Kusamba, kini, sebuah desa yang tentram. Banyak dilintasi kendaraan. Walau demikian deru yang terus berpacu tidak mengusik ketenangan desa ini. Tidak membuat gaduh suasana yang terentang sepanjang desa Kusamba.
Jalan
aspal membujur dari barat ke timur. Di kiri kananya, rumah berjajar. Di
antaranya, ada Balai Banjar, ada Pura, ada juga kantor Kepala Desa Kusamba.
Selain jalan ini, ada dua jalan menuju pantai. Di mana laut selatan membentang
luas. Ombaknya menderu berlomba melaju menuju pantai berpasir hitam.
Desa
pesisir ini, di zaman Ida I Dewa Agung Istri Kania, merupakan bandar. Bandar
dari kerajaan Klungkung. Bandar yang merupakan sumber penambah pundi-pundi
Kerajaan Klungkung. Dalam istilah ekonomi, bandar yang menjadi sumber
investasi. Tentu investasi Kerajaan Klungkung. Yang penggunaannya diarahkan
membangun dan menyejahterakan rakyat.
Sebagai
bandar, ke desa ini pasti banyak berdatangan penjual yang menyandarkan kapal
barangnya di dermaga. Banyak pula berdatangan para pembeli yang bertolak
setelah membayar barang-barang dan hasil bumi. Maka peristiwa bisnis, setiap
hari berlangsung. Pembauran pun tidak bisa dihindari. Semula perbauran antar
suku bangsa. Tak menutup kemungkinan terjadi pembauran budaya.
Pada
masa yang sama, Kusamba juga menjadi tempat berlangsungnya peristiwa heroik.
Peristiwa mempertahankan tanah air dari jarahan Belanda yang datang untuk
menaklukkan dan menjajah dalam segala bidang. Yang memimpin perjuangan ini Ida
I Dewa Agung Istri Kania selaku pucuk Kerajaan Klungkung.
Sebagaimana
perang, kecamuknya pasti dahsyat. Dentuman meriam, teriakan dan sorak sorai
pasukan, bersatu menjadi gema permusuhan dua seteru. Acungan senjata api,
acungan keris dan tombak, desingan peluru, hujaman keras pada badan bergerak
dalam laju tak bisa dibendung.
Sebagaimana
perang rasa takut tak ada dalam kamus hati yang bertempur. Keberanian untuk
menunjukkan diri sebagai kesatria medan laga tumbuh terus di dalam jiwa yang
berperang. Kata kalah tak dibiarkan ada. Kata menang ditumbuhkan terus sepanjang
kecamuk pertempuran. Dan keyakinan menang terus dijulangkan sebagai api
pembakar semangat nan tak kunjung padam.
Sebagaimana
perang, pasti ada yang gugur. Dan yang gugur terpejam abadi di pangkuan bumi.
Bersimbah darah yang mengalir dari raga yang berlobang dan tumbang.
Walau
perang ini tidak lama, tetapi nyaris meruntuhkan moral pasukan Belanda. Karena,
dalam perang ini, pimpinan pasukan Belanda, Jendral Michiels mati terbunuh.
Menemui ajalnya ditikam keris I Dewa Ketut Agung dalam serangan mendadak yang
dilakukan malam hari.
Dua
tanda sejarah di atas, bukti yang tak bisa ditolak, Kusamba merupakan wilayah
yang dilintasi sejarah. Sejarah sentra sekaligus pusat perekonomian yang
membangun denyut nadi kehidupan Kerajaan Klungkung. Juga, sejarah yang berwujud
perjuangan bangsa.
Dua
tanda sejarah ini, sangat unik. Unik, karena lokasi sejarah yang mengarah pada
perekonomian dan perjuangan, khususnya di Bali, tidak ada. Unik, karena, jika
dimaknai, dua hal ini bertentangan. Perekonomian mengarah pada tujuan mencari
materi, khususnya uang. Hal yang mengacu pada yang berbau idealis tidak ada. Pamrih
untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya lebih dikedepankan. Bahkan lebih
diutamakan. Resiko, sebisa mungkin dihindari. Peristiwa kedua, hal yang berbau
idealis sangat diutamakan. Tanpa ditunjang idealis semangat patriotis akan
lembek. Tidak ada pamrih untuk meraih keuntungan berupa materi. Termasuk uang
di dalamnya. Tidak menghindar dari resiko. Walau resiko itu, berujung pada
kematian. Tak ada rasa takut. Tak ada perasaan gentar untuk maju terus. Untuk
pantang mundur, walau setapak.
Sekali
lagi, fakta sejarah berkata: Kusamba lokasi unik tempat tergelarnya fenomena
histori. Fenomena histori tak bisa disambung menjadi satu kesatuan momentum.
Tetapi bisa disatukan, menjadi untuk kesekian kalinya peristiwa sejarah.
Waktu berlalu. Berlalu pula peristiwa itu digeser oleh peristiwa-peristiwa lain. Apakah peristiwa ideologi, politik, budaya, sosial, ataukah peristiwa lain yang akan muncul. Sehubungan dengan ini, muncul pertanyaan, adakah di benak generasi milenial dua peristiwa bersejarah itu, yang menjadi tanda sejarah khas Kusamba, tetap terpateri. Ataukah menyelinap ke balik ingatan menjadi satu kata: lupa? Waktu juga yang akan menjawab. [T]