17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
1. Gajah Mada memiliki keturunan di Bali. Kisah ini masih beredar di Bali tahun 1842.
Kisah yang diturunkan secara turun-temurun ini mengatakan bahwa Gajah Mada memiliki keturunan dan tinggal di Bali Tengah yang sekarang dikenal dengan nama kawasan Mengwi. Keturunannya dikabarkan tinggal di sana, sebelum akhirnya terbentuk Kerajaan Mengwi sekitar tahun 1723.
2. Dimana bisa ditemukan naskah dan catatan yang menyebutkan Gajah Mada punya keturunan di Bali?
3. Dari catatan bertanggal 14 Maret 1842 (Laporan ke Jean Chrétien baron Baud — Gubernur-Jenderal Hindia Belanda) kita mendapat informasi bagaimana terbentuknya kebangsawanan di Bali dan sistem strata di Bali adalah bagian dari dampak kepindahan masyarakat Jawa ke Bali. Muncullah gelar kebangsawanan di Bali yang tidak dikenal sebelumnya. Stara sosial pasca kedatangan bubaran Majapahit ke Bali ini membentuk strata sosial yang ditemukan di Bali tahun 1842.
Catatan tersebut jelas menyebutkan bahwa:
4. Keturunan Gajah Mada disebutkan dalam laporan 1842 dan R. Friederich (1887) mereka masuk sebagian menjadi keturunan penguasa kerajaan Mengwi, bangsawan Marga, sebagian di Badung, dan sebagian ikut menyusun kebangsawanan di Karangasem. Keturunan Gajah Mada disebutkan bergelar Gusti.
5. Saya sendiri mendengar dari penuturan langsung dari Biang Bulan Trisna Djelantik (Prof. Dr. dr Ayu Bulantrisna Djelantik, spesialis THT) yang lebih dikenal sebagai maestro Legong, tak lain putri dari Dr. AA Made Djelantik, saudara dari Raja Karangasem terakhir, bahwa di masa kecilnya mendengar penuturan dari keluarganya kalau keluarga mereka punya darah kebangsawanan terkait Patih Gajah Mada. Informasi ini tidak umum di Bali namun "informasi internal" keluarga bangsawan inti ini masih ada jejaknya, kalangan terbatas yang lahir tahun 1940-an masih mengetahui kisah keberadaan keluarga yang punya leluhur terkait dengan Gajah Mada. Kisah lisan ini sejalan dengan catatan bertahun 1842 yang ditujukan kepada Gubernur-Jenderal Hindia Belanda Jean Chrétien baron Baud, dan sesuai dengan yang ditulis oleh R. Friederich (1887).
6. Teks lets Over Bulie en deszelfs bewoners (bertanggal 14 Maret 1842, yang merupakan laporan ke Jean Chrétien baron Baud — Gubernur-Jenderal Hindia Belanda) dan tulisan R. Friederich (1887) 'An account of the island of Bali' dimuat dalam Miscellaneous Papers Relating to Indo-China and the Indian Archipelago, Volume 2 (1887), menjadi rujukan menarik dan perlu dipelajari lebih jauh mengingat disebutkan oleh R. Friederich bahwa keberadaan Gajah Mada disengaja dilenyapkan dalam penulisan USANA JAWA. Kini USANA JAWA menjadi banyak rujukan penulisan sejarah lokal Bali. Demikian juga kisah "lenyapnya Gajah Mada" dan hilangnya jejak misterius Gajah Mada lenyap tanpa keturunan yang beredar di Jawa, yang menjadi opini yang beredar luas, ternyata sangat berbeda dengan sejarah lisan di Bali tahun 1842.
Pembentukan Kerajaan Mengwi tahun 1723 akhirnya "menumpuk" dengan sejarah sebelumnya, kedatangan Majapahit yang dikenal umum bertahun Śaka "sirna hilang kertaning bhumi" (1400) atau 1478 M. Sejarah Kerajaan Mengwi yang seakan menumpuk kisah keluarga Gajah Mada, membuat jadi tidak lagi terjejaki, padahal kisah itu dahulunya jelas disebutkan bahwa keturuan Gajah Mada disebutkan menjadi penguasa atau tinggal di wilayah Bali bagian tengah — dikenal selanjutnya sebagai Kerajaan Mengwi setelah dibentuk kerajaan ini. Seiring bertumbuhnya Kerajaan Mengwi itulah diperkirakan memudar pula ingatan keberadaan kedudukan Gajah Mada dan keluarganya di Bali bagian tengah ini.
7. Catatan saya pribadi, setelah membandingkan Usana Bali dan Usana Jawa, ada beberapa kejanggalan Usana Jawa memang sepertinya direvisi dan beberapa hal yang sensitif dihilangkan. Seperti Arya Damar yang dalam peperangan melawan laskar Bali secara "tidak sengaja" membunuh Pasung Grigis, lalu dalam USANA BALI disebutkan Pasung Grigis diajak berperang ke Sumbawa dan gugur di sana. Usana Jawa masih memuat gugurnya Pasung Grigis dalam perang di wilayah Ularan menghadang pasukan Arya Damar. Kebencian penduduk Bali mula yang berperang menolak Majapahit sepertinya ingin dilunakkan dalam penulisan Usana Bali dengan mengatakan Pasung Grigis — mahapatih di Kerajaan Bali sebelum ditaklukkan Majapahit — tidak gugur dalam perang di Bali melawan Arya Damar, tapi disebutkan berpulang melawan penguasa Sumbawa. Nama keturunan Arya Damar di Bali tersamar seperti "berganti nama" (?) atau "disamarkan" (?) menjadi Arya Kenceng, kemungkinan ingin "menghapus ingatan" dari masyarakat Bali mula yang ditundukkan oleh pasukannya Arya Damar bersama Gajah Mada. Demikian juga, kalau kita percaya sumber informasi dari R. Friederich — bahwa Usana Jawa telah diubah dan dihapus nama keberadaan Gajah Mada dan keturunannya yang berkuasa di kawasan Mengwi Revisi — mungkin punya maksud tertentu. Ada kemungkinan "pelenyapan informasi" keberadaan keluarga Gajah Mada di Bali sengaja dilakukan agar tidak ada sentimen atau kebencian muncul di kalangan masyarakat Bali mula yang ditundukkan di masa lalu. "Pelenyapan informasi" keturunan Gajah Mada ini juga sekaligus untuk menjamin kedamaian dari keturunannya untuk hidup sebagai "orang kebanyakan" yang tidak perlu lagi dibebani sejarah perang masa lalu yang sangat besar melekat pada nama Gajah Mada.
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...