'Scarborough Fair': Kehidupan Fana dan Cinta Sejati
Tentu saja, ini tentang "Scarborough Fair/Canticle," balada mengharukan dari Paul Simon dan Art Garfunkel. Sebuah folk-rock klasik tahun 1960-an yang liriknya setenang puisi: jern...

Jika menemukan lontar "longgar" aksaranya seperti dalam gambar di atas, antara aksara satu dengan lanjutannya dibiarkan terbuka, ini artinya saat menyalin lontar babonnya (sumbernya) telah rusak atau lobang tidak terbaca.
Penyalin konsisten menyalin dengan "melonggarkan" sebanyak berapa aksara tidak terbaca atau lobang.
Ada harapan nantinya kalau ketemu lontar-lontar sejenia bisa ditambahkan yang "longgar" tersebut sesuai acuan lontar yang sama.
Lontar longgar dalam foto ini adalah lontar sangat langka, mungkin satu-satunya lontar yang masih selamat berisi, tabik, Agastya Stawa. Satu lagi berisi Gayatri Mantra.
Kedua lontar longgar ini punya isi sangat penting.
— Sebab ada terdengar keraguan atau selentingan yang mempertanyakan: Apakah Gayatri Mantra itu ada di Nusantara secara utuh? Gayatri Mantra dalam Puja Trisandhya kita sekarang, dalam lontar ini, disebut sebagai SANG HYANG BRAHMA GAYATRI. Ada juga SIWA GAYATRI atau RUDRA GAYATRI. Setidaknya ada dua lontar kuno saya baca berisi Mantra Gayatri. Penelitian lain, Goudriaan and Hooykaas (1971), telah memberikan titik terang keberadaan Gayatri Mantra dari tradisi kuno Bali dan Jawa Kuno.
— Sementara itu, dengan ada stawa pada Rsi Agastya dengan bahasa Sanskerta sangat utuh dan gramatika luar biasa dalam lontar ini, bisa memunculkan pertanyaan: Apakah stawa ini warisan puja dari tradisi Prambanan? Medang Kemulan? Lontar salinan ini bisa jadi telah berusia 400 tahun. Jika demikian, tentunya, lontar yang disalin pasti dari abad-abad sebelum.
Lontar-lontar longgar seperti ini sangat menarik karena kita bisa melihat konsistensi penyalinannya, dan punya potensi kalau sumber atau babonnya dari masa silam yang jauh. [T]
Tentu saja, ini tentang "Scarborough Fair/Canticle," balada mengharukan dari Paul Simon dan Art Garfunkel. Sebuah folk-rock klasik tahun 1960-an yang liriknya setenang puisi: jern...
Konser Gamelan “Meraya Matra Manawa” yang digelar Institut Seni Indonesia (ISI) Bali dalam merayakan pengakuan UNESCO atas gamelan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia dimeriahk...
MELIHAT era revolusi industri 4.0 saat ini, salah satu perubahan yang saya rasakan yaitu masifnya penggunaan media digital. Hal tersebut dilandasi dengan perkembangan zaman dari m...
MEDIA sosial kini seperti napas kedua manusia modern. Dari bangun tidur hingga menjelang mata terpejam, layar ponsel menjadi cermin baru dunia kita. Setiap guliran jempol membuka...
GUNUNG Padang di Cianjur, Jawa Barat, kembali menjadi pusat perhatian publik. Renovasi dan penelitian lanjutan membuka kembali diskursus lama: apakah situs ini sekadar peninggalan...
MENJELANG senja di Hari Umanis Kuningan (sehari setelah Hari Kuningan), Minggu, 30 November 2025, suasana di Desa Blahkiuh, Badung berubah menjadi hiruk-pikuk yang penuh makna. Di...
Seorang Penggugat Sejarah Nama Erich von Däniken selalu memantik kontroversi. Sejak terbitnya Chariots of the Gods? (1968), ia tampil sebagai sosok yang menggugat sejarah resmi...
“Ape alih ade di Bali!” KALIMAT ini kerap terdengar dalam percakapan sehari-hari, juga berulang kali muncul di linimasa media sosial sepanjang tahun-tahun terakhir. Maknanya ku...
DI tengah pusaran arus perubahan zaman, umat Hindu berada pada sebuah persimpangan eksistensial yang ...
WAYAN Arnawa, selain menjadi seniman lukis, ia termasuk orang yang setia menjaga tradisi melukis wayang dengan media kaca di Desa Nagasepaha, Buleleng. Ia memang seniman lukisan w...