Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Kebudayaan masyarakat masa lampau merupakan catatan sejarah yang sangat penting dan berharga. Kebudayaan tersebut dapat menjadi pedoman atau pegangan hidup bagi masyarakat masa kini dan masa yang akan datang, sehingga perlu untuk tetap mempelajari dan mewariskannya.
Salah satu kebudayaan tersebut ialah seni patung. Istilah patung dalam ilmu kepurbakalaan (arkeologi) disebut arca. Arca dalam Bahasa Sansekerta disebut bera, vigraha, atau vimba, yang berarti perwujudan dewa. Orang-orang India kemudian menggunakan istilah tanu dan rupa untuk arca guna mendekati rasa ke-Tuhanan. Arca bukan hanya merupakan sebuah karya seni semata, namun arca memiliki peranan yang penting dalam kegiatan peribadatan dan diikat oleh sejumlah ketentuan- ketentuan.
Siwa adalah salah satu tokoh dewata dalam hinduisme, sebagai dewa trimurti bersama-sama dengan Brahma dan Wisnu. Diantara ketiga dewa ini, Siwa berkedudukan paling tinggi. Kedudukan superior, yang dimiliki Siwa diuraikan dalam filsafat Saiwa-Siddhanta. Ajaran pokok filsafat Saiwa-Siddhanta adalah bahwa Siwa merupakan realitas tertinggi. Keberadaan jiwa atau roh pribadi adalah inti sari yang sama dengan Siwa, tetapi tidak identik.
Secara umum Siwa digambarkan bermahkota jatamakuta dengan hiasan ardhacandrakapala, merepresentasikan bahwa Siwa sebagai dewa penguasa dunia (Jagatnata), bertanggung jawab pada kehidupan sekaligus kematian dunia ini. Dilihat dari susunan bentuknya hiasan tersebut merupakan gabungan bulan sabit (ardhacandra) dengan tengkorak (kapala). Bulan sabit adalah simbol kehidupan atau mulainya kehidupan. Bulan sabit muncul setelah bulan mati dan setelah lima belas hari menjadi paripurna (bulan penuh) dan kembali mati (setelah purnama).
Dengan simbol ardhacandra, Siwa bertanggung jawab pada keberlangsungan hidup dunia ini. Ia yang menghidupkan, ia juga yang melenyapkan (menjadikan tiada). Kematian disimbolkan dengan hiasan kapala (tengkorak). Ciri-ciri badaniah lainnya, Siwa memiliki mata ketiga terdapat pada dahi dan membawa atribut aksamala, trisula, camara, kalasa, dan lain-lain.
Lalu sebenarnya seperti apa patung/arca dewa Siwa ini diwujudkan berdasarkan arca-arca kuno yang pernah ditemukan di Bali? Arca-arca dewa Siwa kuno ini dapat kita lihat satu di Pura Putra Bhatara Desa/Pura Desa Alit, Bedulu-Gianyar dan yang lain di Pura Pingit Melamba, Bunutin-Kintamani.
Arca Siwa di Pura Desa Alit digambarkan dengan sikap duduk ardhaparyangka (kaki kiri bersila dan kaki kanan ditekuk ke bawah) di atas padma, menggunakan jatamakuta (rambut yang dibentuk sebagai mahkota) berhiaskan ardhacandrakapala, bertangan empat (tangan kiri belakang memegang camara, tangan kanan dan kiri depan di lutut, namun telapak tangan telah patah, tangan kanan belakang memegang aksamala, tangan kanan depan di atas paha, tetapi bagian telapak patah), menggunakan kalung, upavita, gelang tangan dan kaki.
Dipandang dari gaya, arca tersebut berbentuk proporsional, muka menunjukkan ekspresi kedewataan (divine expresion), dan lemah lembut. Arca ini tergolong tipe dari abad VIII-IX Masehi. Adapun ciri-ciri dari arca periode tersebut antara lain lemah lembut, kegemuk-gemukan, bersikap tenang, mata setengah terbuka mengarah ke ujung hidung.

Sementara itu, arca Siwa di Pura Pingit Melamba yang digambarkan duduk bersila di atas asana padma ganda memiliki ciri-ciri kedewataan yang sama, bertangan empat masing-masing membawa atribut tangan kanan belakang membawa aksamala, dan tangan kiri belakang membawa kamandalu yang bertangkai dengan posisi jari manis dan kelingking menekannya. Tangan depan dalam sikap yogamudra, yaitu tangan kanan di atas tangan kiri, namun gaya seni yang ditampilkan agak kekaku-kakuan (istilah teknis yang sering digunakan untuk identifikasi gaya seni arca di Indonesia). Gaya seni seperti ini muncul pada abad X-XI Masehi.

Sumber Rujukan
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...