Yang Baru dan Yang Hilang di Pesta Kesenian Bali 2019
Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019 ini menampilkan sejumlah fakta-fakta baru yang membuat PKB tahun ini terkesan agak-agak berubah. Ada yang baru, ada juga yang hilang. Ap...
Menurut cerita dari beberapa kawan yang spiritual dan sudah sampai pada tingkatan tinggi, konon semakin orang meningkat tapanya, makin meningkat juga gairah seksnya. Kedua hal itu [tapa dan seks] katanya dengan sangat meyakinkan, didasari oleh satu hal yang sama. Hal itu adalah Kama. Dengan cara yang lebih meyakinkan lagi, para sahabat saya itu berbaik hati menceritakan kepada saya salah satu bagian dari kakawin Arjuna Wiwaha. Tepatnya pada bagian ketika Arjuna digoda oleh tujuh bidadari.
Singkat padat dan jelas cerita itu mengalir ke telinga saya dan ke otak saya. Intinya, Arjuna yang semakin memperteguh tapanya konon juga semakin meninggi juga libidonya. Ketinggian dari libido itulah yang disimbolkan oleh bidadari. Saya tidak bertanya, dan seolah-olah mengerti apa yang mereka maksud dengan libido. Barangkali yang dimaksud dengan libido, adalah Kama.
Di ujung dari cerita itu, mereka dengan mata berbinar menerjemahkan maksud dari cerita epic yang baru saja saya dengar. Katanya, jika kita bisa mengendalikan Kama, maka anugerah Shiwa akan kita dapatkan. Sama seperti Arjuna. Dengan agak ragu saya bertanya, apa anugerahnya? Super tegas jawaban mereka: Manusia Sakti, tingkatan Sadhasiwa!
Begitulah cerita kemenangan Arjuna versi sahabat-sahabat saya. Saya melihat kebahagiaan yang luar biasa ketika mereka menceritakan cerita itu kepada saya. Saya sebagai pendengar, bertugas mendengan dan memikirkan lagi segala cerita itu. Dahulu, sahabat saya yang lain pernah bertanya pada suatu diskusi kepada seseorang. Karena ia adalah orang yang cerdas, pertanyaannya dilandasi oleh suatu pernyataan. Pernyataannya begini.
“Segala hal yang dimenangkan di dalam cerita, sering kali justru kalah dalam dunia nyata. Jadi apa yang dimenangkan oleh pengarang, dan apa yang kalah dari dirinya di dunia nyata?”
Jawabannya masih saya ingat, tapi tidak akan saya ceritakan disini. Jawaban atas pertanyaan itu, ada di dalam konteks lain. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya setuju dengan pertanyaan itu. “Jadi, bagaimana jika kita gagal mengendalikan Kama? Bahkan justru sebaliknya, kita yang dikendalikan olehnya?”.
Seks bagi mereka yang telah sah secara tradisi dan agama, tentu saja tidak bermasalah. Tapi bagaimana dengan mereka yang belum menikah, bahkan yang jomblo? Bagaimana caranya?
Pertanyaan itu barangkali dijawab oleh teman saya dalam hatinya masing-masing dengan kata: masturbasi. Kata ini masih tabu untuk dikatakan. Karena tidak sedikit orang yang jijik mengatakannya, tapi mempraktikkannya. Kata itu tidak juga keluar dari bibir manis mereka yang tadi menceritakan segala hal tentang kebaikan. Lalu saya bertanya dengan pelan, “Masturbasi?”. Jika iya, tidakkah itu dosa? Bahkan mengucapkannya saja dilarang oleh consensus masyarakat bermoral tinggi, apalagi melakukannya.
Jika itu dosa, biarlah kita lenyapkan pada malam Shiwa yang datang saban tahun! Begitu pikir saya. Apakah ada jaminan bahwa dosa masturbasi itu bisa dilebur saat malam Shiwa? ADA. Begini bunyinya.
viva (virya) pracyāvakaś caiva linggapradhvaṃsakas tathā
mucyate nātra saṃdehaḥ śivarātryāṃ śivārcanat [39]
[demikian juga laki-laki yang masturbasi dan yang mengudungi kemaluannya: tidak diragukan mereka akan terbebas sebagai hasil pemujaannya pada Shiwa di Malam Shiwa itu] [Palguna, 1998: 73]
Dengan berlindung kepada terjemahan atas sloka di atas, saya menyatakan bahwa masturbasi yang konon adalah dosa itu, bisa dibebaskan belenggunya dari kehidupan kita yang konon super suci ini. Cara pembebasannya adalah dengan terjaga sepanjang malam dan melakukan brata Shiwa. Jadi setelah masturbasi, orang bisa melakukan praktik Shiwaratri. Tapi bagaimana kalau masturbasi dilakukan saat Shiwaratri? [T]
Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019 ini menampilkan sejumlah fakta-fakta baru yang membuat PKB tahun ini terkesan agak-agak berubah. Ada yang baru, ada juga yang hilang. Ap...
Kopi adalah salah satu minuman favorit bagi orang banyak. Tapi tidak bagi saya. Meskipun saya ini anak dari seorang buruh kopi (buruh ya, bukan pengusaha), sedikitpun saya tidak t...
“Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat” Bagaimana bisa? Bukankah raga dan pikiran satu kesatuan? Keduanya telah membangun jiwa kita atau akan mengakhirinya pula. Raga yang...
Ngunda Bayu adalah sebuah teknik rahasia dalam tari Bali dan juga diyakini harus dikuasai oleh seorang penari Bali. Ngunda Bayu ialah pengaturan nafas untuk mengendalika...
Para seniman rakyat dari kepulauan Nusa Penida yang mewakili Kabupaten Klungkung memberi warna lain pada pawai Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 di sekitaran Lapangan Bajr...
Kebiasaanku jalan kaki rata-rata 10.000 langkah sehari, main tenis dua kali seminggu, menyapu halaman rumah dan jalan di depan rumah, serta beraktifitas dengan anjing peliharaan d...
Cerpen: Ayu Sugiharti Pratiwi ___ “Bli De, Bli De…” Sudah sejak bangun tidur Gek Istri menyebut-nyebut nama suaminya sambil memetik daun bambu dari pohon yang menyelinap...
ASYIK bercakap dengan Prof. Timbul Haryono (arkeolog UGM), Prof F.X. Mudji Sutrisno (filsuf dan romo), Prof Sumarsam (maestro gambelan, guru besar Wesleyan University), di lobby T...
BENTENG Mayat yang tertidur itu kaku. Tak terkubur tak berumur. Ia telah mengenal kekalahan dengan nafsi, dan tahu pasti, ia akan segera dihukum mati Tetapi ia t...
Dunia medis identik dengan keseriusan. Kalau anda meragukannya, mungkin anda akan dibilang kurang waras. Bahkan kalau anda menanyakannya langsung pada mereka, barangkali jaw...