginanti yang berbunyi:
Maguru masih pang liyu śāstrané sahi wacénin, mlahang nyaringin ring manah, pang bakat sarinnya sami, né ncén jelé dadi tinggal, sané tuhu anggén margi. (Jlantik, 2006:77)
[Bergurulah supaya banyak śāstra yang sering kita baca, hati-hati menimbang [menyaring] pada diri sendiri, supaya kita mendapatkan semua sarinya [inti], yang mana tidak baik bisa kita tinggalkan, yang baik dan kita ketahui dapat dipakai sebagai jalan]
Saya rasa kutipan tersebut sangat jelas menguraikan tentang śāstra yang notabena sebagai jalan atau sebagai cerminan dalam kehidupan. Dan kita dapat membaca dan memahami berbagi jenis karya śāstra namun itu, perlu kita saring karena ada beberapa karya śāstra yang sangat pingit. Kendati pun itu dibaca harus di dampingi oleh guru atau tutor yang berpengalaman dibidangnya. Tujuan dari kita membaca atau memahami berbagai karya śāstra tiada lain adalah untuk mendapatkan sari atau inti dari sastra tersebut.
Setiap śāstra yang ada di Bali pasti memiliki inti sari dan makna yang terkandung di dalamnya. Dalam pencarian inti dan makna diperlukan suatu metode sebagai pengantar untuk menemukan sebuah makna yang tersirat dalam karya śāstra. Metode yang mudah diterapkan adalah dengan cara membaca sebuah teks atau karya śāstra.
Dengan membaca kita akan menemukan sebuah esensi baru dan tantangan yang baru untuk menemukan sebuah inti dan sebuah makna. Ketika kita membaca karya śāstra dan sudah menemukan sebuah makna yang terkandung di dalamnya. Sedikit tidaknya kita memahami apa inti sari yang ada di dalam sebuah karya śāstra. Ketimbang kita tidak pernah membaca sebuah karya śāstra, kita bisa dikatakan sebagai orang tuna/bodoh. Sebagai mana yang diungkapkan dalam gaguritan sucita pada pupuh ginanti yang berbunyi:
Paplajahan dahat liyu, adwa tuhu tan kauningin, tuna śāstra ngardi iwang, babandingan twara polih, enggal ngugu né tan saja, tatwa jati tan demenin. (jlantik, 2006:77)
[Pelajaran itu sangat banyak, pelajaran itu bagaikan cahaya yang tidak diketahui, dengan kita tidak mengetahui śāstra dapat menyebabkan kita salah [bodoh], jika dibandingkan kita tidak akan mendapatkan apa-apa, dan cepat percaya terhadap hal-hal yang tidak benar, selain pelajaran śāstra, tatwa yang sejati pun tidak disukai.]
Melihat kutipan di atas, bahwa ketika kita tidak suka dengan śāstra, tatwa dan belajar yang sungguh-sungguh maka kita akan bodoh. Dan kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Dan lebih parah lagi jika kita tidak mengetahui śāstra maka kita dengan mudahnya orang untuk menipu kita. Karena kita akan mudah percaya terhadap hal-hal yang kebenarannya belum dapat diuji atau belum dapat dibuktikan dengan yang nyata. Artinya kebenarannya masih mengambang. Sejatinya śāstra, dan tatwa dapat menguatkan pondasi diri kita. Karena dengan memahami śāstra, dan tatwa kita mampu untuk mempertahankan dan mengokohkan pondasi yang sudah kita bangun dengan cara belajar.
Dan sering kita dengan sebuah celontengan yang berbunyi: ulah aluh elah alih, gangsaran tindak kirangan wiweka. Jika dalam arti dari kata tersebut bahwa kita dituntut untuk berpikir serta menggunakan segala taktik dan pola pikir kita untuk melakukan sesuatu hal. Karena dengan kita berpikir serta mempertimbangkan berbagai resiko. Dengan kita menggunakan pikiran maka sedikit tidaknya resiko itu dapat kita netralkan. Dan kita menjadi gampang dalam melakukan sebuah aktifitas, dan kita disuruh untuk tetap berpatokan kepada śāstra maupun tatwa.
Karena dalam śāstra maupun tatwa sudah diberikan sebuah petuah yang patut diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sampai kapankah śāstra, maupun tatwa bisa membangun sebuah pondasi yang fundamental di kalangan generasi muda? [T]
Refrensi
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
SEBAGAI mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas yang bergerak dalam bidang keguruan, tentu “kegiatan mengajar” tidak lagi asing di telinga mereka. Bahkan “kegiatan mengajar” ak...
Bapak/Ibu Guru yang kami cintai, pidato ini saya buka dengan kutipan dari penyair Kahlil Gibran… “Cinta tidak punya hasrat selain mewujudkan maknanya sendiri.” BEGITU bijaknya Ka...
GENERASI yang cerdas dan berakhlak mulia terwujud dari adanya guru yang cerdas dan berkompetensi. Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki banyak makna dan usaha. Dewasa ini, guru...
MELIHAT pendidikan Indonesia memasuki milineum ketiga, ketika teknologi digital melahirkan generasi baru (generasi Y), makin kentara paradoks dunia pendidikan, biang kerok stagnasi...
SEBUAH percakapan mengejutkan di ruang kelas: Saya : Anak-anak, kalian punya cita-cita? Ada yang jawab punya, ada yang menjawab tidak. Saya lontarkan pertanyaan ini kepad...
DUNIA ini adalah panggung sandiwara. Tuhan penulis skenario sekaligus sebagai sutradara. Dan kita umat manusia sebagai aktornya. Segala sesuatu yang kita lakukan sudah ada skenari...
POLITIK mungkin sesuatu yang asing bagi saya terutama mengenai politik praktis. Memang sedikit paham, secara garis besar politik didefinisikan sebagai “ilmu mempengaruhi”. Sebagai...
HARI masih pagi. Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30. Namun entah mengapa, matahari bersinar begitu terik. Meski begitu, suasana di Lapangan Umum Desa Bebetin, terlihat riuh. Pu...
MEDIA massa baik itu cetak maupun elektronik setahu saya adalah sebagai “tukang lapor” kepada masyarakat luas terhadap apa yang terjadi pada suatu tempat dan suatu waktu di belahan...