SORE itu masyarakat Desa Mambalan, Lombok Barat, NTB, berkumpul terpusat di titik aliran Sungai Meninting, sebuah sungai yang mengalir di desa mereka. Mereka duduk bersila ibarat akar pohon tua yang kuat menyokong batang pohon.
Kepala tertunduk, nafas terukur, daras ing hati (melafatkan, mendaras niat suci dalam hati) di antara desis angin dan gemuruh air sungai.
Sore itu, Rabu, 15 Oktober 2025, digelar perayaan Gawe Ninting, tepatnya di Gegilen Sungai Meninting, Desa Mambalan. Ini sebuah ritual unik yang berkaitan peradaban air. Rangkaian acara ini akan berlangsung mulai 15 Oktober sampai dengan 30 Desember 2025.
Perayaan Gawe Ninting dimulai dengan ritual pemerasan “ pensucian” Gong Datu Pateq melalui air suci. Gong Datu Pateq adalah salah satu pusaka peninggalan pusaka peninggalan Kedatuan Mambalan yang berusia lebih dari 400 tahun. Kedatuan Datu Pateq dan silsilahnya tercatat sebagai cikal bakal kedatuan Mambalan abad ke-16 atau sekitar tahun 1648.
Prosesi ritual penurunan benda pusaka ini dikawal langsung oleh para tokoh adat, pedande dan masyarakat setempat. Ritual ini sebagai simbol penyatuan jagad besar “makrokosmos” dan jagad kecil “mikrokosmos” antara yang langit dan yang bumi dalam menjaga hubungan keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.
Keterangan yang diperoleh dari Komunitas SAGATRAH bersama pemuda lokal yang menjadi inisiator kegiatan Gawe Ninting menyebutkan Gawe Ninting bukan hanya sekedar rentetan ritual yang terhenti melalui kulit luar kemeriahan upacara semata.
Mereka ingin menggerakkan kembali ritual dan tradisi menjadi modal sosial untuk menanggapi perubahan dan tantangan arus modernisasi di masa yang akan datang.
Layaknya air yang sifatnya mengisi ruang, momentum perayaan gawe ninting disebut sebagai ruang belajar lintas generasi untuk terus tumbuh bersama dan menguatkan spirit masyarakat Mambalan itu sendiri. Melalui pelestarian warisan dan nilai-nilai leluhur.
Melalui kegiatan ini, tradisi menyediakan ruang untuk perbedaan, kreativitas, imajinasi, dan sudah tentu semangat perubahan. Perjalanan air dari gunung ke laut.
Gerak kembali pulang menengarai bekas bara, melangitkan doa untuk bumi, menerima pesan cahaya, melihat sendiri citra langit, merapal tumbuh dan melahirkan biji baru untuk kehidupan.
Gerak kembali demi kesatuan wujud menuju yang satu: “Manunggal”.
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...