Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
1. Gajah Mada memiliki keturunan di Bali. Kisah ini masih beredar di Bali tahun 1842.
Kisah yang diturunkan secara turun-temurun ini mengatakan bahwa Gajah Mada memiliki keturunan dan tinggal di Bali Tengah yang sekarang dikenal dengan nama kawasan Mengwi. Keturunannya dikabarkan tinggal di sana, sebelum akhirnya terbentuk Kerajaan Mengwi sekitar tahun 1723.
2. Dimana bisa ditemukan naskah dan catatan yang menyebutkan Gajah Mada punya keturunan di Bali?
3. Dari catatan bertanggal 14 Maret 1842 (Laporan ke Jean Chrétien baron Baud — Gubernur-Jenderal Hindia Belanda) kita mendapat informasi bagaimana terbentuknya kebangsawanan di Bali dan sistem strata di Bali adalah bagian dari dampak kepindahan masyarakat Jawa ke Bali. Muncullah gelar kebangsawanan di Bali yang tidak dikenal sebelumnya. Stara sosial pasca kedatangan bubaran Majapahit ke Bali ini membentuk strata sosial yang ditemukan di Bali tahun 1842.
Catatan tersebut jelas menyebutkan bahwa:
4. Keturunan Gajah Mada disebutkan dalam laporan 1842 dan R. Friederich (1887) mereka masuk sebagian menjadi keturunan penguasa kerajaan Mengwi, bangsawan Marga, sebagian di Badung, dan sebagian ikut menyusun kebangsawanan di Karangasem. Keturunan Gajah Mada disebutkan bergelar Gusti.
5. Saya sendiri mendengar dari penuturan langsung dari Biang Bulan Trisna Djelantik (Prof. Dr. dr Ayu Bulantrisna Djelantik, spesialis THT) yang lebih dikenal sebagai maestro Legong, tak lain putri dari Dr. AA Made Djelantik, saudara dari Raja Karangasem terakhir, bahwa di masa kecilnya mendengar penuturan dari keluarganya kalau keluarga mereka punya darah kebangsawanan terkait Patih Gajah Mada. Informasi ini tidak umum di Bali namun "informasi internal" keluarga bangsawan inti ini masih ada jejaknya, kalangan terbatas yang lahir tahun 1940-an masih mengetahui kisah keberadaan keluarga yang punya leluhur terkait dengan Gajah Mada. Kisah lisan ini sejalan dengan catatan bertahun 1842 yang ditujukan kepada Gubernur-Jenderal Hindia Belanda Jean Chrétien baron Baud, dan sesuai dengan yang ditulis oleh R. Friederich (1887).
6. Teks lets Over Bulie en deszelfs bewoners (bertanggal 14 Maret 1842, yang merupakan laporan ke Jean Chrétien baron Baud — Gubernur-Jenderal Hindia Belanda) dan tulisan R. Friederich (1887) 'An account of the island of Bali' dimuat dalam Miscellaneous Papers Relating to Indo-China and the Indian Archipelago, Volume 2 (1887), menjadi rujukan menarik dan perlu dipelajari lebih jauh mengingat disebutkan oleh R. Friederich bahwa keberadaan Gajah Mada disengaja dilenyapkan dalam penulisan USANA JAWA. Kini USANA JAWA menjadi banyak rujukan penulisan sejarah lokal Bali. Demikian juga kisah "lenyapnya Gajah Mada" dan hilangnya jejak misterius Gajah Mada lenyap tanpa keturunan yang beredar di Jawa, yang menjadi opini yang beredar luas, ternyata sangat berbeda dengan sejarah lisan di Bali tahun 1842.
Pembentukan Kerajaan Mengwi tahun 1723 akhirnya "menumpuk" dengan sejarah sebelumnya, kedatangan Majapahit yang dikenal umum bertahun Śaka "sirna hilang kertaning bhumi" (1400) atau 1478 M. Sejarah Kerajaan Mengwi yang seakan menumpuk kisah keluarga Gajah Mada, membuat jadi tidak lagi terjejaki, padahal kisah itu dahulunya jelas disebutkan bahwa keturuan Gajah Mada disebutkan menjadi penguasa atau tinggal di wilayah Bali bagian tengah — dikenal selanjutnya sebagai Kerajaan Mengwi setelah dibentuk kerajaan ini. Seiring bertumbuhnya Kerajaan Mengwi itulah diperkirakan memudar pula ingatan keberadaan kedudukan Gajah Mada dan keluarganya di Bali bagian tengah ini.
7. Catatan saya pribadi, setelah membandingkan Usana Bali dan Usana Jawa, ada beberapa kejanggalan Usana Jawa memang sepertinya direvisi dan beberapa hal yang sensitif dihilangkan. Seperti Arya Damar yang dalam peperangan melawan laskar Bali secara "tidak sengaja" membunuh Pasung Grigis, lalu dalam USANA BALI disebutkan Pasung Grigis diajak berperang ke Sumbawa dan gugur di sana. Usana Jawa masih memuat gugurnya Pasung Grigis dalam perang di wilayah Ularan menghadang pasukan Arya Damar. Kebencian penduduk Bali mula yang berperang menolak Majapahit sepertinya ingin dilunakkan dalam penulisan Usana Bali dengan mengatakan Pasung Grigis — mahapatih di Kerajaan Bali sebelum ditaklukkan Majapahit — tidak gugur dalam perang di Bali melawan Arya Damar, tapi disebutkan berpulang melawan penguasa Sumbawa. Nama keturunan Arya Damar di Bali tersamar seperti "berganti nama" (?) atau "disamarkan" (?) menjadi Arya Kenceng, kemungkinan ingin "menghapus ingatan" dari masyarakat Bali mula yang ditundukkan oleh pasukannya Arya Damar bersama Gajah Mada. Demikian juga, kalau kita percaya sumber informasi dari R. Friederich — bahwa Usana Jawa telah diubah dan dihapus nama keberadaan Gajah Mada dan keturunannya yang berkuasa di kawasan Mengwi Revisi — mungkin punya maksud tertentu. Ada kemungkinan "pelenyapan informasi" keberadaan keluarga Gajah Mada di Bali sengaja dilakukan agar tidak ada sentimen atau kebencian muncul di kalangan masyarakat Bali mula yang ditundukkan di masa lalu. "Pelenyapan informasi" keturunan Gajah Mada ini juga sekaligus untuk menjamin kedamaian dari keturunannya untuk hidup sebagai "orang kebanyakan" yang tidak perlu lagi dibebani sejarah perang masa lalu yang sangat besar melekat pada nama Gajah Mada.
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...