Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Kusamba, kini, sebuah desa yang tentram. Banyak dilintasi kendaraan. Walau demikian deru yang terus berpacu tidak mengusik ketenangan desa ini. Tidak membuat gaduh suasana yang terentang sepanjang desa Kusamba.
Jalan aspal membujur dari barat ke timur. Di kiri kananya, rumah berjajar. Di antaranya, ada Balai Banjar, ada Pura, ada juga kantor Kepala Desa Kusamba. Selain jalan ini, ada dua jalan menuju pantai. Di mana laut selatan membentang luas. Ombaknya menderu berlomba melaju menuju pantai berpasir hitam.
Desa pesisir ini, di zaman Ida I Dewa Agung Istri Kania, merupakan bandar. Bandar dari kerajaan Klungkung. Bandar yang merupakan sumber penambah pundi-pundi Kerajaan Klungkung. Dalam istilah ekonomi, bandar yang menjadi sumber investasi. Tentu investasi Kerajaan Klungkung. Yang penggunaannya diarahkan membangun dan menyejahterakan rakyat.
Sebagai bandar, ke desa ini pasti banyak berdatangan penjual yang menyandarkan kapal barangnya di dermaga. Banyak pula berdatangan para pembeli yang bertolak setelah membayar barang-barang dan hasil bumi. Maka peristiwa bisnis, setiap hari berlangsung. Pembauran pun tidak bisa dihindari. Semula perbauran antar suku bangsa. Tak menutup kemungkinan terjadi pembauran budaya.
Pada masa yang sama, Kusamba juga menjadi tempat berlangsungnya peristiwa heroik. Peristiwa mempertahankan tanah air dari jarahan Belanda yang datang untuk menaklukkan dan menjajah dalam segala bidang. Yang memimpin perjuangan ini Ida I Dewa Agung Istri Kania selaku pucuk Kerajaan Klungkung.
Sebagaimana perang, kecamuknya pasti dahsyat. Dentuman meriam, teriakan dan sorak sorai pasukan, bersatu menjadi gema permusuhan dua seteru. Acungan senjata api, acungan keris dan tombak, desingan peluru, hujaman keras pada badan bergerak dalam laju tak bisa dibendung.
Sebagaimana perang rasa takut tak ada dalam kamus hati yang bertempur. Keberanian untuk menunjukkan diri sebagai kesatria medan laga tumbuh terus di dalam jiwa yang berperang. Kata kalah tak dibiarkan ada. Kata menang ditumbuhkan terus sepanjang kecamuk pertempuran. Dan keyakinan menang terus dijulangkan sebagai api pembakar semangat nan tak kunjung padam.
Sebagaimana perang, pasti ada yang gugur. Dan yang gugur terpejam abadi di pangkuan bumi. Bersimbah darah yang mengalir dari raga yang berlobang dan tumbang.
Walau perang ini tidak lama, tetapi nyaris meruntuhkan moral pasukan Belanda. Karena, dalam perang ini, pimpinan pasukan Belanda, Jendral Michiels mati terbunuh. Menemui ajalnya ditikam keris I Dewa Ketut Agung dalam serangan mendadak yang dilakukan malam hari.
Dua tanda sejarah di atas, bukti yang tak bisa ditolak, Kusamba merupakan wilayah yang dilintasi sejarah. Sejarah sentra sekaligus pusat perekonomian yang membangun denyut nadi kehidupan Kerajaan Klungkung. Juga, sejarah yang berwujud perjuangan bangsa.
Dua tanda sejarah ini, sangat unik. Unik, karena lokasi sejarah yang mengarah pada perekonomian dan perjuangan, khususnya di Bali, tidak ada. Unik, karena, jika dimaknai, dua hal ini bertentangan. Perekonomian mengarah pada tujuan mencari materi, khususnya uang. Hal yang mengacu pada yang berbau idealis tidak ada. Pamrih untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya lebih dikedepankan. Bahkan lebih diutamakan. Resiko, sebisa mungkin dihindari. Peristiwa kedua, hal yang berbau idealis sangat diutamakan. Tanpa ditunjang idealis semangat patriotis akan lembek. Tidak ada pamrih untuk meraih keuntungan berupa materi. Termasuk uang di dalamnya. Tidak menghindar dari resiko. Walau resiko itu, berujung pada kematian. Tak ada rasa takut. Tak ada perasaan gentar untuk maju terus. Untuk pantang mundur, walau setapak.
Sekali lagi, fakta sejarah berkata: Kusamba lokasi unik tempat tergelarnya fenomena histori. Fenomena histori tak bisa disambung menjadi satu kesatuan momentum. Tetapi bisa disatukan, menjadi untuk kesekian kalinya peristiwa sejarah.
Waktu berlalu. Berlalu pula peristiwa itu digeser oleh peristiwa-peristiwa lain. Apakah peristiwa ideologi, politik, budaya, sosial, ataukah peristiwa lain yang akan muncul. Sehubungan dengan ini, muncul pertanyaan, adakah di benak generasi milenial dua peristiwa bersejarah itu, yang menjadi tanda sejarah khas Kusamba, tetap terpateri. Ataukah menyelinap ke balik ingatan menjadi satu kata: lupa? Waktu juga yang akan menjawab. [T]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...