Jalan, Banyak Jalan, Jalan-Jalan atau Membuka Jalan?
"Banyak jalan menuju Roma" begitu kata bijak yang sering terlontar untuk membesarkan hati orang-orang yang merasa kecewa karena harapannya tak sesuai dengan kenyataan. Kata "R...
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
"Banyak jalan menuju Roma" begitu kata bijak yang sering terlontar untuk membesarkan hati orang-orang yang merasa kecewa karena harapannya tak sesuai dengan kenyataan. Kata "R...
Dusun Yeh Ketipat, Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, adalah salah satu daerah puncak di Jalan Raya Denpasar-Singaraja, yang bisa disebut sebagai wilayah perbatasan antara Kabupa...
Malam di awal tahun ini saya berkelana mencari sesuap tipat untuk saya masukkan ke dalam kantong perut ini. Prihal malam tahun baru kemarin, saya melewatkannya kembali. Ya, saya n...
KOPLAK beringsut dari meja kasir sebuah swalayan terbesar di Bali. Hatinya bungah. Senyumnya terus diumbar entah untuk siapa, jika diperhatikan, orang-orang termasuk sang kasir pa...
Seni rupa Bali ramai lagi. Setidaknya hal itu yang akhir-akhir ini berkelindan dalam pikiran saya. Beberapa bulan menjelang berakhirnya tahun 2018 dunia seni rupa Bali kembali...
Suatu hari Sonia menuturkan niatnya untuk mengajukan proposal sebuah proyek yang melibatkan para ibu (saya salah satunya) sebagai tokoh yang menginsipirasi,berjuang untuk keluarga...
Ada tiga alasan mengapa kita harus membaca buku “Jais Darga Namaku”. Pertama, Jais menjadi eksemplar dari perempuan Indonesia yang bisa meloloskan dirinya dari lingkunga...
Tawaran kehidupan yang lebih baik dengan pendapatan yang lebih besar membuat banyak orang datang berbondong-bondong dari desa ke kota, maka menumpuklah kendaraan di kota karena la...
“dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?“ --- Pramoedya Ananta Toer Kata-kata Pramoedya Ananta To...
Waktu di Bali dikenal dengan sebutan Kala. Kala yang berarti waktu, penyebutannya sering ditambahkan dengan kata Bhatara Kala, bukan Dewa Kala. Penyebutan ini terkait dengan waktu...