DISRUPSI EKOLOGI BATUR-KINTAMANI
— Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2025 Tanggal 5 Juli 2025 saya diundang ke Hotel Lakeview, Kintamani, Bangli, oleh Hindunesia untuk menjadi narasumber dalam sarasehan bertem...
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
— Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2025 Tanggal 5 Juli 2025 saya diundang ke Hotel Lakeview, Kintamani, Bangli, oleh Hindunesia untuk menjadi narasumber dalam sarasehan bertem...
MALAM, 26 dan 27 Juni 2025, para penggemar gamelan Bali khususnya fans baleganjur bergeliat. Bergeliat mendengar, menonton, berkomentar bahkan lebih jauh memprediksi nominasi sela...
DI tengah ramainya wacana sejarah Bali yang kerap memusat pada kerajaan-kerajaan besar atau tokoh bangsawan, nama I Wayan Rekennyaris tak dikenal. Padahal, beliau adalah satu dari...
SIDANG pembaca yang budiman, ada yang pelan-pelan hilang dari rumah kita. Bukan kursi kayu yang diganti sofa minimalis, bukan pula teko porselen yang digantikan oleh dispenser oto...
Anak-anak muda ini bergerak lincah. Mereka menghindari tali yang dimainkan oleh temannya yang bertugas sebagai pencari. Agar tidak sampai kena tali, mereka berusaha menghindar den...
MENYAKSIKAN pementasan Sekaa Gong Kebyar Taruna Jaya dari Banjar Lambing, Desa Mekar Bhuana, Kecamatan Abiansemal, duta Kabupaten Badung pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Legendari...
I Wayan Dede Putra Wiguna (22) tidak menyelesaikan kuliahnya dengan menulis skripsi. Ia memilih jalan lain, yaitu menulis buku. Bukan novel, bukan kumpulan puisi, melainkan buku b...
SUDAH dua purnama Putu Ari membisu di hadapan tanah kawitannya. Ia melihat sawah-sawahnya mulai rata. Alat-alat berat berderet menunjukkan keangkuhannya. Sebentar lagi, tanah kawi...
Lelaki di Gunung Batur ia duduk di samping gerobak kopi robustakopinya ditanam ayahnya sendiridi lereng yang sekarang menjadi tempat selfiedulu tanah itu disiram darah babi dan...
DI tengah riuh rendah dunia medis yang kerap identik dengan angka, diagnosa, dan prosedur yang kaku, nama dr. I Putu Dharma Krisna Aji, Sp.KJ mencuat sebagai sosok yang berbeda. I...