Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Yuditeha
by Yuditeha — Juli 06, 2025 in Puisi

Tatkala.co

Lelaki di Gunung Batur

ia duduk di samping gerobak kopi robusta
kopinya ditanam ayahnya sendiri
di lereng yang sekarang menjadi tempat selfie
dulu tanah itu disiram darah babi dan abu mayat
sekarang dipoles drone dan judul healing

di belakangnya gunung batur berdiri
seperti orang tua menyerah dan dilupakan anaknya
yang lebih suka menyapa google maps

ia memasak air dengan ketenangan mencurigakan
memakai ketel kecil tanpa gagang
mengukur suhu dengan punggung tangan
kalau air terlalu panas rasa hidup jadi getir
seperti mantan istri yang tidak benar-benar pergi

turis mendekat berharap mendengar kisah spiritual
tapi yang didengar tentang harga gas yang naik
dan anaknya yang tak pulang dua tahun

mereka pergi, kecewa tak ada kisah transendental
padahal sudah meditasi dua jam kemarin malam
lelaki itu tersenyum lalu berkata padaku
di sini yang paling jujur adalah tanah
ia bisa meledak kapan saja tapi lebih memilih diam

2025 


Monyet dan Lelaki di Ubud

seorang lelaki menggambar wajah sendiri di dinding pasar
matanya cekung hidungnya hilang
mungkin dicuri arwah penjaga pura
atau disembunyikan oleh kenangan buruk

ia menggambar setiap hari, tak menjual apa pun
ia hanya ingin memastikan
bahwa wajahnya masih ada di dunia ini
meski tak lagi ada di kaca

monyet melintasi bahunya meninggalkan sehelai bulu
yang menempel di cat basah, tak ada yang marah
di ubud monyet adalah saudara jauh
yang kadang mengambil dompet, juga perhatian

turis-turis lewat, mengira lelaki itu seniman jalanan
mereka selfie dengan wajah setengah jadi
dengan narasi pengantar tentang kesadaran diri

lelaki itu tak bicara tapi terus menggambar
bahkan saat hujan turun, bahkan saat pasar ditutup
ia tetap di sana karena katanya jika ia berhenti
ia takut wajahnya benar-benar menghilang
dan diganti wajah-wajah yang lebih mudah dibagikan

2025 


Pantai Lovina dan Kesunyian

di dermaga kecil, kapal-kapal bersandar seperti gigi tua
dicat ulang setiap musim agar tetap terlihat muda di mata

nelayan berseragam beraroma tabir surya dan minyak solar
menawarkan paket melihat lumba-lumba pukul lima pagi
tak boleh lebih karena lumba-lumba juga punya jadwal

seorang anak kecil berlari membawa seikat gelang plastik
bertuliskan kata-kata asing yang bahkan ia tak bisa baca
ia menawarkan ke setiap turis lalu tertidur di pelampung
bibirnya bergerak dalam tidur seolah masih menawar harga

lautnya tenang, hampir seperti lupa bagaimana caranya marah
atau mungkin hanya sedang malas

seekor lumba-lumba muncul dalam keheningan
semua kamera menjerit, semua wajah menganga
ia muncul sebentar lalu tenggelam

di kapal, seorang perempuan muda berkata
apakah itu tadi benar-benar lumba-lumba atau hanya bayangan
dari sesuatu yang pernah ingin ia percaya

tidak ada yang menjawab, kapal berputar pulang
kesunyian pun ikut dibawa dalam ransel
bersama magnet kulkas dan cerita separuh benar

2025 


Tirta Empul dan Perempuan yang Membawa Bekas Luka

pagi itu seorang perempuan datang membawa sesajen dan luka
ia menunduk di gerbang pura tidak memohon apa pun
hanya meletakkan sesuatu yang tampak seperti nama

ia masuk ke dalam kolam
pelan tanpa melihat ke sekeliling
sementara orang-orang membasuh diri seperti mencuci masa lalu
dengan harapan air tahu mana dosa dan mana kebetulan

lelaki muda di sebelahnya memotret dirinya sendiri
tiga kali lalu mencelupkan ponsel ke air
seolah ingin membaptis memori
ia tersenyum, pura-pura suci dalam sepuluh detik
lalu keluar lagi mencari colokan

perempuan itu tak bergerak, air menyentuh bahunya
lalu lehernya, lalu wajahnya
ia tenggelam dan waktu ikut menunduk

seorang pemangku memanggil tapi hanya angin yang menjawab
konon katanya beberapa orang memang tidak ingin kembali

2025
 

Tanah Lot dan Lelaki yang Menunggu

ia datang setiap minggu pukul delapan pagi
membawa nasi bungkus dan surat cinta
yang ditulis di balik kertas parkir
ia duduk di batu menghadap laut
menunggu air surut agar bisa jalan kaki ke pura

katanya ia pernah janji akan melamar sang kekasih
saat air benar-benar diam dan langit tak menawarkan badai
tapi air selalu naik
dan waktu tak pernah bisa diajak bicara baik-baik

orang-orang lalu-lalang mengambil foto
mengira ia bagian dari pertunjukan seperti penjual jagung rebus
atau bocah yang menyewakan kacamata hitam

seorang anak kecil bertanya kenapa kakek itu diam saja
ibunya menjawab, mungkin sedang bicara dengan laut

ia membuka bungkus nasinya, memakan setengah
menaruh sisanya di atas batu, untuk ikan atau dewa
ia tak tahu

di sore hari ombak datang lebih keras menghapus jejaknya
menyisakan tanya siapa sebenarnya yang ditunggu lelaki itu
laut atau seseorang yang tak pernah benar-benar pergi

2025

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole


[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain

https://tatkala.co/2025/06/23/puisi-puisi-tjahjono-widarmanto-riwayat-takziah-pulung-gantung/embed/#?secret=4BcpamXCIl#?secret=woAA45MiCi
https://tatkala.co/2025/01/12/puisi-puisi-sonhaji-abdullah-menyesap-manis-perih-hidup/embed/#?secret=bnbrTPPsw4#?secret=hpDA8X9CeK
https://tatkala.co/2025/01/04/puisi-puisi-muhammad-rifan-prianto-setelah-membaca-100-soneta-cinta-pablo-neruda/embed/#?secret=6mI2E6rU0J#?secret=PkkaVqSWTM
Tag: Puisi
Avatar

Yuditeha

Related Posts