PAHLAWAN
Edisi 11/11/2019 KOPLAK menutup matanya rapat-rapat. Di usianya yang tidak lagi muda, banyak sekali persoalan-persoalan besar yang bergentanyangan mendarat di dalam pikirannya,...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
Edisi 11/11/2019 KOPLAK menutup matanya rapat-rapat. Di usianya yang tidak lagi muda, banyak sekali persoalan-persoalan besar yang bergentanyangan mendarat di dalam pikirannya,...
"Rambut tanda-tanda bakal gondrong,cukur nggak ya?" Sebuah caption dalam whatsapp story kubagikan di lingkaran relasi dan dosen saat itu aku masih KKN yang menyita jatah libur...
BEBERAPA bulan lalu, saya sempat menulis tentang arak Bali. Artikel yang saya tulis sambil lalu, sambil meminum beberapa sloki arak Bali. Saat melancong ke Desa Tembok, id...
Institut Prancis Indonesia (IFI) dan Alliance Francaise (AF) Bali bekerja sama dengan Bentara Budaya Bali (BBB) menghadirkan Festival Sinema Prancis 2019. Pemutaran film yang tera...
Hiruk pikuk modernitas menjadi isnpirasi bagi penulis-penulis muda Bali. Dampak dari tajamnya laju modernitas ini menimbulkan rasa cemas, khawatir, krisis eksistensi, dan depresi...
A. Gambaran Umum Eka Kurniawan dalam lamannya menuliskan bahwa sebuah media sastra seharusnya lahir dari satu gagasan besar, dari kegelisahan, dan lahir dari satu visi mengenai...
Komunitas sastra dan karya sastra merupakan satu rantai kebudayaan yang takdapat dipisahkan. Tidak ada yang lebih penting atau lebih tidak penting. Ketika salah satunya hilang, ra...
Seorang perempuan berjalan menunduk. Sekelilingnya sunyi, sawah sepi kini. Sendiri saja ia, dalam huma propaganda. Ia merindukan keriangan masa kanak-kanak. Di batas sunyi itulah,...
Tentunya masih teringat gelombang aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa di berbagai daerah yang puncaknya pada 24 September 2019. Khususnya di DKI Jakarta, mahasiswa bers...
Di mana puisi kita hari ini? Bagaimana bentuk puisinya ? Dari penyair seperti apa puisi tercipta ? Untuk apa puisi ? Apakah puisi mampu mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik...