Einstein dan Tagore: Pertemuan Sains dan Spiritualitas
ADA satu foto tua yang sering beredar di media sosial: Albert Einstein berjalan berdampingan dengan Rabindranath Tagore, penyair besar India. Einstein dengan jas abu-abu, rambut a...
Menurut cerita dari beberapa kawan yang spiritual dan sudah sampai pada tingkatan tinggi, konon semakin orang meningkat tapanya, makin meningkat juga gairah seksnya. Kedua hal itu [tapa dan seks] katanya dengan sangat meyakinkan, didasari oleh satu hal yang sama. Hal itu adalah Kama. Dengan cara yang lebih meyakinkan lagi, para sahabat saya itu berbaik hati menceritakan kepada saya salah satu bagian dari kakawin Arjuna Wiwaha. Tepatnya pada bagian ketika Arjuna digoda oleh tujuh bidadari.
Singkat padat dan jelas cerita itu mengalir ke telinga saya dan ke otak saya. Intinya, Arjuna yang semakin memperteguh tapanya konon juga semakin meninggi juga libidonya. Ketinggian dari libido itulah yang disimbolkan oleh bidadari. Saya tidak bertanya, dan seolah-olah mengerti apa yang mereka maksud dengan libido. Barangkali yang dimaksud dengan libido, adalah Kama.
Di ujung dari cerita itu, mereka dengan mata berbinar menerjemahkan maksud dari cerita epic yang baru saja saya dengar. Katanya, jika kita bisa mengendalikan Kama, maka anugerah Shiwa akan kita dapatkan. Sama seperti Arjuna. Dengan agak ragu saya bertanya, apa anugerahnya? Super tegas jawaban mereka: Manusia Sakti, tingkatan Sadhasiwa!
Begitulah cerita kemenangan Arjuna versi sahabat-sahabat saya. Saya melihat kebahagiaan yang luar biasa ketika mereka menceritakan cerita itu kepada saya. Saya sebagai pendengar, bertugas mendengan dan memikirkan lagi segala cerita itu. Dahulu, sahabat saya yang lain pernah bertanya pada suatu diskusi kepada seseorang. Karena ia adalah orang yang cerdas, pertanyaannya dilandasi oleh suatu pernyataan. Pernyataannya begini.
“Segala hal yang dimenangkan di dalam cerita, sering kali justru kalah dalam dunia nyata. Jadi apa yang dimenangkan oleh pengarang, dan apa yang kalah dari dirinya di dunia nyata?”
Jawabannya masih saya ingat, tapi tidak akan saya ceritakan disini. Jawaban atas pertanyaan itu, ada di dalam konteks lain. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya setuju dengan pertanyaan itu. “Jadi, bagaimana jika kita gagal mengendalikan Kama? Bahkan justru sebaliknya, kita yang dikendalikan olehnya?”.
Seks bagi mereka yang telah sah secara tradisi dan agama, tentu saja tidak bermasalah. Tapi bagaimana dengan mereka yang belum menikah, bahkan yang jomblo? Bagaimana caranya?
Pertanyaan itu barangkali dijawab oleh teman saya dalam hatinya masing-masing dengan kata: masturbasi. Kata ini masih tabu untuk dikatakan. Karena tidak sedikit orang yang jijik mengatakannya, tapi mempraktikkannya. Kata itu tidak juga keluar dari bibir manis mereka yang tadi menceritakan segala hal tentang kebaikan. Lalu saya bertanya dengan pelan, “Masturbasi?”. Jika iya, tidakkah itu dosa? Bahkan mengucapkannya saja dilarang oleh consensus masyarakat bermoral tinggi, apalagi melakukannya.
Jika itu dosa, biarlah kita lenyapkan pada malam Shiwa yang datang saban tahun! Begitu pikir saya. Apakah ada jaminan bahwa dosa masturbasi itu bisa dilebur saat malam Shiwa? ADA. Begini bunyinya.
viva (virya) pracyāvakaś caiva linggapradhvaṃsakas tathā
mucyate nātra saṃdehaḥ śivarātryāṃ śivārcanat [39]
[demikian juga laki-laki yang masturbasi dan yang mengudungi kemaluannya: tidak diragukan mereka akan terbebas sebagai hasil pemujaannya pada Shiwa di Malam Shiwa itu] [Palguna, 1998: 73]
Dengan berlindung kepada terjemahan atas sloka di atas, saya menyatakan bahwa masturbasi yang konon adalah dosa itu, bisa dibebaskan belenggunya dari kehidupan kita yang konon super suci ini. Cara pembebasannya adalah dengan terjaga sepanjang malam dan melakukan brata Shiwa. Jadi setelah masturbasi, orang bisa melakukan praktik Shiwaratri. Tapi bagaimana kalau masturbasi dilakukan saat Shiwaratri? [T]
ADA satu foto tua yang sering beredar di media sosial: Albert Einstein berjalan berdampingan dengan Rabindranath Tagore, penyair besar India. Einstein dengan jas abu-abu, rambut a...
BEBERAPA hari lalu, saya menerima sebuah kiriman istimewa dari Bang Nestor Rico Tambunan: sebuah buku puisi yang langsung memanggil mata dan rasa sejak pertama disentuh. Sampulnya...
SIANG itu anak-anak mulai berdatangan ke Festival ke Uma V, di Subak Sidangrapuh, Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Tabanan, Minggu, 28 September 2025. Mereka datang bergerombo...
JIKA sakit dan perlu obat, maka pergilah ke dokter atau apotek.Demikianlah di jaman sekarang yang kita tahu solusi menuju jalan kesembuhan secara cepat. Tapi apakah ada jalan l...
Pariwisata di Tanah Air sedang tidak baik-baik saja. Bukan persoalan angka kunjungan wisatawan. Bukan pula tentang devisa negara yang diperoleh dari sektor pariwisata. Industri pa...
Isu pengakuan Palestina sering digambarkan sebagai persoalan moral dan kemanusiaan. Tapi mari jujur, bahwa politik internasional jarang sekali murni soal moral. Data penelitian ya...
BIJI Art Space ialah ruang jeda. Di luar, riuh lampu jalanan Ubud. Di dalam, sunyi yang berbicara. Pameran “Vivid Expression" (28 September – 16 Oktober 2025) menjanjikan spektrum...
SUASANA rumah sederhana milik keluarga Putu Arnaya (40) di Banjar Dinas Tamblingan Desa Munduk, Buleleng, setiap hari selalu dipenuhi kesibukan. Di ruang tamu yang beralaskan tika...
Di Rumah Berdaya Denpasar, seniman penyintas skizofrenia dan anggota Bali Five menampilkan karya mereka dalam pameran “Ekspresi Kebahagiaan”, membuktikan bahwa seni bukan sekadar...
(Dibacakan di Rumah Berdaya Denpasar, pada pembukaan pameran lukisan “Ekspresi Kebahagiaan, Sabtu 27 September 2025) Skizofrenia Suara-suara ituMakin menggangguAku tak paham...