Istri yang Manis Tak Digigit Nyamuk
SAYA punya istri yang alergi pada asap. Apalagi saat tidur. Maka ia tak suka menyalakan obat anti nyamuk bakar, juga obat anti nyamuk lainnya yang berbau menyengat. Tapi,...
“Covid-19 meminta hati setiap insan untuk bersatu saat tubuh mereka harus berjauhan”
Ungkapan di atas rasanya dapat mewakili suasana lahir batin setiap manusia di bumi saat ini. Sepanjang warsa 2020, pikiran dan tenaga kita telah terkuras hingga tertatih kelelahan tak berdaya menahan hempasan pandemi Covid-19. Tak seperti bencana banjir atau tsunami yang kasat mata menyeret kita ke jurang kematian, virus Corona membunuh berantai secara “misterius”. Bahkan seperti aksi cerdik agen rahasia terlatih, ia tanpa kita sadari telah hadir di ruang tidur, rumah, kantor, pasar, kampus atau tempat nongkrong favorit kita. Karena sebagian besar darinya tak menunjukkan gejala apapun.
Demikianlah situasinya, hingga kita perlu curiga setiap orang adalah “penyusup”, suasana kehidupan yang menyudutkan setiap orang pada rasa takut dan penuh syak wasangka. “Jangan-jangan kaulah pembawa virus Corona jahanam itu?!” Lalu kita tercerai berai, saling menjauhkan raga-raga kita dengan yang lain. Karena mungkin saja satu atau banyak di antara mereka telah tersusupi virus Corona. Jangan-jangan, aku pun telah terinfeksi tanpa kusadari. Saat akhirnya kita sadar kita semua punya risiko terinfeksi maka perlahan telah menumbuhkan rasa empati dan simpati pada setiap hati kita untuk selalu berangkulan. Meski raga-raga di antara kita harus berjauhan.
Wabah Covid-19 nyatanya memang telah menjejali kita berbagai diskursus multidimensional. Tentu saja tak sekadar persoalan terapi medis semata, pandemi yang telah menginfeksi hingga 60 juta orang dan 1.5 juta korban jiwa telah mengobarkan ambisi kecemerlangan sains yang seakan telah dipermalukan oleh jasad renik yang membingungkan ini.
Dalam sejarah medis, baru kali inilah ilmuwan telah menciptakan vaksin dalam waktu yang sangat singkat dan cepat. Beberapa telah melewati fase 3 (riset pada sampel jumlah besar) dengan efikasi mencapai 95%. Ini jelas pencapaian luar biasa. Baru kali ini pula, para dokter telah memberikan berbagai terapi sekaligus mencatatnya sebagai riset. Terapi plasma konvalesen misalnya, plasma yang diambil dari pasien yang sudah sembuh yang diasumsikan mengandung banyak antibodi lalu ditransfusikan pada pasien Covid-19 derajat berat dan kritis. Jangan lupa juga ilmuwan telah berjibaku menghasilkan berbagai metode diagnosis yang dapat bekerja dengan cepat (rapid test) hingga distribusi alat mesisn canggih PCR sampai ke daerah-daerah. Jika bukan karena wabah ini, metode pemeriksaan berbasis gen mikroba (RNA/DNA) mungkin cuma sekadar teori di buku-buku kedokteran untuk kita di rumah sakit daerah.
Aspek kedua yang paling tajam dibahas adalah, apalagi kalau bukan bidang ekonomi. Dunia memang telah kehilangan peluang ekonomi senilai lebih dari 100 kuadrilium rupiah. Kemarahan dan rasa frustasi pekerja yang telah kehilangan sumber penghasilannya telah menuntut tanggung jawab pemerintah. Virus Corona sepertinya mengingatkan kepada semua orang dan pemerintah, kita tak bisa menyandarkan tiang ekonomi hanya pada satu sektor saja.
Bali misalnya, yang tanpa kita sadari telah membuat terlena karena merupakan tujuan wisata utama dunia, kini terbenam karena tiang ekonomi yang terlampau dipuja-puja itu kini telah roboh digerogoti Covid-19. Kita semua belum yakin entah kapan tiang tersebut akan kita bisa pancangkan lagi. Bahkan kebijakan hari ini, syarat swab PCR negatif jika masuk Bali melalui jalur udara, pun telah membuat situasi pariwisata semakin sulit. Namun ini pilihan pahit yang sepertinya memang harus diambil. Tentu saja karena data angka positif Covid-19 nasional masih menjulang tinggi, 18%, jauh melampaui standar WHO yang hanya 5%. Sudah saatnya, pemerintah menginisiasi dan terus mendukung pengembangan sektor ekonomi alternatif yang lebih tahan menghadapi dampak wabah global. Kenapa tidak kembali saja pada tradisi terbaik kita, bertani dan nelayan? Sudah seharusnya tak ragu-ragu kembali pada tahah dan air, karena keduanya adalah sumber kehidupan utama.
