Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
---
Si Cantik Rengganis muncul dari toilet sekolah dengan tubuh telanjang sambil mengatakan sesuatu yang tak terpikirkan oleh siapa pun sebelumnya: dia mengaku diperkosa oleh anjing. Iya, anjing. Seekor anjing tiba-tiba menyergapnya di dalam toilet yang dikenal angker dan berhasil memperkosanya.
Semua orang heran menanggapi pengakuan itu. Antara percaya dan tidak. Orang tuanya berusaha mengorek keterangan yang sebenarnya, tapi Rengganis bersikukuh yang memperkosanya adalah seekor anjing. Pun ketika dia pada akhirnya hamil dan sampai melahirkan, pengakuannya tetap sama: anjing. Anjinglah yang merenggut kegadisannya.
Rengganis kemudian memilih kabur meninggalkan orang tuanya, dengan membawa bayinya (yang tentu saja utuh bayi manusia), saat hendak dinikahkan dengan pemuda yang siap menyelamatkannya dari rasa malu. Dia memilih pergi untuk kawin dengan anjing yang telah memperkosanya daripada menerima pinangan laki-laki itu.
Rengganis tak sendiri. Ratna di tempat lain, belasan tahun kemudian membuat pengakuan serupa. Dia hamil dan sontak babi menjadi pihak tertuduh atas kehamilannya. Ayahnya marah besar pada babi piaraannya dan berusaha menghajar babi itu. Peristiwa nyaris sama dilakukan ayah Rengganis dulu dengan membunuh anjing-anjing yang ditemuinya secara membabi-buta sebagai wujud balas dendam.
Respons ayah Ratna atas pengakuan putrinya itu tak berhenti sampai disana, dia bahkan berniat menikahkan putrinya dengan seekor babi. Upacara pun disiapkan layaknya sebuah pernikahan pada umumnya. Tekad ayahnya sudah bulat, menikahkan Ratna dengan babi yang telah menghamilinya dan membuat keluarganya malu.
Dua cerita tersebut bergerak pada kenyelenehan dan keliaran yang nyaris serupa. Rengganis dalam Cantik Itu Luka-nya Eka Kurniawan lebih dulu dikuatkan oleh mitologi Dewi Rengganis yang diceritakan memilih kawin dengan seekor anjing. Tapi pada akhirnya, pengakuan Rengganis dalam novel itu hanya sebatas muslihat untuk menyembunyikan sosok asli kekasihnya. Pembaca pun tahu, mitologi dicampuradukkan untuk membangun tipuan dalam mewujudkan kejutan.
Bagaimana dengan Ratna dalam novel Babi, Babi, Babi (Mahima, 2020) miliknya Putu Supartika? Tak ada mitos kawin dengan babi yang melatarbelakanginya lebih dulu. Tipuan untuk menggiring pembaca menebak-nebak kesungguhan pengakuan Ratna awalnya seolah-olah dibangun dari dugaan adanya kaul dari sang ibu untuk menghaturkan babi guling yang tak sanggup terbayarkan. Tapi sampai akhir pun nyatanya kita tidak melihat ini ada hubungannya. Setidaknya tidak secara tersurat.
Selintas juga benak kita dipenuhi dugaan lain: Ratna bermuslihat sama seperti Rengganis untuk menyembunyikan pelaku sebenarnya. Mengingatkan kita pada kasus-kasus pemerkosaan, phedofelia atau pun pelecehan seksual yang barangkali coba disinggung oleh Supartika, dimana korban seringkali ketakutan untuk mengungkapkan kebenaran. Tapi dugaan sekali lagi tetap hanya dugaan. Tak ada titik terang hingga akhir cerita yang menjawab dugaan itu. Bisa jadi Supartika memang sama sekali tak berniat menyinggung masalah itu.
Ah, sialan memang babi itu. Barangkali respons kita terhadap sebuah peristiwalah yang coba diekspose dan ditampilkan lewat Kondra, sang ayah. Ratna hanya menjerit histeris dan mengumpat babi! saat didesak oleh ayahnya. Seketika umpatan itu menyebabkan kehebohan karena kekeliruan Kondra dalam menanggapinya.
Barangkali, respons terhadap sebuah peristiwalah yang kemudian menggiring manusia-manusia pada tindakan-tindakan berikutnya. Yang seringkali tak terduga, liar, nyeleneh dan terkesan bermain-main. Termasuk juga reaksi-reaksi berupa kekerasan yang menyertainya kemudian.
Tapi benarkah kekeliruan sederhana seperti itu menjadi pijakan utama dalam lahirnya novel ini? Kekeliruan yang rasa-rasanya sangat menggelikan untuk dijadikan dasar peristiwa-peristiwa yang mengikutinya kemudian. Tidakkah kita juga bertanya-tanya kenapa Kondra sedemikian bodoh hanya karena anaknya mengumpat babi, lalu serta merta dia membuat kekeliruan dalam memberikan tanggapan?
Novel ini, dengan caranya sendiri, jauh lebih mengasyikkan dipandang dari sisi keberhasilannya mempermainkan respons kita dalam menanggapinya. Dia mengolok-ngolok sekaligus bermain-main dengan kita, antara bersedia mempercayainya atau tidak. Atau jangan-jangan kita sudah lama ikut-ikutan terjebak dalam kekeliruan-kekeliruan kecil macam Kondra.
Banyuning, 2020
DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang yang tampil saat itu. Sebagian direk...
PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini akrab melalui film animasi di layar televi...
SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) pada Selasa, 23 Juni 2026 didampingi gurunya, Mamiko Sensei. Ini adalah kunjungan...
GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi die-cast (mainan atau miniatur mobil) b...
SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut sebagai performative. Kita menonton dialog-dialo...
RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di atas panggung bertemu Sekaa Gong Kebyar Anak-Anak dari...
SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan Makan...
LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis di Universitas Gothenburg, Swedia itu m...
SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan membelah umbi gembili yang masih tertimbun tanah. Pat...
PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam sistem hukum...