Google Doodle Mengenang Benyamin Sueb
Hari ini Google Doodle merayakan seorang seniman besar dan sosok penting bagi budaya Betawi di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan, almarhum Benyamin Sueb. Sosok legendaris serba bi...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
Hari ini Google Doodle merayakan seorang seniman besar dan sosok penting bagi budaya Betawi di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan, almarhum Benyamin Sueb. Sosok legendaris serba bi...
Mitosnya, cinta pertama itu tidak terlupakan. Aku setuju. Ini adalah kali pertama aku jatuh cinta di usia 26 tahun. Banyak yang bilang alasanku baru membuka hati terbilang klise:...
Hari Raya Galungan kita dulu selalu jadi hari yang menggembirakan. Hari yang kita tunggu-tunggu. Bahkan hati kita sudah merasa berseri-seri sejak beberapa hari menjelang Galungan...
Nusa Penida (Klungkung, Bali) memiliki kuliner khas bernama ledok-ledok. Sejenis bubur yang berbumbu—dengan berbagai campuran bahan dasar seperti jagung, ketela pohon, sayur-sayur...
“Sore adalah waktu untuk berlari, menyehatkan tubuh dan menyegarkan kepala!” Kata-kata yang Grudug sampaikan pada orang tuanya itu sesungguhnya alasan nomor kedua, ketiga, atau ba...
Tulisan ini adalah respon akademis saya terhadap buku “Menjerat Gusdur” yang ditulis oleh Virdika Risky Utama. Ia merupakan alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri J...
Pelukis Ketut Teja Astawa (49) berpameran tunggal keenam yang bertajuk “Terbahak Kritis Estetis ala Teja Astawa”, Jumat (11/9/2020) bertempat di Galeri Zen1, Pertokoan Tuban Plaza...
Sering kali kita melewatkan fenomena menarik dan menakjubkan di sekitar kehidupan sehari-hari. Menemukan dan menyadari fenomena-fenomena yang unik dan mengesankan tersebut dapat m...
NASI MEN DARTA : Made Adnyana Ole Setelah kubaca sajak nasimu, ada ruang sempit bagi pengelana buat...
Matahari tepat berada di atas kepala. Jalan-jalan berdebu, pohon-pohon menari tertiup angin dan semua orang lalu lalang dengan memakai pelepah pisang agar panas itu tidak menyenga...