Belajar dari Panggung Sendiri: Catatan Seorang Pengkarya Muda di Bali
Di Antara Cahaya dan Realitas MENJADI pengkarya (seniman) di Bali seringkali berarti berjalan di antara dua dunia: dunia ideal yang dipenuhi semangat berkesenian, dan dunia nya...
Yang kaya, yang rumahnya mewah, yang garasi mobilnya panjang seperti deretan blok perumahan di perumnas, ya, ya, memang sudah sepatutnya menanam tanaman hias, terserah di halaman depan, samping, belakang, atau di atas rumah tiga lantai. Terserah juga mau tanam anggrek langka seharga 100 juta sebatang, atau tanam keladi-keladian berdaun bolong seharga 25 juta per daun. Yang penting, jangan ikut-ikutan tanam sayur. Apalagi dengan alasan ngirit agar tak perlu beli sayur di pasar sayur. Itu namanya meniru-niru petani. Jika orang kaya meniru petani, lalu petani sayur yang hidupnya hanya bertopang pada hasil jualan sayur meniru siapa? Meniru orang kaya yang kerja enak gaji enak rumah besar beranak-pinak? Ah, itu mujair, eh mustahil.
Di Bali ada istilah "sing dadi memada-mada". Artinya, tidak boleh menyama-nyamakan diri dengan orang berstatus-berderajat lebih tinggi. Misalnya, jika menikah, payas dan kostum pengantin dari keluarga yang biasa-biasa saja tak boleh serupa dengan riasan dan kostum pengantin keluarga raja. Raja tak boleh ditiru. Jika bengkung, itu namanya "memada-mada". Sangsinya bisa hukuman mati, setidaknya bisa diselong, dibuang ke pulau seberang.
Yang dianggap mulia oleh orang berderajat tinggi, tidak boleh diikuti oleh orang biasa-biasa semacam petani sayur. Kemuliaan hanya milik raja, dan karena hanya milik raja, maka salahnya jika orang biasa ikut memiliki kemuliaan itu. Itu namanya “memada-mada”. Jika raja punya anak kembar buncing, itu kemuliaan. Jika rakyat jelata punya anak kembar buncing, hal itu malah dianggap leteh, sehingga, sesuai tradisi di sejumlah desa, anak kembar itu harus diasingkan ke luar desa.
Tradisi “membuang” bayi kembar buncing, sebagaimana pernah dikatakan ahli sejarah dari Undiksha I Made Pageh dalam sebuah diskusi di Komunitas Mahima, patut diduga dibuat oleh raja-raja di masa lalu. Tujuannya, ya, agar kemuliaan kembar buncing pada keluarga istana tak ditandingi oleh rakyat biasa. Rakyat biasa tak boleh meniru kemuliaan raja. Jika takdir mengharuskan sepasang pengantin dari keluarga jelata punya bayi kembar buncing, maka takdir pun dianggap salah. Intinya, rakyat biasa, apalagi rakyat dari keluarga petani tulen, atau dari keluarga petani sayur yang penghasilannya panas-dingin seperti musim kacau pancaroba, dilarang sama dengan raja, Perbedaan harus dipelihara, agar jelas mana rakyat mana raja.
Kalau dalam urusan bangunan bisalah kita maklum jika rakyat jelata tak boleh “memada-mada” untuk turut-serta membangun istana megah dengan pintu masuk yang besar dan penuh ukiran. Ya, karena jika dibolehkan pun mereka tak akan mampu. Berapa truk sayur harus terbeli setiap hari agar mereka bisa membangun istana dengan halaman penuh patung dan bunga-bunga hiasan? Nah, untuk hal ini, biarlah petani tulen tak perlu memaksa diri untuk “memada-mada”. Itu bukan lagi bernama tulah, tapi “telah” alias habis.
Tunggu dulu. Hukum “memada-mada”, larangan menyama-nyamakan, aturan meniru-meniru dan ikut-ikutan, kini tampaknya tak seketat dulu. Perlahan tradisi kuno yang kadang dianggap aturan baku itu kini tampaknya luntur dikikis zaman. Bahkan, kini seakan-akan ada gerakan baru untuk membuat semua menjadi sama derajatnya. Itu bagus tentu saja. Yang miskin digenjot dengan berbagai program agar mereka bisa kaya, atau dalam bahasa umum disebut sejahtera, sama dengan sejahteranya orang-orang kaya. Petani belajar dan diajari dengan berbagai cara untuk bisa menjadi kaya. Misalnya bekerja giat untuk meningkatkan hasil panen, atau dalam bahasa Orde Baru, dilakukan intensifikasi pertanian dan ekstensifikasi pertanian. Banyak yang sukses, tampaknya lebih banyak yang gagal.
