Malam di awal tahun ini saya berkelana mencari sesuap tipat untuk saya masukkan ke dalam kantong perut ini. Prihal malam tahun baru kemarin, saya melewatkannya kembali. Ya, saya ngantuk.
“Cuma ada kembang api saja kan? Dan ratusan ucapan
Happy New Year yang masuk ke ponsel saat tengah malam kan?” gumam saya ketika
baru bangun pagi tadi dan hendak mengambil gawai saya.
Malam ini saya dinner di salah satu senggol di tepi
kota Singaraja. Banyak warung makan tutup dan senggol lain yang jadi gebetan
saya juga ikut tutup karena semalam mereka habis begadang di malam tahun baru. Senggol
yang saya kunjungi ini sungguh sepi.
Saya rasa perlu menekankan hal ini bahwasannya sepi
itu sedikit pembeli bukan tidak ada pembeli. Singkat cerita, ketika saya
memesan tipat dengan porsi 7 ribu rupiah, saya duduk menghadap bapak penjual
tipat. Kebetulan hanya saya saja yang berbelanja dan makan di TKP saat itu.
Tipat porsi 7 ribu rupiah pun dihidangkan di hadapan
saya. Tatkala saya mengambil 2 kerupuk udang, ada seorang remaja yang
membonceng perempuan kecil (mungkin adiknya) dan memesan beberapa bungkus tipat
untuk dibawa ke rumah. Tak berselang lama, sepasang suami istri pun datang dan
memesan 4 bungkus tipat. Saya ingat sekali apa yang dikatakan ibu itu;
“Pak. Tipatnya 4 bungkus Pak ya. Yang satu gak
pedes. Ini bisa saya tinggal kan, Pak?” tanya Ibu itu
“Iya Bu,” jawab penjual tipat sembari mengulek bumbu
tipatnya
Kemudian ibu itu pergi ke entah kemana untuk
kemudian datang lagi nanti mengambil pesanan nya. Tak terasa tipat di piring
saya pun sudah habis. Lalu datang lagi seorang pembeli. Kali ini seorang bapak
bapak. Tampak ia memakai peci di kepalanya dan mengenakan sarung. Bapak ini
mengajak ngobrol si penjual tipat sebelum ia memesan.
Saya pikir mungkin mereka adalah teman atau hanya
sebatas hubungan pembeli yang sudah berlangganan. Dan bapak itu duduk di
sebelah kiri agak jauh dari tempat saya duduk. Kini kami berdua adalah pembeli
yang lebih memilih makan di TKP daripada dibungkus dan dibawa ke rumah.
Ketika meminum air mineral gelas disana, saya
terngiang akan satu hal. Remaja yang membonceng adiknya, sepasang suami istri
dan seorang bapak-bapak. Pertama, mari kita asumsikan bahwa remaja yang
membonceng adiknya tersebut membeli tipat untuk dibungkus dan diberikan kepada
orang di rumah yang notabene adalah orang tua mereka atau sanak keluarganya.
Sekarang kita sama kan persepsi bahwa pada kasus ini
para pembeli ialah mereka yang dilihat dari segi umur adalah para orang yang
sudah tua. Mungkin diperhalus saja menjadi para orang dewasa.
Kala itu saya teringat pesan ibu saya yang
kadang-kadang ingin sekali membeli tipat di dekat kampus bawah, membeli
gorengan di deket Telkom, membeli bakso di jalan mawar atau membeli es campur
di senggol dekat Gedung Kesenian. Tak hayal seperti para orang dewasa yang
membeli tipat di senggol ini. Kadang tempat makan yang diidamkan orang tua kita
bukanlah Warung Makan ABC, Kantin 321, Kaefsi atau yang lebih baru yaitu Mekdi.
Banyak lidah para orang dewasa yang nyaman ketika
memakan makanan di senggol. Dan faktanya adalah semakin kesini, para senggol
semakin tersaingi oleh kehadiran tempat makan modern dan para orang dewasa yang
mulai malas keluar rumah meski perut mereka mengidamkan makanan dari senggol
yang mereka suka.
Tak sampai disana, fenomena ojek online (OJOL) pun
kian membumbui rasa malas dari para orang dewasa untuk keluar rumah. Yang pada
akhirnya terjatuh dalam kondisi memesan OJOL untuk mengantarkan makanan dari
tempat makan modern tadi mengingat tempat makan modern tlah mengadakan
kerjasama dengan para OJOL ini.
Andai saja, hal serupa juga dilakukan pada para
pedagang kaki lima ini. Saya yakin para orang dewasa akan melepas masa rindu
nya dan senyum di wajah para pedagang akan lebih lebar dari biasa nya. Saya
sadar bahwa hal ini cukup sulit mengingat OJOL saat ini memiliki sebuah aturan
dalam menjalin kerjasama dengan tempat-tempat makan tertentu. Atau jikalau
ingin mudah, para pedagang bisa menambahkan jasa antar makanan (mungkin bisa
merekrut sanak keluarga). Tinggal tambahkan saja tulisan di plang gerobaknya
“MENERIMA PESAN ANTAR. HUB 08XXXXXXXX”
Dan jangan lupa untuk posting gebrakan ini di social
media karena peran penyebaran informasi via dunia maya terbukti sangat cepat.
Ya, memang hal ini cenderung tidak aman bagi penjual. Bisa saja kan mereka
ditipu pembeli? Bisa saja kan mereka di kasari pembeli? Kalau OJOL resmi,
mereka ada backingan. Lah ini? Ya, namanya juga ide baru. Gampang saja
sebenarnya.
Jika ingin agar OJOL untuk kaki lima ini bisa
sedikit lebih resmi atau minimal aman dan nyaman untuk dilaksanakan maka ajak
rekanan. Satukan tekad sama-sama bila perlu ajak pemerintah untuk mendukung
usaha-usaha kecil seperti ini. Ingat, ini jamannya kolaborasi bukan kompetisi.
Kita harus mengikuti perkembangan jaman saat ini. Mengikuti perkembangan jaman bukan berarti memaksakan apa yang tak mau bahkan tak bisa kita lakukan. Cukup disesuaikan saja dengan kemampuan dan kebutuhan sendiri.
OJOL untuk pedagang kaki lima tak mustahil bukan?