Poleng | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
POLENG kembali ke desa setelah lebih dari dua bulan menghilang. Wajahnya pucat, tatapan matanya kosong dengan kantong mata hitam legam, serta langkahnya canggung mirip bebek berak...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
POLENG kembali ke desa setelah lebih dari dua bulan menghilang. Wajahnya pucat, tatapan matanya kosong dengan kantong mata hitam legam, serta langkahnya canggung mirip bebek berak...
PEMANDANGAN DI TERAS RUMAH TANGGA jiwa pernah kudengarsudah kau memeluk tubuhmu?kudengar orang mendengkursaat kau mengusap keringatmu24 jam buat berkelanadan lampu tidur tak pa...
MENJELANG Hari Suci Kuningan, nasi kuning menjadi bagian sajen yang wajib ada. Secara tradisional, nasi kuning untuk sajen dapat dibuat dari kunyit yang dilumatkan, dicampur minya...
JUMAT sore hingga malam, tepat sehari sebelum umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan, 2 Mei 2025, Bali gelap. Blackout. Tidak ada lampu jalan yang menyala, hanya ada sorotan laya...
KEBIJAKAN tarif resiprokal 32% yang diumumkan Presiden Donald Trump terhadap Indonesia pada April 2025 telah menciptakan gejolak ekonomi yang signifikan. Meskipun kemudian ditunda...
"Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan ya...
RUANG kreatif di The Ambengan Tenten (TAT), Denpasar-Bali, Kamis, 1 Mei 2025, tampak berbeda dari hari-hari biasa. Ruang itu didatangi para penggiat yoga atau pecinta spiritual, k...
Selamat Hari Buruh, Bapak! Kau Pahlawanku “Selamat Hari Buruh bagi siapa pun para tulang punggung yang terlihat rapuh!” BAGI banyak orang, Hari Buruh barangkali momen u...
NAMANYA Dodot Widiono. Dosen mata kuliah Komunikasi Tradisional yang sudah lebih dari 30 tahun mengabdi sebagai pengajar di perguruan tinggi. Mata kuliah itu sudah diampunya sejak...
SETIAP akhir bulan April dan awal bulan Mei (tahun 2000 – 2024) bagi warga etnis Baduy memiliki agenda khusus yang relatif tetap dan istimewa. Di jeda minggu tersebut Komunitas Ad...