Ini adalah buku kumpulan cerita pendek yang barangkali sedikit berbeda dari buku-buku kumpulan cerpen yang sudah-sudah—yang ditulis seorang sastrawan-cerpenis atau orang-orang yang memang bergelut-intens di dunia tersebut. Buku ini ditulis oleh seorang dokter spesialis penyakit dalam yang nyaris tak pernah penuh dalam belajar dan bergaul dengan wacana-wacana atau pelaku-pelaku sastra—walaupun ia, penulis, memang pembaca sastra yang tekun.
Putu Arya Nugraha sepertinya memang menambah daftar nama dokter yang menulis sastra. Meski, tentu saja, Dokter Arya harus dibedakan dengan dokter-dokter lain yang sejak awal memang belajar dan menekuni dunia sastra. Ya, dalam dunia sastra, bisa dibilang, Dokter Arya baru belajar menulis cerpen belakangan ini. Awalnya ia menulis esai—dan barang tentu juga banyak menulis resep obat.
Cerpen-cerpen Dokter Arya tak jauh-jauh dari profesinya sebagai tenaga kesehatan, memang. Ia bercerita tentang seorang dokter idealis yang mengajar di kampus dengan rektor dan dekan yang korup; ia menulis seorang pemuda gila yang becita-cita menjadi dokter; ia berkisah tentang dokter yang memiliki sikap dan pemikiran yang “gila”; ia menyurat kisah dokter yang mengabdi di pedalaman Kalimantan; pula ia membabar hubungan asmara antara pasien dengan dokter yang tak dapat dihindarkan.
Tetapi, beberapa cerpen dalam buku ini juga bercerita tentang apa-apa yang ada di luar serba-serbi ke-dokter-an. Misalnya, Dokter Arya menulis tentang seorang gadis yang dihamili Lembu, atau buruh pemetik cengkeh yang patah hati dengan seorang pelacur, juga kisah-kisah cinta picisan layaknya cerita di majalah remaja. Selain itu, Dokter Arya juga menulis cerpen imajinatif seorang pemuda yang bertemu dan bercinta dengan gadis alien dari galaksi lain, pula kegelisahannya akan tradisi konservatif pernikahan antarkasta di Bali.
Jika mau menilik lebih dalam 14 cerpen yang tertuang dalam buku ini, Anda akan melihat sikap Dokter Arya terhadap banyak hal, mulai dari bagaimana seharusnya dokter berpikir dan bekerja, masyarakat yang seharusnya berpikiran rasional akan penyakit, sampai soal lingkungan dan hal-hal yang ideal lainnya—yang semakin menebalkan bahwa Dokter Arya tampaknya memang gelisah terhadap banyak hal, tak hanya satu dunia kedokteran belaka.
Ya, kami yakin, sikap semacam ini mustahil lahir dari seorang dokter yang hanya fokus pada profesinya saja—atau dokter yang terlalu egois dengan tidak memikirkan hal ikhwah sekitarnya—, tapi lahir dari sosok dokter yang memang belajar dan peduli akan banyak hal di luar dunia (dirinya) yang ia tekuni. Dan benar, Dokter Arya memang senang mengamati dan belajar banyak hal, termasuk sastra dan serba-serbinya. Ini bisa Anda ketahui lewat tulisan-tulisannya yang lebih dulu terbit.
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...