Arnata Pakangraras# Puisi-puisi: Giri Tohlangkir, Jalan Menuju Ingatan

Arnata Pakangraras
by Arnata Pakangraras — Desember 27, 2017 in Puisi

Tatkala.co
. GIRI TOHLANGKIR Gelisah hari ini, gemuruh lumpur abu menyeret kaki sepasang ayam hutan terhempas ke ceruk Tukad Yeh Unda ikan-ikan lampus di pusaran takdir capung air terbang rendah dalam pikiran Gelisah hari ini, rumah-rumah menjauh canang sari kering di sanggah pemerajan di jalan orang lalu lalang memanggul beban yang belum sempat dibagi seekor kucing melompat dari balik penunggun karang api matanya redup lolong anjing senjakala, berputar-putar mencari tuan sejatinya perih penantian Pasar perempatan desa, suwung! janur, kembang, buah-buahan, palawija, sayur-mayur layu di ladang kubayangkan dapur ibu, api tungku padam tak ada asap kopi tak ada singkong rebus apalagi wangi sambal matah seonggok kayu bakar menebar bau getah O, Giri Tohlangkir siapakah membangunkan tidur panjangmu? membentang kelir silam di langit Besakih tentang gema kidung wargasari Eka Dasa Rudra tentang matahari hilang tentang ribuan kematian menyambut anak-anak api yang berlarian menuruni lereng purba dan sungai-sungai menuju lautMu Aku menduga-duga waktu sampai di halaman pura kawitan di halaman buku tua. (Nop. 2017) APAKAH RINDU Yang diam-diam mengendapkan pikiran disecangkir espresso bertuang susu panas sebagai barista melukis wajahmudi permukaan cahaya ruangyang menyamarkan senyummu mempertemukan bibir kita dalam setiap tegukan sehingga tandas Aku tahu, gerimis selalu turun darilangit kamar gelisah tidurmu Mengertilah bahwajarak tak hanya menumbuhkan rindu tapi jugagelombang Di ranting kecil, kesetiaan sepasang burungberayun-ayun teruji hembus angin Di perbatasan pulau ini, kutunggu seekor merpati melintas sebab kepak sayapnya lebih mengerti degup jantung Suatu hari, akupun menjelma menjadi seekor merpati! (Des.2017) JALAN MENUJU INGATAN : anakku Tubuhmu sangat lelap seperti awal mula doa menidurkanmu Waktu mencatat setiap peristiwa indah dan pilu dalam satu paragraf meski dihapus selalu ada jalan menuju ingatan Aku tahu, hadirmu sebagai angin menyentuh tengkukku mainkanlah daun pintu itu, nak! biar deritnya menghujam dada menembus tulang belikat akan kupikul beban ini dengan kekuatan lain dengan hembusan napas panjang sepanjang hembusan napas Kau tahu, kalender niscaya menuliskan hari baik untuk setiap perjalanan jauh kau menarik sauh, memanggil elang laut menatap tajam lekuk ombak yang membelah di lambung perahu Namun badai menghempas, nak! perahu oleng ke teluk paling senyap layar kuncup, matamu kuncup bahkan kau lupa melambaikan tangan, kepadaku. (Des 2017) SERINDU DAUN SERINDU POHON : ibu Apakah, suatu saat, awan kembali ke asap asap kembali ke api, api kembali ke nyala tungku dimana seorang ibu khidmat menanak butiran beras hasil panen sendiri Serindu daun kepada pohon yang memberinya pucuk serindu pohon kepada akar yang memberinya nutrisi aku melekat dalam pelukanmu bersembunyi dari kejahilan Bhuta Kala lalu mengembara ke penjuru ruang dongeng-dongengmu : sejatinya damai ialah pulas di ayunan tanganmu Menunggu di teras aroma jajanan pasar berhamburan dari celah keranjang bambu di atas kepalamu bubur sumsum bersiram gula merah klepon pandan pecah di langit langit mulut : sejatinya nikmat ialah mencecap suapan tanganmu "Langit yang sering kita pandang bukan sekadar ruang kosong", ucapmu suatu ketika dan aku tak mengerti Lepuh kaki jejak jarak tak bertepi berilah satu isyarat, kepadaku bahwa dirimu baik baik saja sebelum punggungmu lenyap di tikungan Maha sunyi padamkan segenap api tubuh kelopak matamu menguncup tak mengaduh kepada penumpah hujan paling kuyup Akupun, suatu saat, menempuh jalan sama mencari keberadaanmu, ibu diantara orang-orang suci "Waktu tak pernah menoleh setiap panggilan tapi surya tenggelam di horizon adalah perjalanan terbit ke tempat lain", ucapmu suatu ketika dan aku sedang belajar mengerti. (Juli 2017)
Tag: Puisi
Avatar

Arnata Pakangraras

Related Posts