Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...

Semenjak Ir. H. Joko Widodo (Presiden RI) mengumumkan orang yang teridentifikasi Coronaviruses Disease (COVID-19) ke khalayak publik, dan himbauan Social Distancing yang belakangan diganti istilahnya menjadi Physical Distancing digaung-gaungkan oleh pemerintah dan banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hampir semua aktivitas yang mulanya tidak bisa dikerjakan di rumah harus dikerjakan di rumah untuk memutus persebaran COVID-19 ini.
Banyak yang merasa senang karena memiliki banyak waktu untuk keluarga di rumah, tetapi banyak pula yang merasa kebingungan karena tak banyak atau bahkan tak biasa untuk beraktivitas di rumah. Salah satunya saya.
Kehilangan motivasi untuk melakukan suatu hal yang biasa saya lakukan tentu sungguh tidak nyaman untuk dirasakan. Apalagi merasa diri tidak produktif seperti biasanya, membuat pikiran kemana-mana dan berujung pada frustrasi. Dengan banyaknya waktu #dirumahaja membuat saya berpikir untuk memanfaatkan waktu yang ada untuk menghabiskan bahan bacaan yang sejak lama tertumpuk dan terlupakan.
Salah satu buku yang sempat terlupakan untuk saya baca adalah buku karangan dari Simon Sinek, sosok yang sangat optimis bahwa terdapat masa depan cerah bagi semua orang ini berhasil menginspirasi banyak orang, setidaknya saya sendiri melalui bukunya yang berjudul “Start With Why” yang terbit pertama kali pada Juni 2019 dan sudah mencapai cetakan ketiga pada bulan September 2019. Waktu yang relatif singkat ini membuktikan bahwa buku ini laris di pasaran dan tentunya membawa banyak manfaat bagi pembacanya.
Buku yang memiliki desain sampul dengan dominasi warna putih dengan tulisan menggunakan huruf kapital berwarna merah menyala yang menunjukkan judul dari buku ini berhasil meyakinkan calon pembacanya untuk membeli buku yang masuk dalam genre self improvement ini. Buku yang memiliki ketebalan ± 368 halaman ini dibanderol dengan harga Rp100.000,00., harga yang lumayan mahal tapi setimpal dengan ilmu yang kita dapat setelah membaca buku ini.
Setelah membaca buku ini, ada beberapa poin penting yang saya dapat tangkap dari keseluruhan isi buku ini. Pertama, buku ini mengajarkan kita bagaimana bersikap menjadi seorang pemimpin yang disegani bukan karena posisi kita saja melainkan disegani dan dihormati karena perilaku kita kepada anggota atau bawahan. Sehingga attitude sangatlah penting untuk diperhatikan oleh pemimpin.
Kedua, sebagai pemimpin kita harus sadari bahwa strategi untuk memuluskan jalan organisasi atau perusahaan untuk mencapai tujuannya sangatlah penting. Dan lebih penting lagi adalah konsisten untuk memperlihatkan tujuan besar atau ceruk/fetish (isu perjuangan) organisasi atau perusahaan yang kita sedang jalankan kepada khalayak ramai. Inilah yang dalam buku ini disebut dengan “MENGAPA”.
Terakhir, yang paling penting adalah kita mesti tahu dan paham tentang istilah “Lingkaran Emas” yang berisikan tiga hal yaitu, Mengapa, Bagaimana, dan Apa. Untuk mengetahui apa itu Mengapa, Bagaimana, dan Apa ada baiknya kalian langsung membaca buku ini secara langsung. Karena tentu saja perspektif setiap orang setelah membaca buku ini akan berbeda-beda.
Attitude atau perilaku, strategi dan konsistensi, serta membawa isu perjuangan dalam perjalanan membangun sebuah organisasi atau perusahaan tentu sangat penting seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf sebelumnya. Namun, ada satu hal lagi yang bisa kita petik dari buku “Start With Why” ini adalah mampu menanamkan nilai-nilai dasar perjuangan kepada generasi selanjutnya. Kenapa hal ini penting untuk diketahui dan dilakukan? Banyak sekali organisasi atau perusahaan yang gagal bahkan tidak digandrungi oleh peminatnya, padahal organisasi atau perusahaan secara fisik masihlah sama.
Hal yang membikin berbeda adalah isu perjuangan atau tujuan besarnya sudah tak terlihat dari apa yang dilakukan oleh organisasi atau perusahaan setelah sang penggagas menghilang. Entah keluar atau meninggal dunia. Maka dari itu, menjadi penting bagi seorang pemimpin untuk menanamkan nilai-nilai perjuangan atau isu perjuangan yang dibawa oleh organisasi atau perusahaan sehingga generasi penerusnya tak lupa tentang tujuan awal dibangunnya organisasi atau perusahaan. Dengan kesadaran tersebutlah organisasi atau perusahaan dapat menghindarkan diri dari “keterpisahan” antara Mengapa dan Apa yang mereka buat.
Saya sengaja hanya menuliskan beberapa hal tentang buku ini agar kalian menjadi penasaran dan memiliki niat untuk membaca buku ini. Karena Simon Sinek memiliki pemikiran sederhana, tetapi sangat efektif jika kita terapkan dalam berbagai bidang, dan “Lingkaran Emas” adalah jawabannya. Selamat membaca sahabat.[T]
Denpasar, 6 April 2020
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...