Einstein dan Tagore: Pertemuan Sains dan Spiritualitas
ADA satu foto tua yang sering beredar di media sosial: Albert Einstein berjalan berdampingan dengan Rabindranath Tagore, penyair besar India. Einstein dengan jas abu-abu, rambut a...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
ADA satu foto tua yang sering beredar di media sosial: Albert Einstein berjalan berdampingan dengan Rabindranath Tagore, penyair besar India. Einstein dengan jas abu-abu, rambut a...
BEBERAPA hari lalu, saya menerima sebuah kiriman istimewa dari Bang Nestor Rico Tambunan: sebuah buku puisi yang langsung memanggil mata dan rasa sejak pertama disentuh. Sampulnya...
SIANG itu anak-anak mulai berdatangan ke Festival ke Uma V, di Subak Sidangrapuh, Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Tabanan, Minggu, 28 September 2025. Mereka datang bergerombo...
JIKA sakit dan perlu obat, maka pergilah ke dokter atau apotek.Demikianlah di jaman sekarang yang kita tahu solusi menuju jalan kesembuhan secara cepat. Tapi apakah ada jalan l...
Pariwisata di Tanah Air sedang tidak baik-baik saja. Bukan persoalan angka kunjungan wisatawan. Bukan pula tentang devisa negara yang diperoleh dari sektor pariwisata. Industri pa...
Isu pengakuan Palestina sering digambarkan sebagai persoalan moral dan kemanusiaan. Tapi mari jujur, bahwa politik internasional jarang sekali murni soal moral. Data penelitian ya...
BIJI Art Space ialah ruang jeda. Di luar, riuh lampu jalanan Ubud. Di dalam, sunyi yang berbicara. Pameran “Vivid Expression" (28 September – 16 Oktober 2025) menjanjikan spektrum...
SUASANA rumah sederhana milik keluarga Putu Arnaya (40) di Banjar Dinas Tamblingan Desa Munduk, Buleleng, setiap hari selalu dipenuhi kesibukan. Di ruang tamu yang beralaskan tika...
Di Rumah Berdaya Denpasar, seniman penyintas skizofrenia dan anggota Bali Five menampilkan karya mereka dalam pameran “Ekspresi Kebahagiaan”, membuktikan bahwa seni bukan sekadar...
(Dibacakan di Rumah Berdaya Denpasar, pada pembukaan pameran lukisan “Ekspresi Kebahagiaan, Sabtu 27 September 2025) Skizofrenia Suara-suara ituMakin menggangguAku tak paham...