Tak Terasa Hari Raya di Kota Denpasar
PAGERWESI, 10 September 2025 hari ini, yang semestinya dirayakan dengan penuh semangat, berubah menjadi air mata duka. Bencana banjir, untuk kesekian kalinya, merendam sebagian wi...
Masyarakat awam kadang berpikir kalau lontar-lontar isinya melulu black magic atau ajaran kuno. Kenyataan banyak yang tidak seperti itu.
Ada beragam lontar yang sangat "modern" seperti catatan absensi atau list anggota kelompok arisan atau pinjaman keuangan sebuah kampung. Lontar ini bisa disebut "lontar sekaa". Selain "lontar sekaa" ada "lontar ayahan" yang berisi kewajiban yang dikenakan pada krama. "Lontar kekenen" lain lagi, ini lontar berisi "kekenan" (apa yang dikenakan/diwajibkan untuk disumbang) ketika karya/odalan atau perayaan pura. Lontar "paling modern" adalah "lontar pajak tanah", temasuk di dalamnya pilpil.
Lontar pajak tanah adalah bukti pembayaran pajak tanah yang dinilai 'paling bernilai tinggi". Lontar ini ditandai dengan stempel kerajaan pada ujungnya, lalu berisi keterangan luasan dan lokasi tanah, dengan nama pemiliknya. Batas-batas tanah umumnya disebutkan. Dari bukti pembayaran pajak ini aset keluarga yang dulunya hanya berupa pipil bisa diproses menjadi sertifikat hak milik (SHM). Lontar-lontar ini berguna sebagai pelengkap dalam proses mengurus pipil menjadi sertifikat. Ini juga bisa menjadi bukti aset jika berurusan dengan pinjam-meminjam di masa lalu.
Lontar-lontar pajak tanah sangat diperlukan di zaman land reform masa kolonial. Banyak tanah diambil penguasa ketika itu kalau tidak bisa bayar pajak, kata para tetua. Kalau mampu membayar pajak dan bisa mengurus pipil, apalagi punya posisi sebagai pejabat kolonial, dan mahir berbahasa Belanda, yang bersangkutan akan sangat diuntungkan. Banyak "tanah gege" bisa dijadikan bagian dari "tanah milik" bila dekat dengan penguasa ketika itu. Jangan tanya kekuasaan para raja ketika itu. Ini sebab sampai kini — kalau tidak habis terjual — lingkar keturunan para raja dan sekitarnya masih berlimpah tanah waris. Umumnya juga lokasinya di titik-titik paling strategis dan punya harga jual tinggi.
Sekarang, yang terpenting dari keberadaan dari Lontar Pajak Tanah adalah tanahnya juga masih di tangan pewaris lontar. Ada pernah bahkan cukup sering terjadi, begitu sebuah keluarga ketemu lontar-lontar pembayaran pajak, mereka lantas mencari tanah leluhurnya itu, lalu mengklaim bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Tentu tidak semudah itu. Lontar-lontar pajak tanah bukan sertifikat tanah. Bisa jadi tanahnya sendiri telah dijual, tinggal lontar-lontar disimpan di rumah. Lontar-lontar bukti pajak ini bernilai tinggi, tentunya, kalau tanahnya masih sampai sekarang belum dijual ke investor atau belum sempat pindah tangan.
Banyak lontar pembayaran pajak tinggal lontarnya saja, tanahnya telah dijual karena judi atau berbagai alasan. Yang tertinggal hanya lontar-lontar pajak berserak di rumah pewarisnya, sementara itu tanahnya entah milik siapa sekarang. [T]
PAGERWESI, 10 September 2025 hari ini, yang semestinya dirayakan dengan penuh semangat, berubah menjadi air mata duka. Bencana banjir, untuk kesekian kalinya, merendam sebagian wi...
LUH Mas Sri Diana Wati, perempuan asal Kaliasem, Buleleng, itu, banyak menorehkan medali emas di Cabang olahraga Muaythai. Prestasinya tak hanya di dalam negeri, tetapi juga luar...
People do not make revolution eagerly any more than they do war. … A revolution takes place only when there is no other way out. … The masses advance and retreat several times bef...
BALI Bike Festival tahun 2025 menjadi festival yang berbeda, karena memadukan olahraga, seni, kuliner, hingga musik dalam satu perayaan penuh energi. Festival ini menghadirkan rat...
Orang asing tidak boleh punya tanah dengan status Hak Milik di Indonesia, kenapa? Apa bedanya dengan orang Indonesia? Teruss, kalau mau punya rumah bagimana? Pertanyaan-pertany...
SELAMA berkuliah di Program Studi Sastra Jawa Kuno, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, saya dan kawan-kawan telah banyak dibekali pengetahuan. Pengetahuan yang diberikan o...
MENYUSURI tiga puluh dua karya yang dipajang dalam pameran Rekoneksi 2025 di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat (30 Agustus-04 September) ini akan membawa kita pada pengalama...
DI kalangan mahasiswa, ada benda yang hampir tak pernah sekalipun absen dari keseharian, apa lagi jika bukan tas. Entah disampirkan di bahu atau digendong di punggung, tas menjadi...
MUNGKIN agak spekulatif, tapi ini bukan lelucon. Di tahun 2024, Tim Coulson dalam sesi wawancara dengan media London, The European, mengatakan bahwa gurita adalah kandidat yang le...
DI sebuah panggung berhias cahaya obor, jemari seorang penari legong bergetar lincah, setiap lirik matanya seolah menebar mantra yang membuat penonton terpesona. Di sudut lain pul...