Cara yang lebih mudah juga banyak diterapkan pada zaman modern ini, misalnya ada petani yang kaya mendadak setelah menjual padi, sayur dan kolam ikan lengkap dengan semua tanah sekaligus sertifikatnya. Ada yang menjual dengan sengaja, ada juga yang menjual dengan terpaksa akibat sawahnya ditabrak jalan by-pass atau short-cut. Dan setelah kaya, ramai-ramailah mereka “memada-mada”. Mereka membangun rumah semegah puri, bahkan lebih megah dari puri-puri besar di masa lalu.
Gerakan petani miskin agar bisa jadi kaya akibat giat bekerja mengelola tanah sawahnya, lalu meniru-niru gaya orang kaya, tentu bisa disambut gembira. Tapi, gerakan meniru orang kaya dengan menjual tanah sawah tentu membuat miris.
Tapi, tunggu dulu. Ada hal yang sesungguhnya lebih membuat miris. Yakni, fenomena di mana banyak orang kaya “memada-mada” alias meniru-niru petani miskin. Salah satunya, orang kaya turut serta menanam sayur mayur di halaman rumahnya. Anehnya, gerakan-gerakan semacam ini kerap disambut gembira, bahkan kadang dilengkapi puja-puji dan decak kebanggan. Meniru petani miskin dengan ikut serta menanam sayur di halaman rumah mewah atau rumah megah, seakan-akan menjadi alasan mulia dan masuk akal untuk meningkatkan swasembaga pangan. Ah.
Maka dari itu, saya punya saran. Jika ada orang kaya membeli tanaman hias dengan harga yang sama dengan harga mobil untuk ditanam di rumahnya yang megah, janganlah mereka ditertawai, jangan disindir-sindir di media sosial. Rumah megah memang cocoknya berisi tanaman mahal. Jangan didorong-dorong untuk menanam sayur dan rempah-rempah dengan berbagai gaya dan metode modern. Jika mereka juga menanam sayur, lalu siapa yang membeli sayur milik petani yang mungkin saja biaya sekolah anak mereka bertopang sepenuhnya pada penjualan sayur?
Ingat, semahal apa pun tanaman hias dalam pot orang kaya di rumah megah, mereka tetap butuh sayur sebagai pelengkap menu sehari-hari. Belum pernah ada berita, daun janda bolong yang harganya selangit itu dipakai sayur. Tak pernah. [T]
Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja
Di Antara Cahaya dan Realitas MENJADI pengkarya (seniman) di Bali seringkali berarti berjalan di antara dua dunia: dunia ideal yang dipenuhi semangat berkesenian, dan dunia nya...
SETELAH hampir tujuh tahun sejak album terakhir mereka, Scared Of Bums (SOB) akhirnya kembali bangkit ke permukaan. Lewat perhelatan bertajuk “Before It Burns”, unit punk rock asa...
KITA hidup dalam era di mana publik nampaknya semakin sinis terhadap pejabat. Setiap kali muncul kasus korupsi, publik makin yakin bahwa semua pejabat jatuhnya sama saja. Dalam te...
DI ruang pamer Bale Daja Agung Rai Museum of Art, seorang lelaki berbatik hitam berdiri di samping karya yang tampak sederhana namun menyimpan gugatan mendalam terhadap nurani man...
SORE itu masyarakat Desa Mambalan, Lombok Barat, NTB, berkumpul terpusat di titik aliran Sungai Meninting, sebuah sungai yang mengalir di desa mereka. Mereka duduk bersila ibarat...
LEBIH dari 180 pembicara dari seluruh nusantara dan 30 negara lain akan berpartisipasi dalam Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025, festival sastra terbesar di Indonesia...
BULELENG sudah kalah sejak awal. Ungkapan itu barangkali tepat diujarkan ketika melihat hasil-hasil juara lomba pada ajang Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali ke-32 tahun 2025...
PESERTA putra dan putri dari Kabupaten Buleleng tetap menunjukkan rasa senang mereka dalam ajang Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali ke-32 tahun 2025 di Taman Budaya Bali, Denp...
KETIKA Richard Feynman menjelaskan teori Elektrodinamika Kuantum (Quantum Electrodynamics/QED), ia tidak hanya sedang berbicara tentang interaksi elektron dan foton. Ia sedang men...
AKU lahir dan besar di Sumatera, di tanah yang hijau dan ramai oleh hiruk-pikuk kota. Namun pada tahun 2015, langkah kakiku justru diarahkan jauh ke ujung timur Indonesia — ke&nbs...