Sehat Jiwa untuk Semua
Sabtu 10 Oktober 2020 ini kita semua merayakan hari kesehatan jiwa sedunia, Tema perayaan tahun ini adalah “Kesehatan Jiwa untuk Semua, Investasi Lebih Besar – Akses Lebih Luas“....

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
Sabtu 10 Oktober 2020 ini kita semua merayakan hari kesehatan jiwa sedunia, Tema perayaan tahun ini adalah “Kesehatan Jiwa untuk Semua, Investasi Lebih Besar – Akses Lebih Luas“....
Raja Buleleng mengirimi Stamford Raffles seorang budak laki-laki umur 5 tahun bernama Ketut Jubeleng. Hati saya sedih memikirkan nasib Ketut Jubeleng. Saya pun memulai investig...
Kita takkan pernah tahu, kapan dan di mana hembusan nafas kita berakhir. Segalanya misteri abadi yang senantiasa disegani. Bahkan jika kematian itu dipersiapkan dan direncanakan s...
Pementasan tari bertajuk “Kenapa Legong” yang dibawakan oleh Komunitas Bumi Bajra Sandhi dalam kegiatan Panggung Seni Online Streaming pada Rabu, 30 September 2020, pukul 20.00 WI...
Di era 1990-an, kawan-kawan seniman dan seniwati di Jembrana atas prakarsa penyair legendaris Umbu Landu Paranggi rutin menggelar "Rajer Babat", akronimnya "Rembug Apresiasi Jembr...
Makhluk kursi adalah manusia yang tidak Iagi hadir atas namanya sendiri, tetapi pribadi makhluk kursi, sesuai dengan jenis kursinya. Meskipun namanya sama- sama kursi, ada seribu...
Pada hari Kamis (24/9), Komunitas Omah Laras tampil dengan sederhana di peringatan Hari Tani Nasional ke-60 di lapangan kebun Sorgum Dusun Sendang Pasir, Desa Pemuteran, Kecamatan...
Buku kumpulan cerpen “Sebab Cinta” karya Kadek Purnami diterbitkan ulang tahun 2020 setelah pertama kali terbit tahun 2012 dengan edisi yang terbatas. Bersamaan dengan itu, cerpen...
Hidup di desa kaki Batukaru sungguh bahagia. Apalagi bulan-bulan kemarau seperti saat ini walau sering diselingi hujan yang tumpah dari pendinginan awan di puncak. Tak ada yang pe...
Bumi dilanda masalah serius akibat aktivitas manusia. Masalah Perubahan iklim, degradasi lahan, pencemaran air tawar, penangkapan ikan berlebihan, kerawanan pangan, punahnya kerag...