Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
Matahari terbit di ufuk timur. Sinarnya memeluk tubuh tanpa bertanya. Dan ini salah satu pertanda bahwa hari akan dimulai.
Sebagai manusia biasa yang tak luput dari dosa, rasa malas adalah hal yang wajar menyerang di pagi hari. Terutama bagi kaum rebahan alias kaum – kaum yang senang berdiam diri dikasur tanpa mengenal waktu sambil memainkan gadgetnya. Kebiasaan ini tentu buruk dari norma yang ada, tapi tetap dinikmati oleh pecintanya. Angan – angan, cita – cita, tujuan, harapan hanya akan jadi bayangan semu apabila rasa itu menyelimuti terus menerus. Maka, mari sudahi.
Bergegaslah menyambut hari baru dengan semangat baru. Walau segala aktivitas saat ini harus dilakukan dari rumah atau Bahasa kerennya adalah (Work From Home) termasuk sekolah dan kuliah tapi hal ini jangan sampai memutus rantai semangat dan kegigihan dalam meraih mimpi dan harapan.
Berbicara masalah harapan, mimpi, cita – cita dan tujuan. Setiap manusia mempunyai mimpi, harapan, tujuan dan cita – citanya masing – masing. Misal, ada yang sedari kecil bercita – cita menjadi dokter, ada yang saat ini mempunyai mimpi jadi pedagang sukses. Ada juga yang mempunyai tujuan agar mantan kekasihnya menyesal telah meninggalkannya dan ada pula yang berharap agar lekas bersama sang pujaan hati. Ups.
Memang benar apa yang dikatakan Giring Nidji dalam penggalan lagunya yang berjudul Laskar Pelangi yaitu “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia”. Sebelum menjadi seseorang yang berhasil, tentu harus memiliki tujuan, cita – cita, harapan dan mimpi ataupun sebuah perencanaan untuk kedepan sebagai pijakan melangkah. Perencanaan ini akan menjadi landasan dan sebuah cacatan dalam mewujudkan mimpi yang dibuat agar menjadi kenyataan.
Mewujudkan dan mengaktualisakikan mimpi atau harapan yang dibuat bukan sebuah perkara mudah. Bukan juga layaknya jalan tol yang lurus tanpa hambatan. Tapi lebih rumit dan berat dari apa yang dibayangkan. Layaknya mendaki sebuah gunung, dan gunung itu adalah gunung Mahameru. Untuk mencapai puncak, para pendaki harus melewati banyak rintangan. Optimis, kerja keras, ambisi, usaha, tenaga dan doa, semuanya dikerahkan demi mimpi itu terwujud.
Namun, manusia lupa. Ia hanya bermimpi yang indah – indahnya saja, berangan – angan pada kebahagiaan, sehingga ia lupa bahwa dibalik suka ada duka, mereka beriringan dan tak dapat dilepaskan. Ia lupa bahwa kehidupan adalah sebuah proses pembelajaran yang tiada henti. Proses pendewasaan bagi setiap manusia di bumi.
Tak jarang manusia sakit hati, putus asa dan ada pula yang sampai depresi saat mimpi yang ia buat tak terwujud atau melenceng dari perencanaan dan pijakan awal yang ia buat. Ini merupakan sebuah perencanaan yang tidak sesuai. Dalam hal ini, bukan mimpi atau harapan kita buat itu yang salah, melainkan ekspektasi kita terlalu tinggi yang tak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Bukan mimpi kita yang menyakiti kita, tapi ekspektasi yang kita buat sendirilah yang menyakiti diri, karena Kita hanya berpatokan pada kesenangan, dan kebahagiaan, lalu lupa akan kesedihan dan kekecewaan. Padahal mereka selalu berjalan beriringan. Seperti yang dikatakan oleh Cahyo Satria Wijaya dalam bukunya yang berjudul “You Are What You Think, You Are What You Believe” bahwa hidup tidak hanya hitam dan putih, namun penuh dengan beragam warna. Berbagai situasi dan kondisi hidup, entah itu senang, susah atau biasa –biasa aja semua harus bisa dan siap kita hadapi.
Pada saat adanya sebuah situasi yang tidak jelas arahnya, manusia cenderung menerka-nerka dan merajutnya sendiri akan seperti apa hasil dan keberhasilan yang ia dapatkan. Tak jarang ia menggantungkan ekspektasinya sangat tinggi untuk apa yang akan diraih. Dan saat hasilnya tidak sesuai dengan bayangan, maka ia akan hancur karena ekspektasi tidak sama dengan realita.
Dr. Gerard May dalam bukunya The Awakened Heart mengatakan bahwa harapan dan ekspektasi itu berbeda. Harapan merupakan sebuah pandangan umum memaknai suatu hasil yang dilihat dari berbagai sudut pandang, mulai dari kepentingan diri sendiri, melibatkan dan juga mempertimbangkan kepentingan orang disekitar yang tak terlepas dari kodrat manusia sebagai homosocius atau mahluk sosial.
Sedangkan ekspektasi lebih bersifat Egosentris. Buktinya saat kita berekspektasi, kita akan sulit untuk bisa merasionalkan kepentingan orang disekitar kita, padahal orang lain ini mungkin bisa menjadi factor penggagal dalam mencapai hasil yang diinginkan. Maka dari itu acapkali ekspektasi justru membawa kekecewaan karena kita seakan sedang menggunakan kacamata kuda.
Maka ketika kita ber-ekspektasi sebaiknya sewajarnya saja. Agar sakit yang ada nanti, tidak terlalu perih dihati ketika menghadapi sebuah realita. Dalam hal ini bukan berarti kita harus menghapus ekspektasi, namun kita harus banyak belajar bagaimana cara menyeimbangkannya dengan harapan dan pemikiran logis.
Sebagai manusia biasa, sedih, kekecewaan, patah hati, pengkhianatan, kebahagiaan, kesenangan adalah hal yang wajar dan harus siap dihadapi. Karena itu semua adalah proses. Proses menuju puncak keberhasilan. Harapan boleh tinggi, mimpi pun boleh melampaui tapi siapkan diri untuk sebuah proses dalam meraihnya. You will find your way, and never give up. [T]
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...