Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Kebudayaan masyarakat masa lampau merupakan catatan sejarah yang sangat penting dan berharga. Kebudayaan tersebut dapat menjadi pedoman atau pegangan hidup bagi masyarakat masa kini dan masa yang akan datang, sehingga perlu untuk tetap mempelajari dan mewariskannya.
Salah satu kebudayaan tersebut ialah seni patung. Istilah patung dalam ilmu kepurbakalaan (arkeologi) disebut arca. Arca dalam Bahasa Sansekerta disebut bera, vigraha, atau vimba, yang berarti perwujudan dewa. Orang-orang India kemudian menggunakan istilah tanu dan rupa untuk arca guna mendekati rasa ke-Tuhanan. Arca bukan hanya merupakan sebuah karya seni semata, namun arca memiliki peranan yang penting dalam kegiatan peribadatan dan diikat oleh sejumlah ketentuan- ketentuan.
Siwa adalah salah satu tokoh dewata dalam hinduisme, sebagai dewa trimurti bersama-sama dengan Brahma dan Wisnu. Diantara ketiga dewa ini, Siwa berkedudukan paling tinggi. Kedudukan superior, yang dimiliki Siwa diuraikan dalam filsafat Saiwa-Siddhanta. Ajaran pokok filsafat Saiwa-Siddhanta adalah bahwa Siwa merupakan realitas tertinggi. Keberadaan jiwa atau roh pribadi adalah inti sari yang sama dengan Siwa, tetapi tidak identik.
Secara umum Siwa digambarkan bermahkota jatamakuta dengan hiasan ardhacandrakapala, merepresentasikan bahwa Siwa sebagai dewa penguasa dunia (Jagatnata), bertanggung jawab pada kehidupan sekaligus kematian dunia ini. Dilihat dari susunan bentuknya hiasan tersebut merupakan gabungan bulan sabit (ardhacandra) dengan tengkorak (kapala). Bulan sabit adalah simbol kehidupan atau mulainya kehidupan. Bulan sabit muncul setelah bulan mati dan setelah lima belas hari menjadi paripurna (bulan penuh) dan kembali mati (setelah purnama).
Dengan simbol ardhacandra, Siwa bertanggung jawab pada keberlangsungan hidup dunia ini. Ia yang menghidupkan, ia juga yang melenyapkan (menjadikan tiada). Kematian disimbolkan dengan hiasan kapala (tengkorak). Ciri-ciri badaniah lainnya, Siwa memiliki mata ketiga terdapat pada dahi dan membawa atribut aksamala, trisula, camara, kalasa, dan lain-lain.
Lalu sebenarnya seperti apa patung/arca dewa Siwa ini diwujudkan berdasarkan arca-arca kuno yang pernah ditemukan di Bali? Arca-arca dewa Siwa kuno ini dapat kita lihat satu di Pura Putra Bhatara Desa/Pura Desa Alit, Bedulu-Gianyar dan yang lain di Pura Pingit Melamba, Bunutin-Kintamani.
Arca Siwa di Pura Desa Alit digambarkan dengan sikap duduk ardhaparyangka (kaki kiri bersila dan kaki kanan ditekuk ke bawah) di atas padma, menggunakan jatamakuta (rambut yang dibentuk sebagai mahkota) berhiaskan ardhacandrakapala, bertangan empat (tangan kiri belakang memegang camara, tangan kanan dan kiri depan di lutut, namun telapak tangan telah patah, tangan kanan belakang memegang aksamala, tangan kanan depan di atas paha, tetapi bagian telapak patah), menggunakan kalung, upavita, gelang tangan dan kaki.
Dipandang dari gaya, arca tersebut berbentuk proporsional, muka menunjukkan ekspresi kedewataan (divine expresion), dan lemah lembut. Arca ini tergolong tipe dari abad VIII-IX Masehi. Adapun ciri-ciri dari arca periode tersebut antara lain lemah lembut, kegemuk-gemukan, bersikap tenang, mata setengah terbuka mengarah ke ujung hidung.

Sementara itu, arca Siwa di Pura Pingit Melamba yang digambarkan duduk bersila di atas asana padma ganda memiliki ciri-ciri kedewataan yang sama, bertangan empat masing-masing membawa atribut tangan kanan belakang membawa aksamala, dan tangan kiri belakang membawa kamandalu yang bertangkai dengan posisi jari manis dan kelingking menekannya. Tangan depan dalam sikap yogamudra, yaitu tangan kanan di atas tangan kiri, namun gaya seni yang ditampilkan agak kekaku-kakuan (istilah teknis yang sering digunakan untuk identifikasi gaya seni arca di Indonesia). Gaya seni seperti ini muncul pada abad X-XI Masehi.

Sumber Rujukan
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...