Titip-Menitip Sampah
SEBUAH tempat pembuangan ditutup. Keputusan itu tentu tidak disambut tepuk tangan, apalagi optimisme. Yang muncul justru kegelisahan, keberatan, dan penyesalan yang terasa datang...
Anak muda Bali kini umumnya jarang pernah melihat kalender Bali dalam bentuk lontar. Yang dilihat biasanya adalah "versi cetak lontar kalender" yang dipopulerkan oleh Bapak Bambang Gede Rawi, yang bisa kita sebut sebagai tokoh modernisasi kalender Bali. Beliau telah berjasa "memindahkan" isi lontar kalender ke bentuk kertas cetak sehingga bisa diproduksi massal.
Tentang tokoh kalender ini, beberapa sumber menyebutkan, sekitar awal 1940-an Gde Rawi yang menjabat sebagai perbekel di Celuk, Gianyar, terkenal sebagai pakar perhitungan baik buruk hari atau Wariga. Rumahnya menjadi tujuan bagi banyak orang untuk berkonsultasi tentang hari-hari baik untuk upacara dan kegiatan adat lainnya. Namanya sebagai ahli Wariga terkenal, akhirnya tokoh-tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar mendesaknya untuk menyusun kalender yang bisa jadi rujukan bersama umat awam. Awalnya ia menolak permintaan tersebut. Namun, dalam rapat-rapat sulinggih Bali-Lombok sekitar tahun 1948-1949, desakan tersebut ditulis dalan bentuk keputusan untuk menugasi dan memberi kepercayaan kepada Gde Rawi untuk menyusun kalender Bali yang bisa menjadi panduan masyarakat Bali. Setahun kemudian kalender hasil rumusannya tersebut dicetak oleh penerbit Pustaka Balimas. Semenjak itu kalender Bambang Gede Rawi tersebar sampai kini.
Lontar-lontar rujukannya tidak banyak diungkit. Ada berbagai rujukan yang dipakai diantaranya Lontar Indik Sasih, Lelanusan, Pawukon, Tenung Sapta Wara, Parindikan Dewasa, Tetubahan, serta berbagai lontar-lontar Wariga lainnya.
Lontar-lontar kalender umumnya berbentuk lontar embat-embatan yang digantung di bale atau dapur masyarakat Bali di masa lalu. Keberadaan kini sudah sangat jarang, umumnya hanya disimpan oleh pewarisnya yang kebanyakan tidak bisa membaca aksara Bali dan buta perhitungan kalender Bali versi lontar.
Dengan lontar-lontar kalender, dan juga pedoman tika (tabel-grafis-diagram terbuat dari kayu atau ulantaga yang berisi pedoman perhitungan kalender Bali), masyarakat Bali tradisional mengatur sedemikian rupa berbagai kegiatannya, dari bertani, beternak, menikah, mulai membangun rumah dan peresmian berbagai bangunan suci dan perumahan, serta berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali.


Berikut di bawah ini penjelasan sekilas apa itu kalender Bali dikutip dari kalenderbali.org
Kalender yang berkembang di masyarakat Hindu Bali yang sering disebut dengan Kalender Bali merupakan gabungan dari Kalender Gregorian (Kalender Masehi), Kalender Saka Bali dan Kalender Tika. Kalender Gregorian (Kalender Masehi) adalah kalender yang digunakan secara internasional yang menggunakan perhitungan Tahun (Tarikh) Masehi. Tarikh Masehi termasuk Tarikh Surya (Solar System). Kalender Saka Bali adalah Kalender Saka yang berkembang di Bali dengan menggunakan Tarikh Candra yang disesuaikan dengan Tarikh Surya. Sedangkan Kalender Tika merupakan kalender tradisional Bali yang termasuk non-astronomik, disusun berdasarkan Pawukon/Wuku dan Wewaran.
Kalender Tika tidak memperdulikan posisi astronomik sama sekali, namun penggunaannya bagi Masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari penggunaan Kalender Saka Bali. Upacara keagamaan (yadnya) seperti piodalan di Pura diselenggarakan selain berdasarkan Pawukon juga menggunakan Pananggal atau Panglong dalam Sistem Kalender Saka Bali. Walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Bali tetap menggunakan Kalender Gregorian yang ditetapkan secara internasional.
Kalender Bali menggunakan aturan sebagai berikut:
SEBUAH tempat pembuangan ditutup. Keputusan itu tentu tidak disambut tepuk tangan, apalagi optimisme. Yang muncul justru kegelisahan, keberatan, dan penyesalan yang terasa datang...
NYEPI sebagai hari suci umat Hindu di Bali tidak hanya merupakan praktik ritual tahunan, tetapi juga arena dialektika teks, otoritas, dan penafsiran. Polemik penentuan Tawur Agung...
DI tengah gempuran budaya digital dan globalisasi yang deras, suara-suara lokal dari Timur Indonesia justru semakin relevan untuk didengar. Salah satunya adalah puisi. Tak sekadar...
DI Kencu Ruang Seni di Kuta, Bali, pameran "Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif", sebuah rekonstruksi perjalanan kreatif para perupa yang pernah tergabung da...
PADA sore yang lambat di Rambutsiwi, Jembrana, Bali, Sabtu, 20 Desember 2025, bambu-bambu itu seolah ikut mendengarkan. Anjungan Cerdas Mandiri—yang untuk beberapa jam berubah men...
Presiden yang Mudah Disentuh DALAM tata negara modern, presiden adalah simbol tertinggi kedaulatan. Ia bukan sekadar kepala pemerintahan, melainkan perwujudan negara itu sendir...
BPD Indonesian Housekeeper's Association (IHKA) Bali secara resmi mengawali rangkaian agenda tahun 2026 dengan kegiatan melukat dan sembahyang bersama di Pura Mengening, Tampak Si...
---Sebuah catatan reflektif tentang pameran yang meleburkan batas-batas kelokalan MENJELANG satu purnama, sejak kami—para peraba mimpi—dipertemukan oleh sebuah perhelatan kebud...
BENCANA demi bencana terjadi di Tanah Air. Ironinya, bencana itu bukan semata karena faktor alam, tetapi juga lantaran ulah manusia. Tak terkecuali bencana yang terjadi di suatu d...
MALAM pergantian tahun kemarin kami syukuri bersama keluarga dengan menginap di salah satu hotel di daerah Lovina, Buleleng, Bali. Check in hotel bagi banyak keluarga adalah fo...