17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Matahari terbit di ufuk timur. Sinarnya memeluk tubuh tanpa bertanya. Dan ini salah satu pertanda bahwa hari akan dimulai.
Sebagai manusia biasa yang tak luput dari dosa, rasa malas adalah hal yang wajar menyerang di pagi hari. Terutama bagi kaum rebahan alias kaum – kaum yang senang berdiam diri dikasur tanpa mengenal waktu sambil memainkan gadgetnya. Kebiasaan ini tentu buruk dari norma yang ada, tapi tetap dinikmati oleh pecintanya. Angan – angan, cita – cita, tujuan, harapan hanya akan jadi bayangan semu apabila rasa itu menyelimuti terus menerus. Maka, mari sudahi.
Bergegaslah menyambut hari baru dengan semangat baru. Walau segala aktivitas saat ini harus dilakukan dari rumah atau Bahasa kerennya adalah (Work From Home) termasuk sekolah dan kuliah tapi hal ini jangan sampai memutus rantai semangat dan kegigihan dalam meraih mimpi dan harapan.
Berbicara masalah harapan, mimpi, cita – cita dan tujuan. Setiap manusia mempunyai mimpi, harapan, tujuan dan cita – citanya masing – masing. Misal, ada yang sedari kecil bercita – cita menjadi dokter, ada yang saat ini mempunyai mimpi jadi pedagang sukses. Ada juga yang mempunyai tujuan agar mantan kekasihnya menyesal telah meninggalkannya dan ada pula yang berharap agar lekas bersama sang pujaan hati. Ups.
Memang benar apa yang dikatakan Giring Nidji dalam penggalan lagunya yang berjudul Laskar Pelangi yaitu “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia”. Sebelum menjadi seseorang yang berhasil, tentu harus memiliki tujuan, cita – cita, harapan dan mimpi ataupun sebuah perencanaan untuk kedepan sebagai pijakan melangkah. Perencanaan ini akan menjadi landasan dan sebuah cacatan dalam mewujudkan mimpi yang dibuat agar menjadi kenyataan.
Mewujudkan dan mengaktualisakikan mimpi atau harapan yang dibuat bukan sebuah perkara mudah. Bukan juga layaknya jalan tol yang lurus tanpa hambatan. Tapi lebih rumit dan berat dari apa yang dibayangkan. Layaknya mendaki sebuah gunung, dan gunung itu adalah gunung Mahameru. Untuk mencapai puncak, para pendaki harus melewati banyak rintangan. Optimis, kerja keras, ambisi, usaha, tenaga dan doa, semuanya dikerahkan demi mimpi itu terwujud.
Namun, manusia lupa. Ia hanya bermimpi yang indah – indahnya saja, berangan – angan pada kebahagiaan, sehingga ia lupa bahwa dibalik suka ada duka, mereka beriringan dan tak dapat dilepaskan. Ia lupa bahwa kehidupan adalah sebuah proses pembelajaran yang tiada henti. Proses pendewasaan bagi setiap manusia di bumi.
Tak jarang manusia sakit hati, putus asa dan ada pula yang sampai depresi saat mimpi yang ia buat tak terwujud atau melenceng dari perencanaan dan pijakan awal yang ia buat. Ini merupakan sebuah perencanaan yang tidak sesuai. Dalam hal ini, bukan mimpi atau harapan kita buat itu yang salah, melainkan ekspektasi kita terlalu tinggi yang tak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Bukan mimpi kita yang menyakiti kita, tapi ekspektasi yang kita buat sendirilah yang menyakiti diri, karena Kita hanya berpatokan pada kesenangan, dan kebahagiaan, lalu lupa akan kesedihan dan kekecewaan. Padahal mereka selalu berjalan beriringan. Seperti yang dikatakan oleh Cahyo Satria Wijaya dalam bukunya yang berjudul “You Are What You Think, You Are What You Believe” bahwa hidup tidak hanya hitam dan putih, namun penuh dengan beragam warna. Berbagai situasi dan kondisi hidup, entah itu senang, susah atau biasa –biasa aja semua harus bisa dan siap kita hadapi.
Pada saat adanya sebuah situasi yang tidak jelas arahnya, manusia cenderung menerka-nerka dan merajutnya sendiri akan seperti apa hasil dan keberhasilan yang ia dapatkan. Tak jarang ia menggantungkan ekspektasinya sangat tinggi untuk apa yang akan diraih. Dan saat hasilnya tidak sesuai dengan bayangan, maka ia akan hancur karena ekspektasi tidak sama dengan realita.
Dr. Gerard May dalam bukunya The Awakened Heart mengatakan bahwa harapan dan ekspektasi itu berbeda. Harapan merupakan sebuah pandangan umum memaknai suatu hasil yang dilihat dari berbagai sudut pandang, mulai dari kepentingan diri sendiri, melibatkan dan juga mempertimbangkan kepentingan orang disekitar yang tak terlepas dari kodrat manusia sebagai homosocius atau mahluk sosial.
Sedangkan ekspektasi lebih bersifat Egosentris. Buktinya saat kita berekspektasi, kita akan sulit untuk bisa merasionalkan kepentingan orang disekitar kita, padahal orang lain ini mungkin bisa menjadi factor penggagal dalam mencapai hasil yang diinginkan. Maka dari itu acapkali ekspektasi justru membawa kekecewaan karena kita seakan sedang menggunakan kacamata kuda.
Maka ketika kita ber-ekspektasi sebaiknya sewajarnya saja. Agar sakit yang ada nanti, tidak terlalu perih dihati ketika menghadapi sebuah realita. Dalam hal ini bukan berarti kita harus menghapus ekspektasi, namun kita harus banyak belajar bagaimana cara menyeimbangkannya dengan harapan dan pemikiran logis.
Sebagai manusia biasa, sedih, kekecewaan, patah hati, pengkhianatan, kebahagiaan, kesenangan adalah hal yang wajar dan harus siap dihadapi. Karena itu semua adalah proses. Proses menuju puncak keberhasilan. Harapan boleh tinggi, mimpi pun boleh melampaui tapi siapkan diri untuk sebuah proses dalam meraihnya. You will find your way, and never give up. [T]
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...