Dokter Gila --- Kumpulan Cerpen
Judul: Dokter Gila -- Kumpulan Cerpen Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Arya Nugraha ISBN: 978-623-98282-3-3 Tebal: 198 halaman Cetakan pertama:...
Sore itu di Kota Minyak - Balikpapan, aku dan kawan gilaku tengah menunggu sebuah kedai makanan sedang bersiap untuk buka. Kami berdua datang 40 menitan lebih cepat dari waktu buka kedai karena tempat satu ini terkenal selalu ramai bukan main. Datang di waktu buka malah memastikan kami hanya ileran karena kehabisan bagian.
Kedai bernama “Warung Sudi Mampir” itu menjual sop kaki dan sate kambing khas Betawi. Ini kedua kalinya kami kemari. Kawan gilaku membawaku ke sini dan menemaniku makan atas nama cinta saja. Sebab, dia kukenal sebagai orang yang sama sekali tidak suka daging kambing. Baginya, bau daging kambing selalu mengundang emosi dan mematikan selera. Sementara aku, aku adalah penggila daging kambing tanpa alasan pasti. Dan kedai satu ini, jujur saja merupakan salah satu yang terbaik dalam hidupku.
Setelah 15 menit mengantre dan 15 menit menunggu makanan siap, semangkuk sop kaki kambing dan sepiring sate kambing muda pun hadir di mejaku. Sembari menikmati sepotong kaki kambing yang direndam kuah susu serta sate kambing yang dilumuri kecap dan potongan bawang merah, tomat, serta cabe rawit; tanpa sadar aku merenung panjang.
Setiap perisa gurih dengan bau khas hewan kaki empat berjenggot itu masuk ke mulutku, dalam benak ternyata tengah berputar sebuah film lama. Film yang di dalamnya ada aku, orang tuaku, dan kedua abangku sedang semangat-semangatnya menyantap sop kaki dan sate kambing. Film yang dulunya merupakan kisah nyata yang sering sekali kami lakukan sebagai hiburan keluarga saat aku masih tinggal di Bali.
Dalam film itu, aku melihat ayah sedang berteriak memanggil pelayan dan menyebutkan pesanannya. Aku pun tersadar, sejak dulu tak sekalipun ayah bertanya kami mau pesan apa. Beliau langsung saja pesan soto kaki dan sate kambing masing-masing satu untuk anggota keluarganya. Kami pun tidak pernah menyesal dengan pesanannya karena memang apa yang beliau pesan, sudah pasti enak.
Film lama ini terus berputar di kepalaku, sampai-sampai aku tidak sadar bahwa aku mungkin mendiamkan kawan gilaku. Tapi, sekali lagi karena alasan cinta, dia tidak keberatan. Apalagi dia memang senang melihatku menikmati makanan dengan lahap. Demi cinta pula dia tidak masalah jika setelah ini bibirnya yang kulumat akan menjadi satu rasa dan aroma dengan sop dan sate kambing ini.
Film yang memutar masa lalu tadi juga membuatku kepikiran soal ayah. Sop dan sate kambing khas Betawi adalah makanan yang paling ayahku suka. Ayahku adalah seorang yang suka sekali mengenalkan apa yang disukainya kepada keluarga. Bahkan beliau sering tak tahu waktu jika ingin mengajak kami memanjakan lidah dan mengenyangkan perut. Tengah malam siap, pagi buta ayo, siang bolong tak masalah, selepas magrib pun jadilah! Tak kira-kira, beliau pun siap menempuh perjalanan lintas kota hanya untuk berburu makanan kesukaannya ini.
Hal yang lebih menarik lagi, “Warung Sudi Mampir” yang ada di Kota Minyak ini memiliki nama yang sama persis dengan kedai langganan kami sekeluarga di Bali. Rasa makanannya pun tidak ada bedanya dengan warung langganan yang terletak di pinggir kandang kuda tersebut. Mungkin itu juga yang membuatku semakin bernostalgia.
Hari itu, aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku bukanlah penggila daging kambing. Aku bukan rindu makan sop kaki dan sate kambing yang enak. Apa yang kusukai dan kurindukan dari makan kuliner khas Betawi ini adalah kenangannya.
Hari itu aku juga semakin meyakini. Bahwa makanan dicintai bukan sekadar karena rasa enak, melainkan karena cerita lamanya. [T]
Judul: Dokter Gila -- Kumpulan Cerpen Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Arya Nugraha ISBN: 978-623-98282-3-3 Tebal: 198 halaman Cetakan pertama:...
YADNYA dalam arti sederhananya adalah persembahan suci, persembahan yang dilakukan dengan dasar kesucian. Landasannya adalah kitab suci, dibuat dan dihaturkan oleh orang suci, dip...
DI sudut Perumnas Lambang, Kota Pariaman, Sumatera Barat, deretan rumah sederhana berdiri rapat seperti sahabat yang saling menopang. Jalan sempit yang menjadi penghubung antarblo...
DALAM sejarah pemikiran kontemporer, jarang sekali seorang ilmuwan fisika sistem dan seorang pakar hukum Indonesia berdialog melalui karya, pikiran, dan semangat zamannya. Namun i...
DALAM riuh-rendah persiapan Galungan dan Kuningan, ketika janur mulai ditata, banten dirangkai, dan aroma dupa memenuhi udara, saya selalu merasa ada ruang batin yang diam-diam me...
SUASANA Pura Segara, Desa Adat Buleleng, Minggu malam, 16 November 2025, dipenuhi semangat ngayah ketika STT Yowana Taruna Wirahita Banjar Jawa menampilkan sesolahan tari dalam ra...
UDARA Makassar terasa lembab siang itu ketika roda pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Saya menjejakkan kaki dengan rasa yang selalu sama: rindu pada tanah Sulawesi. Ka...
SEMANGAT membaca kini hadir di ruang komunitas yang terbuka untuk umum, bukan hanya di sekolah. Salah satunya adalah Bilik Senyawa, sebuah lapak literasi yang hadir setiap minggu...
“Melalui momentum ini, Bali ikut mengangklungkan dunia dan menduniakan angklung.” Begitu kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha saat peraya...
DI tengah riuh budaya nongkrong anak muda, cafe steva hadir sebagai ruang sunyi berbicara lewat aroma kopi dan rak buku di sudut ruangan. Bagi penulis Boy Candra, tempat ini bukan...