Yang tak kalah menarik dari dinamika wabah selama tahun 2020 adalah, pandemi terbukti tak kuasa menahan syahwat politik manusia. Entah bagaimana politik merasuki jiwa dan raga manusia, nyatanya ia tak takut dengan virus Corona. Pilkada sebagai kontestasi politik, tetap berjalan, ia seakan punya satu ruang yang kebal tak terjamah oleh wabah. Bukan cuma di tempat kita sebagai bangsa yang sedang berkembang, pun terjadi di negera maju dan modern seperti USA. Bahkan kekalahan petahana Donald Trump masih dikaitkan dengan isu wabah yang tak bagus diurusi oleh presiden yang dikenal megalomania ini. Dari wabah yang mengerikan ini, politik kembali meyakinkan kita semua sebagai satu entitas produk pemikiran dan budaya manusia yang memiliki potensi kekuatan yang dapat mengalahkan segalanya. Bayangkan saja, jika pemenang pesta demokrasi itu adalah figur-figur “kegelapan”, maka sudah dipastikan masyarakatnya bakal didera wabah yang tak kunjung usai, seperti wabah The Black Death diabad ke-11.
Virus Corona telah menitipkan berbagai misteri yang boleh kita kuak satu per satu. Setiap misteri meminta hasrat kita untuk memasuki kedalamannya hingga menemui segala hakikat yang terpendam. Setiap hakikat selalu benar adanya sesuai dengan hukum alam yang sangat adil dan kekal.
Maka ia hanya butuh keikhlasan kita untuk dapat menerima dan memahaminya. Ikhlas, tampaknya pencapain tertinggi yang telah menuntun kita untuk dapat melihat, segalanya adalah memang baik-baik saja. Bukan saja karena seorang rohaniwan masyur, Ajahn Brahmn menyetujui gagasan ini, “All is well”. Namun karena faktanya memang demikian, tak hanya virus Corona yang telah meminta kita untuk pulang tinggal di rumah (social distancing) agar dunia saat ini dapat menjadi lebih baik, sabda Sang Budha pun demikian, “Jika engkau ingin memperbaiki dunia, pulanglah, temui keluargamu!” [T]
SAYA punya istri yang alergi pada asap. Apalagi saat tidur. Maka ia tak suka menyalakan obat anti nyamuk bakar, juga obat anti nyamuk lainnya yang berbau menyengat. Tapi,...
Cerpen: Agus Wiratama ANGIN menghanyutkan aroma tanah yang berbeda. Air mata dan aroma busuk bercampur lalu disajikan oleh tarian angin pada setiap hidung sebagai parfum pen...
TIAP musim liburan tiba, Yogyakarta diserbu pengunjung dari berbagai kota. Ini berkaitan erat dengan fenomena wisata Yogya yang berbasis wisatawan dalam negeri. Bahkan bebe...
HARI libur Natal, seseorang mengantar paket ke rumah saya. Sebuah bungkusan yang membuat saya bertanya-tanya. Apa gerangan isi paket tersebut. Apakah kado Natal, parcel, at...
DESA Munduk di Kecamatan Banjar, Buleleng, adalah desa yang terkenal. Ya, terkenal karena cengkeh. Ya, karena kopi. Ya, kini terkenal karena perkembangan pariwisata. Untuk...
BUKAN Butet Kertaredjasa namanya jika ia tak tersenyum dengan bibir khasnya, sekaligus membuat orang lain tersenyum, bahkan ngakak. Kita sejak lama bisa melihat pembuktiann...
MENJADI wartawan di Indonesia kini disyaratkan untuk lulus uji kompetensi dibawah pengawasan Dewan Pers. Ada 3 tingkatan komptensi wartawan, yakni muda, madya dan utama. Le...
. GIRI TOHLANGKIR Gelisah hari ini, gemuruh lumpur abu menyeret kaki sepasang ayam hutan terhempas ke ceruk Tukad Yeh Unda ikan-ikan lampus di pusaran takdir capung air terbang r...
DALAM konteks dunia perteateran di Bali, khususnya dalam konteks Festival Monolog 100 Putu Wijaya, saya secara pribadi sangat ingin menulis Teater Kalangan karena bagi saya...
BULAN Desember sebentar lagi berlalu dan tahun baru segera tiba. Di sebuah grup WA seorang kerabat mengirim tulisan tentang resolusinya di tahun 2018 dan menanyakan kepada...